Greeting From Bromo Base

Peace. May God bestow the blessings of salvation to all of us

Welcome to my blog. It's my world... Selamat datang di blog saya...

This blog is containing my personal views, opinions and life experiences. It’s about some thoughts on social order, culture, politics, government, education and self development. All of which is related. Anyone can read this blog. I would like to share with you...

Saya Wawan, tinggal di Probolinggo, sebuah kota di Jawa Timur, Indonesia. Berdekatan dengan Gunung Bromo dengan panorama yang khas dan eksotik serta masyarakat Tengger yang unik, Probolinggo merupakan daerah menarik. Dari sudut kecil inilah saya ingin berbagi informasi dan pengalaman dengan saudara. Tentang pengembangan diri, pendidikan, budaya, politik, pemerintahan, pemilu dan ihwal terkait yang berhubungan dengan kehidupan kita. Saya sangat senang jika ada feedback dari Saudara.

Blakrakan saya di Dewan Pendidikan, Forum Tapal Kuda, KPU, Yayasan Wahana, juga di lembaga kajian sosial di Jawa Timur, Miracle Ways dan corat-coret saya di blog ini mungkin dapat mengajari saya tentang kehidupan. Hal mana yang saya perkenalkan kepada anak-anak saya, para Nikkolai dan anak-anak orang lain (yang mau).

Jika Saudara suka, silakan tour di blog saya. Dan jika Saudara mau, silakan gunakan artikel blog ini asalkan cantumkan sumber link-nya ya... Juga ebook yang ada di bagian akhir postingan, boleh kok diunduh.

Best regards,
Wawan E. Kuswandoro

Ingin berlangganan artikel blog ini? Masukkan alamat email Anda:

Delivered by FeedBurner

Sekolah-Menulis Online

Monday, February 16, 2009

Adat Perempuan Lamar Laki

Pada umumnya masyarakat di Indonesia mengenal adat laki-laki melamar (meminang) perempuan pada acara pernikahan. Namun ada keunikan di suatu daerah kabupaten di Jawa Timur, di mana di sana justru pihak di perempuan-lah yang melamar si laki-laki. Woow.. Sst... jangan heboh dulu. Ternyata ada suatu rahasia yang sama sekali di luar dugaan kita semua. Dan dijamin para pembela emansipasi dan hak-hak sipil perempuan pasti bersabar. Ini bukan perendahan kaum perempuan. Justru sebaliknya. Tulisan ini diturunkan dari seorang kawan yang seorang native speaker LA (Lamongan Asli).

Adat Lamaran Khas Lamongan
Dalam berbagai literatur tata cara lamaran bisa dikategorikan sebagai kebudayaan. Kebudayaan memiliki tiga wujud sebagai gejalanya yakni:
1. Wujud kebudayaan sebagai suatu kompleks dari ide-ide, gagasan, nilai-nilai, norma-norma, dan peraturan, dan sebagainya.
2. Wujud kebudayaan sebagai suatu kompleks aktifitas serta tindakan berpola dari manusia dalam masyarakat.
3. Wujud kebudayaan sebagai benda-benda hasil karya manusia.
Ide-ide, gagasan-gasan, memberi jiwa dalam masyarakat serta tidak berdiri sendiri meainkan saling terkait satu sama lainnya. Para ahli sosiologi dan antropologi menyebutnya sebagai system budaya atau cultural system. Dalam bahasa Indonesia terdapat padanan kata yang sesuai untuk meyebut wujud ideal dari kebudayaan tersebut yaitu adat atau dalam bahasa jamaknya adat istiadat .
Lamaran, khususnya di Kabupaten Lamongan, sebagai sebuah adat tentunya memiliki gagasan atau ide normatif yang terkandung dalam pola tindakan serta tata caranya disamping memiliki benda-benda (berwujud makanan atau gawan) spesifik yang menjadi simbol-simbol dari gagasan normatif tersebut.

Yang terkenal dan khas dari adat lamaran di Kabupaten Lamongan adalah perempuan yang melamar laki-laki. Pelamaran ini, melambangkan keinginan keluarga perempuan membawa pria yang dilamar tersebut untuk mengikuti si perempuan. Dan setelah menikah kelak ia harus mengikuti pihak perempuan dalam menentukan tempat tinggal serta lainnya . Dan ia telah menjadi ‘milik’ pihak (keluarga) perempuan.

Secara lengkapnya, adat lamaran tersebut adalah sebagai berikut:

1. Menentukan Calon Suami/Istri

Dalam menentukan calon suami/ istri, pihak keluarga sebagaimana umumnya masyarakat Jawa mempertimbangkan bibit, bobot, bebet. Namun yang harus diutamakan adalah kualitas agama. Indikator umum yang dipakai masyarakat Lamongan yang terkenal agamis adalah apakah calon yang bersangkutan pernah menimba ilmu agama di pesantren. Baik mukim (tinggal di pesantren), maupun kampung-an . Ini berlaku pada perjodohan yang tidak saling kenal, sedangkan jika saling kenal pertimbangannya akan lebih jelas karena tahu bagaimana kaifiyah sehari-hari . Apalagi di masa kini, perilaku pacaran menjadi hal lumrah pasangan muda-mudi pra perkawinan. Namun perubahan zaman yang mengakomodir keterbukaan kemungkinan muda-mudi menentukan sendiri pasangan perkawinannya punya andil besar dalam perubahan adat lamaran di Kabupaten Lamongan.

Keluarga yang akan menikahkan anaknya, baik perempuan maupun laki-laki tidak ada hambatan dan batasan dalam memulai memilih calon yang hendak dilamar. Boleh saja pihak laki-laki melamar dahulu atau pihak perempuan yang melamar dahulu. Pada prinsipnya tidak ada tabu dalam hal ini. Argumentasinya adalah bahwa nabi Muhammad SAW dilamar oleh Siti Khodijah (istri pertama nabi) melalui pamannya. Argumentasi kedua adalah keluarga perempuan harus memastikan suami untuk anaknya adalah pria yang tepat. Sebab selain masih umumnya pandangan perempuan adalah kanca wingking sehingga laki-laki dianggap memimpin perempuan dalam rumah tangga, perempuan oleh keluarga, khususnya orang tua, dianggap sebagai harta yang ternilai. Hal ini dikarenakan keyaninan setempat bahwa ketika orang tua sudah renta dan butuh diurus segala keperluannya maka yang diharapkan bisa diandalkan adalah anak perempuan sebab anak laki-laki akan bekerja di luar rumah dan menantu perempuan tidak terlalu diharapkan.

Selain itu, yang datang duluan untuk njaluk adalah pihak yang punya kewenangan lebih untuk membawa yang dilamar masuk atau bertempat tinggal sesuai kehendak keluarga yang njaluk. Karenanya banyak pihak perempuan yang datang ke keluarga laki-laki mendahului pihak laki-laki datang ke pihak perempuan dengan harapan akan membawa laki-laki yang di lamar tersebut bertempat tinggal di rumah orang tua perempuan atau berdomisili dekat dengan orang tua perempuan.

