Greeting From Bromo Base

Peace. May God bestow the blessings of salvation to all of us

Welcome to my blog. It's my world... Selamat datang di blog saya...

This blog is containing my personal views, opinions and life experiences. It’s about some thoughts on social order, culture, politics, government, education and self development. All of which is related. Anyone can read this blog. I would like to share with you...

Saya Wawan, tinggal di Probolinggo, sebuah kota di Jawa Timur, Indonesia. Berdekatan dengan Gunung Bromo dengan panorama yang khas dan eksotik serta masyarakat Tengger yang unik, Probolinggo merupakan daerah menarik. Dari sudut kecil inilah saya ingin berbagi informasi dan pengalaman dengan saudara. Tentang pengembangan diri, pendidikan, budaya, politik, pemerintahan, pemilu dan ihwal terkait yang berhubungan dengan kehidupan kita. Saya sangat senang jika ada feedback dari Saudara.

Blakrakan saya di Dewan Pendidikan, Forum Tapal Kuda, KPU, Yayasan Wahana, juga di lembaga kajian sosial di Jawa Timur, Miracle Ways dan corat-coret saya di blog ini mungkin dapat mengajari saya tentang kehidupan. Hal mana yang saya perkenalkan kepada anak-anak saya, para Nikkolai dan anak-anak orang lain (yang mau).

Jika Saudara suka, silakan tour di blog saya. Dan jika Saudara mau, silakan gunakan artikel blog ini asalkan cantumkan sumber link-nya ya... Juga ebook yang ada di bagian akhir postingan, boleh kok diunduh.

Best regards,
Wawan E. Kuswandoro

Ingin berlangganan artikel blog ini? Masukkan alamat email Anda:

Delivered by FeedBurner

Sekolah-Menulis Online

Thursday, February 12, 2009

Wawancara Tersulit

Bagi saya, wawancara paling sulit adalah untuk keperluan dibaca anak-anak. Sungguh. Ketika anak-anak yang sedang belajar itu mendatangi saya (melalui anak saya, teman mereka) untuk keperluan yang bagi banyak orang sepele: mading sekolah! Materi yang diajukan pun "sepele" juga: seputar peran televisi dalam peningkatan mutu pendidikan. Duh! Justru inilah sumber malapetakanya. Dan ekspresi polos khas anak-anak yang terpancar dalam daftar pertanyaan itu justru membuatku tersentuh. Karena gini lho sobat: jika mereka, anak-anak salah nafsir, celaka. Seumur-umur mereka tersesatkan olehku! Saya lebih nyantai diwawancarai oleh media massa apa aja, baik TV, radio maupun koran terkait dengan pendidikan maupun penyelenggaraan pemilu ato apa aja yang terkait dengan apa-apa yang kulakukan. Sebab, ketika saya salah bicara misalnya, paling banter saya dianggap bego dan nggak ngefek kepada khalayak. Mereka dah pada tahu kalo saya salah. Tapi jika saya salah ngomong di depan anak-anak: seumur-umur mereka akan tersesat otaknya! Kan fatal. Belum lagi kesesatan pikir itu kelak bakal nular ke teman-teman mereka yang lain, ke adik-adik mereka, ke anak-anak mereka kelak.. dst... duh kebayang gak sih dosa turun temurun (iih.. warisan kok dosa sich.. kan mendingan bakso aja.. lhoh ngawur juga).

Nih ceritanya anak-anak SMPN I SBI tu mau ngisi mading (tumben juga mereka nanya saya), dan pasti dibaca minimal anak se-sekolah itu. Na.. saya jadi punya peluang untuk menyesatkan 300-an anak (jika mereka tersesat semua dan nular ke anak-anak mereka... kemudian anak-anak mereka juga tersesat dan menularkan ke anak-anak mereka lagi... terus... halah wis!).

Ini petikan materi wawancara dimaksud:

1. Tanya: Menurut Bapak, apakah televisi berperan dalam peningkatan mutu pendidikan?

Jawab: yang benar adalah bahwa televisi (media massa) memiliki pengaruh yang sangat besar kepada masyarakat dan merupakan lembaga penting dalam membentuk masyarakat. Dalam meningkatkan mutu pendidikan, saya tidak yakin bisa. Justru malah mengacaukan.

