Greeting From Bromo Base

Peace. May God bestow the blessings of salvation to all of us

Welcome to my blog. It's my world... Selamat datang di blog saya...

This blog is containing my personal views, opinions and life experiences. It’s about some thoughts on social order, culture, politics, government, education and self development. All of which is related. Anyone can read this blog. I would like to share with you...

Saya Wawan, tinggal di Probolinggo, sebuah kota di Jawa Timur, Indonesia. Berdekatan dengan Gunung Bromo dengan panorama yang khas dan eksotik serta masyarakat Tengger yang unik, Probolinggo merupakan daerah menarik. Dari sudut kecil inilah saya ingin berbagi informasi dan pengalaman dengan saudara. Tentang pengembangan diri, pendidikan, budaya, politik, pemerintahan, pemilu dan ihwal terkait yang berhubungan dengan kehidupan kita. Saya sangat senang jika ada feedback dari Saudara.

Blakrakan saya di Dewan Pendidikan, Forum Tapal Kuda, KPU, Yayasan Wahana, juga di lembaga kajian sosial di Jawa Timur, Miracle Ways dan corat-coret saya di blog ini mungkin dapat mengajari saya tentang kehidupan. Hal mana yang saya perkenalkan kepada anak-anak saya, para Nikkolai dan anak-anak orang lain (yang mau).

Jika Saudara suka, silakan tour di blog saya. Dan jika Saudara mau, silakan gunakan artikel blog ini asalkan cantumkan sumber link-nya ya... Juga ebook yang ada di bagian akhir postingan, boleh kok diunduh.

Best regards,
Wawan E. Kuswandoro

Ingin berlangganan artikel blog ini? Masukkan alamat email Anda:

Delivered by FeedBurner

Sekolah-Menulis Online

Wednesday, January 28, 2009

Kota Probolinggo Memilih

Kota Probolinggo telah usai menyelenggarakan hajat akbar memilih pemimpin lokalnya. Ya. Pemilihan umum walikota dan wakil walikota -yang lazim disebut 'pilwali'- telah sukses terlaksana. Damai. Tahun 2008 benar-benar telah menjadi tahun bersejarah bagi politik Kota Probolinggo. Pilwali tersebut benar-benar merupakan pilkada damai dalam arti sesungguhnya di salah satu wilayah region Jawa Timur itu. Setidaknya tidak sempat terjadi insiden bakar-bakaran kayak di Tuban, macet-macetan kayak di Sampang, tengkar-tengkaran berkepanjangan kayak di Banyuwangi. Atau gugat-gugatan kayak di Kabupaten Pasuruan. Memang sich sempat diwarnai sedikit ketegangan dan keributan saat kampanye –sebagaimana “lagu wajib” pilkada di manapun.

Namun pasca coblosan 30 Oktober 2008, sejak hasil “quick count” di media massa hingga penghitungan akhir di KPU setempat, hiruk-pikuk yang terjadi sebelumnya mendadak senyap. Tidak ada gugatan, pasca pengumuman hasil oleh KPU setempat. Para kandidat yang kalah pun mengakui kekalahannya. Mereka segera mencabut pengaduan yang sempat mucul saat kampanye. Benar-benar merupakan jiwa besar dan sikap negarawan para kandidat dan tim sukses serta para pendukungnya yang patut dipuji. Media massa baik koran maupun televisi dan radio pun ramai memberitakan. Menarik.

Ada pelajaran berharga dari proses demokrasi rakyat ‘Kota Mangga’ ini, bahwa dengan partisipasi politik yang cukup tinggi (81%), yang berarti golput hanya 19%, rakyat kota ini benar-benar peduli dengan proses politik di wilayahnya, sekaligus mempertinggi derajat legitimasi hasil pilkada. Siklus suksesi politik 5 tahunan yang menarik untuk disimak. Bahwa upaya untuk memenangi dan merebut hati 156.366 pemilih warga ‘Kota Mangga’ yang tersebar di 29 kelurahan (5 kecamatan) pada pilkada langsung perdana ini akan menjadi referensi berharga bagi siklus selanjutnya. Baik bagi rakyat, kandidat maupun partai politik dan peminat pilkada. Preferensi pemilih mungkin saja berubah pada pilkada 2015 nanti seiring dengan perubahan peta politik, paradigma, kultur, struktur sosial, dsb, yang juga akan mempengaruhi strategi komunikasi politik. Namun, satu hal yang tidak berubah: menggerakkan pemilih hingga mencapai derajat signifikansi, yang penulis sebut institusionalisasi pemilih. Angka 72,6% perolehan suara pemenang dapat dikatakan sebagai bagian dari variabel intensitas komunikasi politik dan institusionalisasi pemilih bukan faktor determinan power resultant, untuk sebuah proses politik lokal yang dinamis, unlinear dan unpredictable.

Selengkapnya terdapat dalam buku "Demokrasi Kota Mangga: Belajar Dari 72,6% Suara kandidat Dalam Pilwali Kota Probolinggo 2008". Buku tersebut mendeskripsikan pilkada langsung perdana di Kota Probolinggo tahun 2008 itu lengkap dengan sajian peta kekuatan politik lokal, rentetan peristiwa tahapan pilkada, profil kandidat dan gaya kampanye masing-masing kandidat, juga sebaran perolehan hasil suara dan sebaran jumlah pemilih serta beberapa catatan evaluatif. Semoga bermanfaat bagi pembelajaran politik dan demokrasi serta khazanah sejarah politik. (Diterbitkan oleh InSECS Publishing Surabaya, 2009, ISBN : 978 – 979 – 18994 – 0 – 6)

Komentar Pakar atas buku tersebut:

Buku yang ditulis oleh Saudara Wawan Kuswandoro berdasar pengalaman pilkada langsung Walikota Probolinggo 2008, mengindikasikan betapa incumbent yang memiliki prestasi kinerja memimpin pemerintahan dengan baik dan kerap menyapa masyarakatnya, cenderung terpilih kembali dengan suara dominan. Best practices ini menjadi pelajaran berharga bagi kepala daerah atau siapapun yang ingin maju kembali berkompetisi dalam pilkada langsung
Haryadi, MA, Dosen Departemen Politik FISIP Universitas Airlangga Surabaya, Analis Pilkada


Download e-book Sistem Pemilu
Read More......
Sign up for PayPal and start accepting credit card payments instantly.

Twitter