2.Tahap Pertama Lamaran: Njaluk

Tahap awal ini biasa disebut njaluk yang dalam bahasa Indonesia berarti meminta. Meminta ini dimaksudkan sebagai meminta persetujuan untuk menjadikan anak keluarga yang didatangi sebagai menantu. Pada tahap ini, keuarga yang datang njaluk membawa gawan atau oleh-oleh berupa gula dan kopi mentah (belum disangrai dan ditumbuk). Ini di maksudkan sebagai memulai sesuatu atau diibaratkan mempersiapkan pagi hari dimana orang Lamongan biasa minum kopi di pagi hari sebelum berangkat ke sawah atau tambak. Jika keluarga yang dijaluk atau diminta setuju maka keluarga tersebut akan membalas dengan kunjungan balik pada keluarga yang datang njaluk dengan membawa gawan yang tidak ditentukan sambil menentukan hari lamaran. Sebaliknya jika keluarga yang dijaluk atau diminta menolak maka harus ada kunjungan balik dari yang bersangkutan untuk menjelaskan penolakan tersebut dengan membawa gawan gula dan kopi mentah sebanyak yang di bawa pihak pe-njaluk atau keluarga yang melamar sebagai simbol pembatalan.

3.Tahap Kedua : Lamaran

Tidak secara otomatis yang berkunjung pertama untuk njaluk adalah yang akan melamar. Biasanya pada tahap njaluk ("meminta") masing-masing keluarga sudah saling berisyarat tentang siapayang akan melamar. Namun biasanya keluarga perempuan berusaha sebagai pihak yang datang melamar terlebih dahulu dengan alasan-alasan sebagaimana diatas. Kadang dua keluarga berebut menjadi pihak yang melamar terlebih dahulu.

Dalam lamaran ini materi pokok pembicaraannya adalah bulan baik untuk dua keluarga dalam melangsungkan perkawinan serta waktu untuk bertemu kembali dengan pokok pembicaraan memilih hari yang tepat/hari baik. Pertimbangan bulan baik sesuai kepentingan masing-masing keluarga. Adapun gawan yang wajib di bawa adalah tetel. Tetel adalah makanan yang terbuat dari beras ketan yang tanak seperti menanak nasi kemudian dicampur kelapa parut dan di tumbuk sampai halus dalam wadah khusus yang disebut lumpang. Hal ini mengandung maksud agar perkawinannya kelak seperti tetel yang lengket dan bercampur secara baik seperti ketan dan kelapa yang tidak lagi berupa ketan dan kelapa serta berasa sangat gurih. Gawan lain yang lumrah dibawa adalah gula, kopi bubuk, dan pisang. Bisa juga ditambah yang lainnya. Kopi disini sudah dalam bentuk siap pakai menandakan hubungan perbesanan yang hendak dijalin dalam tahap yang hampir pasti jadi dilangsungkan.

4.Tahap Ketiga Lamaran: Milih Dino

Milih Dino atau memilih hari pernikahan mendapat waktu khusus sebab pada keluarga tertentu yang percaya pada perhitungan hari baik berdasarkan weton calon pengantin. Dua keluarga biasanya membawa ahli perhitungan Jawa. Namun bagi yang tidak percaya pada hal tersebut, pertemuan ini hanya menjadi silaturrahim biasa dan memilih hari dengan perhitungan kepentingan biasa. Biasanya pertemuan ini bertempat di keluarga yang dilamar. Sehingga ada tiga kali kunjungan keluarga sebelum prosesi perkawinan yakni njaluk, lamaran, dan milih dino.

Gawan pada tahap ini adalah makanan lengkap yakni nasi, lauk, sayur, dan buah serta jajanan lainnya. Biasanya dalam jumlah banyak sebab akan di bagikan pada kerabat dekat dan tetangga pihak yang dilamar sebagai pengumuman implisit bahwa anak keluarga tersebut sudah terikat hubungan calon suami/istri. Secara implisit juga gawan yang dibagikan pada kerabat dan tetangga ini menunjukkan status sosial calon besan. Semakin kaya sang calon besan, maka semakin banyak dan beragam gawan-nya.

5.Tahap Keempat: Perkawinan

Sebagaimana umumnya pelaksanaan perkawinan. Biasanya mengundang kiai untuk memberi ceramah agama seputar perkawinan dan nasihat-nasihat agama dalam pola hubungan suami-istri. Adapun pelaksanaan dan prosesi tidak ada keharusan tertentu dan disesuaikan dengan kemampuan ekonomi keluarga yang bersangkutan.

C. PERUBAHAN ADAT LAMARAN

Di banyak tempat, perempuan harus menunggu di lamar untuk dapat jodoh/ suami sehingga ada julukan perawan tua bagi perempuan berumur yang belum menikah. Ini tidak berlaku di Lamongan. Dalam konteks perjodohan laki-laki maupun perempuan boleh berinisiatif dalam mencari jodoh. Inilah perwujudan egalitarianisme masyarakat Lamongan disamping banyak nilai lain yang mendukung etos hidup masyarakat Lamongan yang ulet dan berani berpetualang dalam mencari penghidupan ekonomi.

Namun seiring perkembangan zaman, perilaku pacaran mengurangi proses tahapan diatas sehingga keluarga datang seringkali langsung menentukan hari pernikahan. Pihak keluarga yang datangpun tidak selalu berarti punya kewenanganan lebih untuk memboyong atau membawa calon menantu ke rumah yang melamar terlebih dahulu. Sebab seiring kesadaran calon mempelai dalam memutuskan pasangan hidup, seiring itu pula terjadi otonomi pasangan dalam merencanakan dan menentukan masa depan perkawinan mereka.

Terlebih jika pasangan menikah dengan orang yang berasal dari luar Lamongan. Maka segala hal yang terkait adat di atas tidak diperlakukan secara ketat dan bisa saja diabaikan. Namun pada keluarga tertentu yang memegang teguh adat lamaran ala Lamongan ini ketika berbesan-an dengan keluarga dari luar Lamongan yang tidak paham adat istiadat Lamongan menjadi salah paham. Pada tingkatan ekstrim bisa terjadi pembatalan perkawinan karena masalah tidak saling pahamnya terhadap adat istiadat ini.


SUMBER RUJUKAN

Informan
Hj. Istirochah
Sesepuh desa Gedong Boyo Untung kecamatan Turi berusia menjelang 80 tahun. Menikah pada usia 12 tahun dan melahirkan pertama pada usia 14 tahun. Dua anaknya yang pertama dan kedua meninggal dalam bersama pada wabah cacar di tahun 1950. setelah itu berturut turut dalam jarak 2 tahun melahirkan empat (4) orang anak dengan rincian tiga (3) laki-laki dan satu (1) perempuan dari perkawinan pertama. Perkawinan kedua dikaruniai dua anak. Anak yang terakhir berusia 35 tahun. Ia adalah perintis dan pendiri Muslimat NU di tingkatan Kecamatan juga Kabupaten.
Suami pertama adalah Kiai bernama Kiai Haji Ismail yang cukup disegani pada zamannya dan penghormatan ini terus terbawa sampai anak cucunya. Suami kedua adalah seorang tuan tanah yang menjabat kepala desa sampai akhir hayatnya. Saat ini hidup menjanda bersama anak ke lima dari perkawinan yang kedua.

Pustaka
1. Koentjaraningrat, Pengantar Ilmu Antropologi, Jakarta, Rineka Cipta, 2004.
2. Aneka Data Potensi Kabupaten Lamongan, pemerintah kabupaten lamongan, 2004.
3. Potensi Ekonomi dan Bisnis di Kabupaten Lamongan, pemerintah Kabupaten Lamongan, 2005.
4. Chris Barker, Cultural Studies: Teori Dan Praktik, Yogyakarta, Kreasi Wacana, 2005.
5. T.O Ihromi, Pokok-Pokok Antropologi Budaya, Jakarta, Yayasan Obor, 1999.
___________

Sumber tulisan: Mar'atul Mahmudah (LA)


Download Full Text (pdf):

Adat Perempuan Lamar Laki (download)
Read More......