2. Tanya: Apa saja peranan tersebut?

Jawab: Peranannya adalah: menjajakan budaya konsumtivisme, kekerasan dan erotisme.

3. Tanya: Menurut Bapak, acara televisi seperti apa yang mendidik?

Jawab: pertama, sepakati dulu definisi ‘mendidik’. Jika dibayangkan acara yang mendidik itu adalah yang berisi kegiatan seperti di sekolah: ada tayangan anak sedang belajar, dsb., maka yang begitu ya tentu tidak ada karena tidak akan laku. Kalaupun ada yang mau nonton, pasti jumlahnya sedikit (kalian mau gak nonton acara TV yang isinya tayangan anak sedang belajar di dalam kelas? Bukan film lho tapi betulan). Sebagai contoh, TPI yang sejak awal berdirinya (sekitar tahun 1990-an) mengklaim diri sebagai televisi pendidikan, membuat mata acara pendidikan dalam arti sebenarnya sejak pukul 05.30 WIB (karenanya dulu digelari Tivi Paling Isuk), yakni tayangan anak sekolah berikut pelajarannya. Alhasil, nggak bertahan lama, acara itu bubar (dan perusahaan TV sangat paham kenapa suatu acara dibubarkan!). Dan jika dibayangkan ‘mendidik’ itu dalam arti luas dan dikemas dalam acara TV secara samar, maka perusahaan TV tidak akan gila mau mempertaruhkan perusahaannya! Acara TV seperti apa yang mendidik? Oops wait, sebelumnya mari kita kenali dulu dunia pertelevisian, supaya kita tidak “tertipu”. Televisi sebagai perusahaan tentunya kan ingin terus beroperasi tuh perusahaannya, kan gak mungkin dia pengen cepet bangkrut. Makanya dia perlu iklan, sponsor, supaya ada pemasukan dan siaran terus, dan kalian bisa terus nongkrongin TV. Na, kalo dah gini, siarannya kudu segendang sepenarian sama sponsor yang pasang iklan tadi. Dan sponsor atau pengiklan kan macem-macem tu kemauannya. Mana mau kalo siaran pendidikan seperti yang kalian bayangin. Kedua, televisi sebagai media informasi (tayangannya) kan perlu ditonton banyak orang supaya iklan mau masuk. Seberapa banyak sih TV itu ditonton orang? Ini namanya rating. Na.. biar ditonton banyak orang (supaya iklan mau masuk) siarannya kudu segendang sepenarian pula sama selera pemirsanya (masyarakat Indonesia). Contoh, kalo masyarakat kita gak suka (bahkan mungkin gak ngerti) operet, ya jangan nekad bikin tayangan operet, dijamin gak bakalan ditonton orang, kecuali panitia penyelenggara operet itu mbayar ke stasiun TV, dianggap iklan gitu. Jika televisi sepi pemirsa, maka iklan (yang menjadi sumber pendapatan sang TV), akan ngacir juga. Ini repotnya. Jadi, mau gak mau, televisi akan patuh sama selera pemirsa dan selera sponsor! Na.. sekarang ini, kalian kan tahu… yang lagi laris kan tayangan hantu, komedi ama klenik dan kesaktian, disamping reality show. Mana ada yang nayangin katakanlah (contoh aja) sinetron yang patut dicontoh atau diambil hikmahnya. Biasanya acara yang ada muatan pendidikannya cenderung “kering” dan kurang enak ditonton. Kan lain sama tayangan yang “asyik-asyik” itu : film pacaran, dsb. Tapi jangan salah, sebenarnya bisa juga lho, sinetron pacaran dijadikan bahan pendidikan. Anak-anak seusia kalian kan paling suka film macam gitu, na.. itu target empuk bagi mereka yang ingin “berkampanye pendidikan” melalui film remaja (pesan kan harus sampai kepada penerimanya, ya lewat sarana yang disukai: film remaja). Juga, kalian kan perlu banyak belajar “dunia remaja” yang bener. Tayangan TV (tapi yang bener) sebetulnya bisa, namun sayangnya tidak banyak yang demikian. Kebanyakan ya jenis horor, kekerasan dkk tadi itu. Rumusnya: yang penting laku. Jadi di sini berlaku hukum ekonomi supply and demand (dah tahu belom?). Acara yang mendidik adalah acara yang jika kalian tonton, kalian jadi bergairah untuk berbuat baik. Tetapi hati-hati ya. Karena, jajak pendapat Harian KOMPAS (2003) menyimpulkan, “televisi dinilai dapat menggiring public untuk berada dalam posisi menerima semua sensasi mimpi dalam dunia sinetron, kekerasan dan erotisme yang menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan”. Lebih jauh, dalam penelitian itu, sebagian besar responden membenarkan, televisi cenderung mementingkan aspek komersial.