Grebek Besar Lamongan

Setiap Bulan Dzulhijjah khususnya malam tanggal 10 kalender Hijriyah umat islam memperingati Hari Raya Idul Adha atau masyarakat setempat menyebutnya Hari Raya Besar. Dan masyarakat Lamongan biasa menyelenggarakan Gerebek Besar dengan berarak-arakan keliling kota menabuh beduk sambil membaca takbir mengumandangkan kebesaran Tuhan. Ada rombongan berjalan kaki, ada yang naik sepeda, ada pula yang membawa mobil baik terbuka maupun tertutup. Pada kendaraan terbuka biasanya diisi pula dengan romongan pemusik tabuh-tabuhan seperti Bedug dan Rebana serta sound system atau pengeras suara. Kemeriahan tersebut tidak semata-mata merayakan idul adha namun juga merayakan hari jadi kota lamongan, yakni hari di mana seorang tokoh utusan Sunan Giri yang mengatur dan mengembangkan kota Lamongan di lantik menjadi Adipati pertama Kadipaten Lamongan bergelar Rangga. Rangga Hadi dikenal juga sebagai Mbah Lamong.

Napak Tilas Sejarah Kabupaten Lamongan
Dalam buku-buku sejarah Kabupaten Lamongan diyakini bahwa Kabupaten Lamongan memiliki sejarah kemasyarakatan yang sangat kuno semenjak pra sejarah. Hal ini dibuktikan dengan temuan benda-benda berupa kapak corong, candrasa dan gelang-gelang di Desa Mantup Kecamatan Mantup yang berarti wilayah Lamongan telah dihuni manusia sejak masa prasejarah. Bukti lainnya ditemukan nekara perunggu, manik-maik kaca, lempengan emas, benda-benda besi, gerabah, tulang binatang, dan lainnya yang diyakini sejarawan berasal dari masa perundagian di Desa Kradenanrejo Kecamatan Kedungpring. Seiring dengan waktu pengaruh Hindu pun agaknya cukup luas. Arca Lingga dan Yoni ditemukan di wilayah Lamongan sebanyak 7 buah tersebar di wilayah Kecamatan Lamongan, Paciran, Modo, Sambeng, Kembangbahu, dan Sugio. Sedangkan prasasti dari masa Majapahit sebanyak 43, 39 diantaranya diguris diatas batu dan yang 4 buah diguris di lempengan tembaga yang disimpan di Musium Nasional Jakarta. Sebaran prasasti tersebut adalah 2 buah di Ngimbang, 2 buah di Mantup, 7 buah di Modo, 8 buah di Ngimbang, 9 buah di Sambeng, 6 buah di Bluluk, 2 buah di Sugio, 1 buah di Deket, 1 buah di Turi, 1 buah di Sukodadi, 1 buah di Babat, 1 buah di Brondong, dan 2 buah di Paciran. Diyakini pada abad XIV Lamongan ada pada wilayah kekuasaan Majapahit. Pada masa perkembangan Islam seiring dengan surutnya kerajaan Majapahit. Para penyebar agama islam diidentifikasi masyarakat sebagai para Wali yang berarti orang yang taat pada Allah dan terpelihara dari maksiat. Terkait dengan penyebar agama islam ini ditemukan sedikitnya 8 makam kuno antara lain:
1. Makam Sunan Drajat di Desa Drajat Kecamatan Paciran.
2. Makam Mbah Deket atau Sunan Lamongan di Desa deket Kecamtan Deket.
3. Makam Mbah Lamong di Kota Lamongan yang oleh masyarakat diyakini sebagai makam Rangga Hadi.
4. Makam Raden Nur Rahmat di Desa Sendang Duwur Kecamatan paciran.
5. Makam Pangeran Sedamargi di Mantup.
6. Makam Panembahan Agung Singadipuro di Dusun Badu kecamatan Pucuk.
7. Makam Mbah Barang di Desa Baturono Karangbinangun.
8. Makam Mbah Santri di Tenggulun Paciran.

Namun diantara kedelapan tokoh yang makamnya di mulyakan masyarakat Lamongan tiga tokoh yang ajaran-ajaran beserta peninggalan-peninggalannya yang masih lekat dengan masyarakat Lamongan. Yakni Sunan Drajat, Raden Nur Rahmat, dan Mbah Lamong atau Rangga Hadi.

Sunan Drajat
Penyebar Islam yang paling terkenal di Lamongan adalah Sunan Drajat yang termasuk dalam jajaran wali songo yang termasyhur di kalangan masyarakat islam jawa. Bernama kecil Syarifudin atau Raden Qosim. Masyarakat juga mengenalnya dengan nama Masih Munat. Beliau Putra Sunan Ampel yang terkenal cerdas. Setelah menimba ilmu agama beliau mengambil desa Drajat Kecamatan paciran sebagai tempat tinggal dan pusat dakwah islam. Sunan drajat sangat memperhatikan kesejahteraan masyarakat sekitar dan memilih berdakwah dengan tindakan-tindakan sosial. Ajarannya yang masih diingat secara turun temurun dan menjadi landasan filosofis perjuangannya adalah: “Menehono teken marang wong kang wuto, menehono mangan marang wong kang luwe, menehono busono marang wong kang wudo, menehono ngiyub marang wong kang kudanan” yang artinya “ berikan tongkat bagi orang yang buta, berikan makan bagi orang yang lapar, berikan pakaian bagi orang yang telanjang, dan berikan tempat berteduh bagi orang yang kehujanan”. Maknanya adalah supaya para pengikutnya sebagai pejuang agama agar memberikan sesuatu sesuai kondisi yang diberi. Memberi petunjuk bagi orang yang buta hati dan nalarnya, berusaha menyejahterakan rakyatnya yang miskin, mengajarkan kesusilaan kepada orang yang tak tahu malu, dan memberikan perlindungan kepada orang-orang yang menderita.

Sunan Drajat berafiliasi pada Demak dan memperoleh hak otonom atas wilayah Drajat serta memperoleh gelar Sunan mayang Madu dari Raden fatah, Sultan Demak I. Peninggalan Sunan Drajat tersimpan rapi dalam Musium Sunan Drajat. Gamelan Singo Mengkok sekaligus menciptakan tembang macapat yakni tembang pangkur yang kepanjangan dari pangudi isine Qur`an atau memahami isi Al qur`an. Pangkur sendiri adalah bahasa jawa kuno yang berarti pejabat kerajaan yang bertugas mengawasi rakyat maupun pejabat kerajaan lain agar mentaati aturan kerajaan. Memegang kendali perdikan selama 36 tahun .

Raden Nur Rahmat
Di sebelah barat Desa Drajat ada makam dan masjid peninggalan Raden Nur Rahmat, putra Raden Abdul Qohar, murid Sunan Drajat yang diambil menantu oleh tumenggung sedayu. Karenanya masyarakatnya mengenalnya sebagai Pangeran Sendang. Ia berusaha keras memisahkan wilayah utara lamongan tersebut dari kekuasaan Kalinyamat (Mantingan-Jepara). Usaha tersebut dilambangkan dalam cerita keberhasilan Raden Nur Rahmat memindahkan Masjid Kalinyamat ke desanya dalam satu malam, dan didirikan diatas bukit Amitunon.
Yang menarik dari masjid tersebut adalah bentuk kepala barong yang disimpan di atas langit-langit di bawah puncak atau mustaka masjid. Benda tersebut hanya diperlihatkan pada saat hari raya kupatan atau enam hari sesudah idul fitri. Bentuk serupa tersebut juga terdapat di Musium Radyapustaka Surakarta. Diduga bentuk kepala barong itu berasal dari ujung haluan perahu yang mengangkut masjid tersebut dari Mantingan Jepara.

Rangga Hadi
Keberadaan Rangga Hadi di Lamongan adalah wujud eksistensi Kesunanan Giri sebagai penguasa politik dan panutan spiritual yang mengatur tata pemerintahan di Lamongan. Ia mendapatkan gelar Rangga dari Sunan Giri II dalam perjalanannya yang kedua mencari tempat bernama kenduruan. Selengkapnya adalah sebagai berikut. Setelah wafatnya Raden Ainul Yakin, Sunan Giri I pada tahun 1506 tugas kesunanan di lanjutkan Sunan Dalem yang bergelar Sunan Giri II. Ialah yang menugaskan muridnya yang bernama Hadi disamping untuk menyebar luaskan agama islam juga untuk menyusun masyarakat dan pemerintahan yang bersendikan ajaran islam. Hadi disertai rombongan pengawal, pembantu, dan perbekalan secukupnya. Rombongan tersebut menyusuri kali lamong, sebuah sungai yang cukup besar, yang bersumber di gunung pandan dan bermuara di laut Gresik disebelah selatan Kesunanan Giri, yang sekarang bernama Desa Segoromadu.

Hadi mengingat pesan Sunan Giri agar datang dan bermukim di suatu tempat yang berbentuk “kali gunting” atau sungainya bercabang dua yang bernama Kenduruan. Karenanya ketika rombongan berlayar ini jalur purbakala Majapahit-Tuban sampailah di lereng Kendeng yang letaknya agak berada di ketinggian. Disitu telah berdiri Kampung yang pada malam hari menghembuskan aroma harum bunga-buangaan karenanya daerah tersebut dinamai Puncakwangi. Sampai sekarang tetap bernama desa Puncakwangi di Kecamatan Babat. Disebelah utaranya terdapat sungai bercabang yang sekarang terkenal sebagai Bengawan Solo dengan percabangan sungainya yang sekarang sudah tidak ada lagi. Karenanya Rangga Hadi dan rombongannya mengira telah sampai di tempat yang dimaksudkan oleh Sunan Giri. Mereka kemudian menetap di sana, menjalankan tugas menyebarluaskan ajaran islam, menyusun masyarakat dan pemerintahan bersendi agama islam, serta membangun pemukiman baru membabat alas yang dinamai Babat. Saat ini menjadi Kelurahan babat, ibukota Kecamatan Babat. Lambat laun perkampungan baru tersebut berkembang pesat dan menjadi ramai. Susunan pemerintahan dan masyarakatnya tertata dengan baik dan teratur. Masjid-masjid dan langgar-langgar mengumandangkan dakwah islam. Kesulitan-kesulitan ditangani dengan ulet dan sungguh-sungguh. Pedagang-pedagang dari daerah selatan (Ploso, Bluluk, Modo), dari daerah Barat (Rajekwesi, Baureno), dan dari daerah utara (Tuban, Palang), berdatangan di tempat pemukiman baru baik lewat darat maupun sungai. Hal penting yang dilupakan Hadi adalah melaporkan setiap perkembangan wilayah baru tersebut pada Sunan Giri. Sampai akhirnya datanglah utusan Sunan Giri yang memerintahkan Hadi mempertanggung jawabkan hasil-hasil perintah Sunan Giri. Ternyata setelah melapor, Sunan Giri tidak menyetujui wilayah Babat sebagai kaligunting yang dimaksud Sunan Giri. Namun demikian Sunan Giri menghargai hasil karya Hadi dan berpesan bahwa tempat yang sudah dikembangkan tersebut tidak akan dilupakan karena mungkin dikemudian hari akan menjadi tempat penting pemerintahan atau dibidang perdagangan. Karenanya masyarakat Babat percaya bahwa disuatu saat kelak daerah Babat akan menjadi Ibukota kabupaten.
Setelah menghadap Sunan Giri, untuk kedua kalinya Rangga Hadi berangakat mencari suatu wilayah bernama Kenduruan di belahan barat wilayah kekuasaan Sunan Giri. Ia diberi wewenang untuk memimpin wilayah Kenduruan yang hendak dituju tersebut. Ia juga diberi kewenangan memimpin seribu pasukan dalam rangka menuju tempat tersebut. Upacara Pelantikan dilaksanakan sebelum keberangkatan kedua ini dihadiri oleh Sunan Bonang. Perjalanan yang kedua dimulai dengan menyusuri Kali Lamong kearah barat. Beberapa persinggahan perjalan kedua ini antara lain pertama, desa Pamotan kecamatan Sambeng. Disana singgah sebentar dan mengislamkan wilayah tersebut. Perjalanan dilanjutkan kearah utarasampai di wilayah bernama Gondang yang sekarang ini wilayah kecamatan Sugio. Wilayah tersebut kekurangan air. Lalu Rangga Hadi mengutus pengawalnya (belakangan diberi gelar Ki Kudosari yang berarti orang yang bekerjacepat dan cermat) menghadap Sunan Giri untuk meminta nasehat. Oleh Sunan Giri diberi Tombak agar ditancapkan dalam tanah dan berpesan agar memperdalam bermunajat (semedi penuh kepasrahan) pada Allah SWT. Dengan takjub Rangga Hadi melaksanakan dan mendapati air yang mengalir makin lama makin besar dan menjadi telaga/sendang. Penduduk setempat menjadi hormat dan taat pada Rangga Hadi. Sedangkan pusaka tombak ditambah tameng diberikan pada mbok rondo Gondang. Sampai hari ini pusaka tersebut disimpan keturunan Sunan Giri di Gondang . Perjalanan dilanjutkan ke Timur dan singgah di Desa Mantup yang sekarang tetap bernama Mantup ibukota Kecamatan Mantup. Sama halnya dengan Sugio, wilayah inipun kekurangan air. Kembali Rangga Hadi mengutus Ki Kudosari menghadap ke Sunan Giri. Ki Kudosari kembali dengan membawa Tombak dari Sunan Giri dengan pesan yang sama. Dengan cara yang serupa muncullah telaga Mantup yang mengairi kebutuhan penduduk setempat bahkan di masa Belanda sumber air ini mengairi masyarakat kota pula. Tombak itu diberikan pada Mbok rondo Mantup yang sepeninggalnya dikubur bersama Mbok Rondo yang sekarang makamnya terkenal dengan sebutan Makam Buntel.

Perjalanan di lanjutkan ke uatara mencari daerah bernama Kenduruan. Tibalah rombongan yang ternyata daerah tersebut dipimpin oleh seorang Kenduru, sehingga disebut Kenduruan. Daerah ini terletak di pusat kota. Segeralah misi dilaksanakan Rangga Hadi. Tempat tinggal Rangga Hadi disebut Keranggan, lalu sesudah Rangga Hadi diangkat menjadi Tumenggung pindah ke sebuah tempat yang kemudian disebut Tumenggungan.