Jika kalian suka nonton TV = menyediakan otak kalian terisi oleh tawaran cerita-cerita fiktif, gaya hidup mewah yang tidak realistis, kesaktian, dan aneka materi irrasional lainnya !

4. Tanya: Bagaimana upaya yang harus dilakukan supaya tayangan yang mendidik dapat lebih diminati generasi muda daripada tayangan sinetron pacaran, kekerasan atau kehidupan glamor?

Jawab: pertama, upaya oleh perusahaan. Jika perusahaan televisinya mau nih, muatan pendidikannya dikemas apik agar enak ditonton, dimasukkan dalam paket acaranya dia. Tapi kan televisi biasanya tinggal nayangin doang, sedangkan pembuat paket acaranya biasanya dilakukan oleh production house (pihak lain). Production house (PH) agar barangnya laku, kan harus nurut ama TV (lha TV nurut ama siapa hayo..). Jadi ya susah sich, mbulet aja ceritanya. Kembali pada rumus: ‘yang penting laku’ tadi itu. Kedua, upaya oleh pemerintah (karena dia yang punya otorita kan?). Yakni “memaksa” perusahaan TV agar nayangin acara yang mendidik sekaligus menarik dan laku (ini yang susah). Lha wong acara TV yang bisa mempengaruhi pikiran orang untuk berbuat syirik, pemerintah, juga MUI ya diem aja, malah bikin fatwa soal rokok, bukannya menyelamatkan anak-anak bangsa dengan “mengendalikan” televisi. Ini yang membuat saya prihatin. Ketiga, mungkin ini yang paling realistis: kita sendiri yang selektif nonton TV (nyumpahin diri sendiri untuk nggak nonton TV kan gak mungkin) karena mencari acara TV yang mendidik dan enak ditonton (diminati) oleh anak-anak muda ibarat mencari jarum dalam sekam.


5. Tanya: Stasiun televisi manakah yang telah “sukses” mendidik anak bangsa?

Jawab: Tidak ada! Semua stasiun TV mementingkan aspek komersial dan mengabdi kepada profit. Tayangan hanyalah alat untuk menghidupi perusahaan televisi itu. Supaya tayangannya laku, mereka mengemas biar sesuai dengan pangsa pasar dan segmen pemirsa televisi tersebut. Agar disukai oleh pemirsa penyuka isu-isu politik, dikemaslah seperti panggung politik sungguhan, padahal isinya kosong melompong. Dsb. Anak-anak, jangan tertipu buaian acara televisi yang sepintas mirip atau bernuansa pendidikan. Nama stasiun TV, nama mata acara, dsb, hanyalah “cap luar” (kemasan) untuk jualan.

STOP PRESS: Temuan Garin Nugroho pada sebuah Seminar di Universitas Indonesia (2003) bahwa beberapa direktur perusahaan TV justru melarang anak-anak mereka sendiri untuk menonton tayangan-tayangan yang disiarkan oleh stasiun TV yang mereka pimpin! Nah lo...

So, waspadalah anak-anakku! Waspadalah... (ini juga korban TV...)

Salam,
Wawan E. Kuswandoro
http://www.wawankuswandoro.blogspot.com

Saran:

1. Cobalah membuat penelitian sederhana di kalangan teman-temanmu tentang persepsi mereka terhadap tayangan TV (mereka suka acara apa, dll).
2. Lakukan diskusi kecil mengenai suatu mata acara tertentu, misal: film kartun Sinchan, Tommy and Jerry, dsb. Rangkum pendapat teman-temanmu yang pasti beragam itu.

No comments:

Sign up for PayPal and start accepting credit card payments instantly.

Twitter