Asal Usul Nama Lamongan
Dua wujud fisik yang bisa jadi asal penelusuran nama Lamongan yakni pertama, kali lamong dan yang kedua, makam mbah lamong. Kali lamong saat ini menjadi daerah perbatasan antara Lamongan, Mojokerto, mengalir ke timur yang bermuara di desa Segoromadu kabupten Gresik yang dulunya adalah pusat Kesunanan Giri. Meskipun Kali Lamong dulunya adalah rute perjalanan Ronggo Hadi, namun lokasinya jauh dari Lamongan yang saat itu dikembangkan Rangga Hadi.
Sedangkan makam Mbah Lamong diyakini adalah Rangga Hadi atau Tumenggung Surajaya. Dan yang kedua inilah yang lebih banyak dipercaya ahli sebagai asal usul Lamongan. Pertanyaannya adalah mengapa Rangga Hadi mendapat sebutan Mbah Lamong?. Maka ada dua cara untuk menelusurinya yakni kesejarahan dan pengetahuan bahasa (etimologi).

Dalam sejarahnya terdahulu tidak ada pedukuhan, kampung, atau sejenisnya bernama Lamongan. Namun jelas nama-nama tempat di Lamongat terkait dengan tokoh yang ada di wilayah tersebut sebagaimana ketika Rangga Hadi mencari tempat bernama Kenduruan ternyata adalah tempat yang dipimpin seseorang bernama Kenduru, kemudian nama tempatnya adalah Kenduruan. Lalu tempat tinggal Rangga menjadi Keranggan dan setelah menjadi tumenggung pindah ketempat baru yang kemudian bernama Tumenggungan. Jadi nama Lamongan diyakini erat kaitannya dengan Mbah Lamong yang menilik argumentasi diatas tempat/wilayahnya bernama Lamong-an atau Lamongan.

Dalam tinjauan etimologi, kata Lamong berasal dari kata “LA” dan “MONG”. “LA” berasal dari bahasa Kawi (Jawa Kuno) artinya baik, sedangkan “MONG” berasal dari kata “NGEMONG” dalam bahasa Kawi yang berarti mengasuh. Jadi LAMONG berarti pamong yang baik. Terkait dengan tinjauan etimologi ini, Rangga Hadi atau Tumenggung Surajaya yang makamnya kemudian terkenal sebagai makam Mbah Lamong mendapat sebutan demikian sebab selama hidupnya telah menjadi pamong atau pemimpin yang baik. Dengan kata lain, wilayah tersebut bernama Lamongan sebab wilayah yang menjadi kekuasaan sekaligus tempat tinggal Mbah Lamong pada abad ke XVI Masehi. Sebagai sebutan sebuah wilayah, sejak masa Rangga Hadi hingga saat ini masih bernama Lamongan.

Perayaan Gerebek Besar
Magnis Suseno membagi pandangan dunia Jawa menjadi empat lingkaran bermakna . Lingkaran pertama bersifat ekstrovert, yang intinya adalah sikap terhadap dunia luar yang dialami sebagai kesatuan nominus antara alam, masyarakat dan alam adikodrati yang keramat, yang wujudnya lebih kuat dipedesaan dan atau dalam lapisan masyarakat buta huruf, yang oleh Geertz sementara disebut agama abangan. Lingkaran kedua memuat penghayatan kekuasaan politik sebagai ungkapan alam nominus. Lingkaran ketiga, berpusat pada pengalaman tentang keakuan sebagai jalan ke persatuan dengan nominus, yang oleh Geertz disebut sebagai agama priayi. Lingkaran keempat yakni penentuan semua lingkaran pengalaman oleh Yang Ilahi atau Takdir.

Sebagai sebuah kebudayaan, perayaan Grebek Besar telah memiliki wujud-wujud gejala kebudayaan. Kebudayaan memiliki tiga wujud sebagai gejalanya yakni:
1. Wujud kebudayaan sebagai suatu kompleks dari ide-ide, gagasan, nilai-nilai, norma-norma, dan peraturan, dan sebagainya.
2. Wujud kebudayaan sebagai suatu kompleks aktifitas serta tindakan berpola dari manusia dalam masyarakat.
3. Wujud kebudayaan sebagai benda-benda hasil karya manusia.

Ide-ide, gagasan-gasan, memberi jiwa dalam masyarakat serta tidak berdiri sendiri meainkan saling terkait satu sama lainnya. Para ahli sosiologi dan antropologi menyebutnya sebagai system budaya atau cultural system. Dalam konteks pandangan keagamaan yang adikodrati dan penghayatan kekuasaan politik, perayaan Gerebek Besar di Kabupaten Lamongan merepresentasikan hal tersebut. Disamping sebagai perayaan spiritual dogmatis sebagai ajaran agama, Gerebek Besar adalah momen politik dimana dalam sejarah kota Lamongan Penobatan Tumenggung Lamongan pertama Yakni Rangga Hadi atau Mbah Lamong dilaksanakan oleh Sunan Giri II. Ia dianugerahi gelar Tumenggung Surajaya. Di era Kesunanan Giri, riyoyo besar adalah momen berkumpulnya seluruh poemimpin wilayah di bawah kekuasaan Kesunanan Giri untuk berkonsolidasi, melaporkan perkembangan wilayah masing-masing, serta meminta nasehat/kebijaksanaan Sang Sunan dalam rangka pengembangan agama dan tata pemerintahan mauapun perluasan wilayah. Acara tersebut disebut Pasowanan Agung. Ada kesatuan penghayatan antara agama sebagai spiritualitas dan kekuasaan politik.

Gerebek Besar atau perayaan besar dilaksanakan pada hari raya iedul adha atau yang biasa disebut orang jawa sebagai riyoyo besar. Dimulai dari depan Masjid Agung yang berlokasi diseberang barat alun-alun sebagaimana konsep ketatanegaraan islam jawa. Setelah masyarakat berkumpul kiai sesepuh akan memberikan wejangan-wejangan di dampingi Bupati dan Wakil Bupati. Wejangan berupa ungkapan syukur atas hari raya idul adha atau idul kurban yang jatuh pada 10 Dzulhijjah kalender hijriyah. Masyarakat biasa menyebutnya hari raya besar/riyoyo besar. Besar berarti agung. Dan yang juga disyukuri adalah bahwa kota Lamongan didirikan menurut kalender hijriyah bertepatan dengan riyoyo besar yakni 10 Dzulhijjah . Dari sejak dikukuhkan Sunan Giri dengan Tumenggung Surajaya sebagai `bupati`nya hingga masa terkini dengan Bupati yang hadir pada forum tersebut, kabupaten Lamongan mendapatkan banyak berkah dari Alloh SWT, Tuhan yang maha kuasa.

Setelah itu dimulai berkeliling kota dengan mengumandangkan takbir mengelilingi kota. Warga yang berpartisipasipun beragam caranya mengekspresikan rasa syukur tersebut dengan mengikuti arak-arakan berkeliling kota. Ada rombongan yang berjalan kaki, mengendarai sepeda motor, mobil, maupun kendaraan terbuka dengan seperangkat alat musik tabuh seperti rebana danbedug beserta pengeras suara atau sound system.
Tempat-tempat bersejarah yang akan dilewati adalah pertama, Kenduruan. Yakni tempat yang diamanatkan pada Rangga Hadi oleh Sunan Giri untuk dicari dan dikembangkan. Ternyata tempat tersebut dipimpin seseorang bernama Kenduru sebagaimana dijelaskan diatas. Berasal dari kata Kenduru-an. Kedua, Keranggan yakni tempat tinggal Rangga Hadi pada saat memulai pengembangan wilayah lamongan. Ketiga, Tumenggungan yakni tempat berpindahnya Rangga Hadi yang telah bergelar Tumenggung Surajaya. Berasal dari kata Tumenggung-an.

Kesatuan ide/gagasan atau filosofi , tindakan berpola, dan benda-benda yang terangkum dalam perayaan Gerebek Besar di Kabupaten Lamongan jelas adalah sebuah Kebudayaan sebagaimana yang dikatakan Koentjaraningrat. Jelas pula bahwa dalam perayaan ini memiliki kesatuan dimensi spiritual dan dimensi kekuasaan politik. Yakni spiritualitas ajaran islam dan kekuasaan Kesunanan Giri pada awalnya hingga berkembang saat ini.masyarakat lamongan sendiri terkenal sebagai masyarakat yang agamis.

Meskipun secara formalnya, Pemerintah Daerah Kabupaten Lamongan menyelenggarakan peringatan formal berupa upacara dan mengunjungi makam-makam pendiri Lamongan berdasarkan kalender masehi yakni 26 Mei, masyarakat Lamongan tetap memperingati Gerebek Besar dengan filosofi pendirian Kabupaten Lamongan.

Penutup

Sebagai sebuah perayaan, Grebek Besar di Kabupaten Lamongan mempunyai filosofi mendalam dan makna kesejarahan yang panjang kebelakang. Kesatuan antara Hari Raya Idul Adha atau Hari Raya Kurban dimana umat islam menyembelih hewan ternak berupa kambing, sapi, dan lainnya sebagai ajaran agama islam dan ungkapan syukur atas didirikannya kota Lamongan sebagai wilayah Kadipaten oleh Kesunanan Giri dengan Rangga Hadi yang bergelar Tumenggung Surajaya. Rangga Hadi inilah yang terkenal dengan sebutan Mbah Lamong.

Nilai spiritualitas keagamaan dan ketata pemerinatahan dan politik yang menjadi satu kesatuan adalah khas islam jawa. Masyarakat Lamongan yang terkenal religius memang punya kesejarahan tata pemerintahan yang bersendi agama sehingga wajar jika karakteristik masyarakatnya pun demikian.

Referensi

1. Aneka Data Potensi Kabupaten Lamongan, diterbitkan Pemerintah Kabupaten Lamongan, 2004.
2. Potensi Ekonomi Dan Peluang Bisnis Di Kabupaten Lamongan, diterbitkan Pemerintah Kabupaten Lamongan 2005.
3. Lamongan Memayu Raharjaning Praja, terbitan Pemerintah Daerah Kabupaten Lamongan, 1992.
4. Magnis Suseno, Franz Von, 1988, Etika Politik, Prinsip-Prinsip Moral Dasar dan Kenegaraan Modern, Jakarta, Gramedia Pustaka Utama.
5. Geertz, Clifford. 1992a. Kebudayaan dan Agama. Yogyakarta: Kanisisus
6. Koentjaraningrat, Pengantar Antropoogi, Jakarta, Rieneka Cipta, 2002.
7. Naskah hari jadi Lamongan, terbitan Pemerintah Daerah Kabupaten Lamongan, 1987
8. Wawancara dengan Ketua Yayasan Keluarga Sunan Giri.

Sumber tulisan: Mar'atul Mahmudah (LA)


Full Text (Pdf):

Grebek Besar Lamongan (download)

Read More......

Wayang Jawa

Sebagian kita pasti tahu wayang Jawa atau wayang kulit. Atau dalam istilah Jawa sering disebut "Wayang Purwa" atau yang lebih spesifik "Pakeliran Purwa". Untuk mengetahui lebih dalam mengenai wayang purwa atau wayang Jawa ini saya pinjamkan artikel punya seorang kawan yang memang berasal dari etnis Jawa, hidup di tengah orang-orang Jawa, berbahasa ibu bahasa Jawa, dan sebagainya, pokoknya serba Jawa deh. Karena "wayang purwa" ini memang berasal dari tanah Jawa. Artikel berjudul "Pakeliran Purwa Dalam Budaya Jawa".

Pendahuluan

Wayang kulit purwo (pakeliran purwo) merupakan bentuk berkesenian yang kaya akan cerita falsafah hidup sehingga masih bertahan di kalangan masyarakat jawa hinggga kini. Seni pertunjukan pakeliran purwo sebagai salah satu bentuk kesenian Jawa merupakan produk masyarakat Jawa (Hauser, Arnold, 1974:94). Disaat pindahnya Keraton Kasunanan dari Kartasura ke Desa Solo (sekarang Surakarta) membawa perkembangan dalam seni pewayangan. Seni pewayangan yang awalnya merupakan seni pakeliran dengan tokoh utamanya Ki Dalang yang bercerita, adalah suatu bentuk seni gabungan antara unsur seni tatah sungging (seni rupa) dengan menampilkan tokoh wayangnya yang diiringi dengan gending/irama gamelan, diwarnai dialog yang menyajikan lakon dan pitutur/petunjuk hidup manusia dalam falsafah.

Seni pewayangan tersebut digelar dalam bentuk yang dinamakan Wayang Kulit Purwa, dilatarbelakangi layar/kelir dengan pokok cerita yang sumbernya dari kitab Mahabharata dan Ramayana, berasal dari India. Namun ada juga pagelaran wayang kulit purwa dengan lakon cerita yang di petik dari ajaran Budha, seperti cerita yang berkaitan dengan upacara ruwatan (pensucian diri manusia). Pagelaran wayang kulit purwa biasanya memakan waktu semalam suntuk. Kata purwo untuk membedakan dengan dengan pakeliran jenis lain, misalnya wayang orang (wong), wayang madya, wayang gedong dan sebagainya. Pakeliran purwo tidak dapat dilepaskan dari konteks masyarakat Jawa dalam berbagai aspeknya seperti aspek-aspek ekonomi, politik, dan sosio-kultural (Chanman & Baskoff,[ed.], 1964:140-157).

Mulder (1981: 30) mengatakan bahwa pandangan hidup merupakan suatu abstraksi dari pengalaman hidup. Pandangan hidup tersebut dibentuk oleh suatu cara berfikir dan cara merasakan tentang nilai, organisasi sosial, prilaku, peristiwa-peristiwa dan segi-segi lain dari pengalaman. Pemikiran orang Jawa adalah membangun sikap batin yang sesuai dan seimbang. Karena pada prinsipnya segi lahiriah itu selalu melukiskan kekacauan dan selalu mengikatkannya pada dunia materi, maka hal tersebut dapat menimbulkan hambatan.

Magnis Suseno membagi pandangan dunia Jawa menjadi empat lingkaran bermakna (1988:83-84). Lingkaran pertama bersifat ekstrovert, yang intinya adalah sikap terhadap dunia luar yang dialami sebagai kesatuan nominus antara alam, masyarakat dan alam adikodrati yang keramat, yang wujudnya lebih kuat dipedesaan dan atau dalam lapisan masyarakat buta huruf, yang oleh Geertz (1969) sementara disebut agama abangan. Lingkaran kedua memuat penghayatan kekuasaan politik sebagai ungkapan alam nominus. Lingkaran ketiga, berpusat pada pengalaman tentang keakuan sebagai jalan ke persatuan dengan nominus, yang oleh Geertz (1969) disebut sebagai agama priayi. Lingkaran keempat yakni penentuan semua lingkaran pengalaman oleh Yang Ilahi atau Takdir.

Wayang tidak dapat dipisahkan dari masyarakat Jawa. Cerita-cerita dalam pakeliran purwo tersebut mengiaskan perilaku watak manusia dalam perjalanannya mencapai tujuan hidup baik lahir maupun batin. Pemahaman terhadap kias tersebut tidak semata-mata dilakukan dengan pikiran melainkan dengan seluruh cipta, rasa, karsa bergantung kepada kedewasaan orang masing-masing.

Masyarakat Jawa gemar beridentifikasi diri dengan tokoh-tokoh wayang tertentu dan bercermin serta bercontoh padanya dalam melakukan perbuatan dalam kehidupan sehari-hari. Pengidentifikasian tersebut dapat ditunjukkan dengan pemberian nama. Selain pemberian nama terkadang juga penyerupaan diri manusia dengan tokoh-tokoh wayang juga diberikan kepada orang lain yang memiliki kelebihan-kelebihan tertentu. Karena begitu besarnya peran wayang dalam kehidupan orang Jawa, maka tidaklah berlebihan apabila dikatakan bahwa wayang merupakan identitas manusia Jawa.

Sejarah Perkembangan Kesenian Wayang
Kesenian wayang dalam bentuknya yang asli timbul sebelum kebudayaan Hindu masuk di Indonesia dan mulai berkembang pada jaman Hindu Jawa.
Pertunjukan Kesenian wayang merupakan bagian dari upacara keagamaan orang Jawa. Asal-usul kesenian wayang hingga dewasa ini masih menjadi masalah yang belum terpecahkan secara tuntas. Namun demikian banyak para ahli mulai mencoba menelusuri sejarah perkembangan wayang.

Menurut Kitab Centini disebutkan bahwa asal-usul wayang Purwa mula-mula sekali diciptakan oleh Raja Jayabaya dari Kerajaan Mamenang/Kediri sekitar abad ke 10. Raja Jayabaya berusaha menciptakan gambaran dari roh leluhurnya dan digoreskan di atas daun lontar. Bentuk gambaran wayang tersebut ditiru dari gambaran relief cerita Ramayana pada Candi Penataran di Blitar. Cerita Ramayana sangat menarik perhatiannya karena Jayabaya termasuk penyembah Dewa Wisnu yang setia, bahkan oleh masyarakat dianggap sebagai penjelmaan atau titisan Batara Wisnu. Figur tokoh yang digambarkan untuk pertama kali adalah Batara Guru atau Sang Hyang Jagadnata yaitu perwujudan dari Dewa Wisnu.

Masa berikutnya yaitu pada jaman Jenggala, kegiatan penciptaan wayang semakin berkembang. Semenjak Raja Jenggala Sri Lembuami luhur wafat, maka pemerintahan dipegang oleh puteranya yang bernama Raden Panji Rawisrengga dan bergelar Sri Suryawisesa. Semasa berkuasa Sri Suryawisesa giat menyempurnakan bentuk wayang Purwa. Wayang-wayang hasil ciptaannya dikumpulkan dan disimpan dalam peti yang indah. Sementara itu diciptakan pula pakem cerita wayang Purwa. Setiap ada upacara penting di istana diselenggarakan pagelaran Wayang Purwa dan Sri Suryawisesa sendiri bertindak sebagai dalangnya. Para sanak keluarganya membantu pagelaran dan bertindak sebagai penabuh gamelan. Pada masa itu pagelaran wayang Purwa sudah diiringi dengan gamelan laras slendro. Setelah Sri Suryawisesa wafat, digantikan oleh puteranya yaitu Raden Kudalaleyan yang bergelar Suryaamiluhur. Selama masa pemerintahannya beliau giat pula menyempurnakan Wayang. Gambar-gambar wayang dari daun lontar hasil ciptaan leluhurnya dipindahkan pada kertas dengan tetap mempertahankan bentuk yang ada pada daun lontar. Dengan gambaran wayang yang dilukis pada kertas ini, setiap ada upacara penting di lingkungan kraton diselenggarakan pagelaran wayang.
Pada jaman Majapahit usaha melukiskan gambaran wayang di atas kertas disempurnakan dengan ditambah bagian-bagian kecil yang digulung menjadi satu. Wayang berbentuk gulungan tersebut, bilamana akan dimainkan maka gulungan harus dibeber. Oleh karena itu wayang jenis ini biasa disebut wayang Beber. Semenjak terciptanya wayang Beber tersebut terlihat pula bahwa lingkup kesenian wayang tidak semata-mata merupakan kesenian Kraton, tetapi malah meluas ke lingkungan diluar istana walaupun sifatnya masih sangat terbatas. Sejak itu masyarakat di luar lingkungan kraton sempat pula ikut menikmati pagelaran wayang. Bilamana pagelaran dilakukan di dalam istana diiringi dengan gamelan laras slendro. Tetapi bilamana pagelaran dilakukan di luar istana, maka iringannya hanya berupa Rebab dan lakonnya pun terbatas pada lakon Murwakala, yaitu lakon khusus untuk upacara ruwatan.

Pada masa pemerintahan Raja Brawijaya, beliau dikaruniai seorang putera yang mempunyai keahlian melukis, yaitu Raden Sungging Prabangkara. Bakat puteranya ini dilakukan penyempurnaan wujud wayang Beber dengan cat. Pewarnaan dari wayang tersebut disesuaikan dengan wujud serta martabat dari tokoh itu, yaitu misalnya Raja, Kesatria, Pendeta, Dewa, Punakawan dan lain sebagainya. Dengan demikian pada masa akhir Kerajaan Majapahit, keadaan wayang Beber semakin Semarak. Semenjak runtuhnya kerajaan Majapahit dengan sengkala ; Geni murub siniram jalma ( 1433 / 1511 M ), maka wayang beserta gamelannya diboyong ke Demak. Hal ini terjadi karena Sultan Demak Syah Alam Akbar I sangat menggemari seni kerawitan dan pertunjukan wayang.

Pada masa kerajaan Demak para pemeluk agama Islam ada yang beranggapan bahwa gamelan dan wayang adalah kesenian yang haram karena berbau Hindu. Timbulnya perbedaan pandangan antara sikap menyenangi dan mengharamkan tersebut mempunyai pengaruh yang sangat penting terhadap perkembangan kesenian wayang itu sendiri. Untuk menghilangkan kesan yang serba berbau Hindu dan kesan pemujaan kepada arca, maka timbul gagasan baru untuk menciptakan wayang dalam wujud baru dengan menghilangkan wujud gambaran manusia. Berkat keuletan dan ketrampilan para pengikut Islam yang menggemari kesenian wayang, terutama para Wali, berhasil menciptakan bentuk baru dari Wayang Purwa dengan bahan kulit kerbau yang agak ditipiskan dengan wajah digambarkan miring, ukuran tangan dibuat lebih panjang dari ukuran tangan manusia, sehingga sampai dikaki. Wayang dari kulit kerbau ini diberi warna dasar putih yang dibuat dari campuran bahan perekat dan tepung tulang, sedangkan pakaiannya di cat dengan tinta.

Pada masa itu terjadi perubahan secara besar-besaran diseputar pewayangan. Disamping bentuk wayang baru, dirubah pula tehnik pakelirannya, yaitu dengan mempergunakan sarana kelir/layar, mempergunakan pohon pisang sebagai alat untuk menancapkan wayang, mempergunakan blencong sebagai sarana penerangan, mempergunakan kotak sebagai alat untuk menyimpan wayang. Dan diciptakan pula alat khusus untuk memukul kotak yang disebut cempala. Meskipun demikian dalam pagelaran masih mempergunakan lakon baku dari Serat Ramayana dan Mahabarata, namun dalam pagelaran purwo juga sudah dimasukkan unsur dakwah, walaupun masih dalam bentuk serba pasemon atau dalam bentuk lambang-lambang. Adapun wayang Beber yang merupakan sumber, dikeluarkan dari pagelaran istana dan masih tetap dipagelarkan di luar lingkungan istana.
Pada jaman pemerintahan Sultan Syah Alam Akbar III atau Sultan Trenggana, perwujudan wayang kulit semakin semarak. Bentuk-bentuk baku dari wayang mulai diciptakan. Misalnya bentuk mata, diperkenalkan dua macam bentuk liyepan atau gambaran mata yang mirip gabah padi atau mirip orang yang sedang mengantuk. Dan mata telengan yaitu mata wayang yang berbentuk bundar. Penampilan wayang lebih semarak lagi karena diprada dengan cat yang berwarna keemasan.

Pada jaman itu pula Susuhunan Ratu Tunggal dari Giri, berkenan menciptakan wayang jenis lain yaitu wayang Gedog. Bentuk dasar wayang Gedog bersumber dari wayang Purwa. Perbedaannya dapat dilihat bahwa untuk tokoh laki-laki memakai teken. Lakon pokok adalah empat negara bersaudara, yaitu Jenggala, Mamenang / Kediri, Ngurawan dan Singasari. Menurut pendapat Dr. G.A.J. Hazeu, disebutkan bahwa kata "Gedog" berarti kuda. Dengan demikian pengertian dari Wayang Gedog adalah wayang yang menampilkan cerita-cerita Kepahlawanan dari "Kudawanengpati"atau yang lebih terkenal dengan sebutan Panji Kudhawanengpati. Pada pagelaran wayang Gedog diiringi dengan gamelan pelog. Sunan Kudus salah seorang Wali di Jawa menetapkan wayang Gedog hanya dipagelarkan di dalam istana. Berhubung wayang Gedog hanya dipagelarkan di dalam istana, maka Sunan Bonang membuat wayang yang dipersiapkan sebagai tontonan rakyat, yaitu menciptakan wayang Damarwulan . Yang dijadikan lakon pokok adalah cerita Damarwulan yang berkisar pada peristiwa kemelut kerajaan Majapahit semasa pemerintahan Ratu Ayu Kencana Wungu, akibat pemberontakan Bupati Blambangan yang bernama Minak Jinggo.

Untuk melengkapi jenis wayang yang sudah ada, Sunan Kudus menciptakan wayang Golek dari kayu. Lakon pakemnya diambil dari wayang Purwa dan diiringi dengan gamelan Slendro, tetapi hanya terdiri dari gong, kenong, ketuk, kendang, kecer dan rebab. Sunan Kalijaga tidak ketinggalan juga, untuk menyemarakkan perkembangan seni pedalangan pada masa itu dengan menciptakan Topeng yang dibuat dari kayu. Pokok ceritanya diambil dari pakem wayang Gedog yang akhirnya disebut dengan topeng Panji. Bentuk mata dari topeng tersebut dibuat mirip dengan wayang Purwa.

Pada masa Kerajaan Mataram diperintah oleh Panembahan Senapati atau Sutawijaya, diadakan perbaikan bentuk wayang Purwa dan wayang Gedog. Wayang ditatah halus dan wayang Gedog dilengkapi dengan keris. Disamping itu baik wayang Purwa maupun wayang Gedog diberi bahu dan tangan yang terpisah dan diberi tangkai. Pada masa pemerintahan Sultan Agung Anyakrawati, wayang Beber yang semula dipergunakan untuk sarana upacara ruwatan diganti dengan wayang Purwa dan ternyata berlaku hingga sekarang. Pada masa itu pula diciptakan beberapa tokoh raksasa yang sebelumnya tidak ada, antara lain Buto Cakil. Wajah mirip raksasa, biasa tampil dalam adegan Perang Kembang atau Perang Bambangan.

Perwujudan Buta Cakil ini merupakan sengkalan yang berbunyi: Tangan Jaksa Satataning Jalma (1552 J / 1670 M). Dalam pagelaran wayang Purwa tokoh Buta Cakil merupakan lambang angkara murka. Bentuk penyempurnaan wayang Purwa oleh Sultan Agung tersebut diakhiri dengan pembuatan tokoh raksasa yang disebut Buta Rambut Geni, yaitu merupakan sengkalan yang berbunyi Urubing Wayang Gumulung Tunggal: (1553 J / 1671 M).

Sekitar abad ke 17, Raden Pekik dari Surabaya menciptakan wayang Klitik, yaitu wayang yang dibuat dari kayu pipih, mirip wayang Purwa. Dalam pagelarannya dipergunakan pakem dari cerita Damarwulan, pelaksanaan pagelaran wayang klitik tersebut dilakukan pada siang hari.

Pada tahun 1731 Sultan Hamangkurat I menciptakan wayang dalam bentuk lain yaitu wayang Wong. Wayang wong adalah wayang yang terdiri dari manusia dengan mempergunakan perangkat atau pakaian yang dibuat mirip dengan pakaian yang ada pada wayang kulit.

Dalam pagelaran mempergunakan pakem yang berpangkal dari Serat Ramayana dan Serat Mahabarata. Perbedaan wayang Wong dengan wayang Topeng adalah ; pada waktu main, pelaku dari wayang Wong aktif berdialog; sedangkan wayang Topeng dialog para pelakunya dilakukan oleh dalang.

Pada jaman pemerintahan Sri Hamangkurat IV; beliau dapat warisan Kitab Serat Pustakaraja Madya dan Serat Witaraja dari Raden Ngabehi Ranggawarsito. Isi buku tersebut menceritakan riwayat Prabu Aji Pamasa atau Prabu Kusumawicitra yang bertahta di negara Mamenang/Kediri. Kemudian pindah Kraton di Pengging.
Isi kitab ini mengilhami beliau untuk menciptakan wayang baru yang disebut wayang Madya. Cerita dari Wayang Madya dimulai dari Prabu Parikesit, yaitu tokoh terakhir dari cerita Mahabarata hingga Kerajaan Jenggala yang dikisahkan dalam cerita Panji. Bentuk wayang Madya, bagian atas mirip dengan wayang Purwa, sedang bagian bawah mirip bentuk wayang gedog. Semasa jaman Revolusi fisik antara tahun 1945-1949, usaha untuk mengumandangkan tekad pejuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia dilakukan dengan berbagai cara.

Salah satu usaha ialah melalui seni pedalangan. Khusus untuk mempergelarkan cerita-cerita perjuangan tersebut, maka diciptakanlah wayang Suluh. Wayang Suluh berarti wayang Penerangan, karena kata Suluh berarti pula obor sebagai alat yang biasa dipergunakan untuk menerangi tempat yang gelap. Bentuk wayang Suluh, baik potongannya maupun pakaiannya mirip dengan pakaian orang sehari-hari. Bahan dipergunakan untuk membuat wayang Suluh ada yang berasal dari kulit ada pula yang berasal dari kayu pipih. Ada sementara orang berpendapat bahwa wayang suluh pada mulanya lahir di daerah Madiun yang di ciptakan oleh salah seorang pegawai penerangan dan sekaligus sebagai dalangnya. Tidak ada bentuk baku dari wayang Suluh, karena selalu mengikuti perkembangan jaman. (Sutini, dalam http://www.jawapalace.org /wayang.html).

Sekilas Tentang Pakeliran Purwo
Wayang Purwa adalah perlambang kehidupan manusia di dunia ini. Berdasarkan dari sejarahnya, induk/sumber cerita wayang itu, baik Ramayana maupun Mahabharata, kedua-duanya itu merupakan Weda (kitab suci) agama hindu yang kelima, yang disebut panca weda. Kedua kitab tersebut memuat pelajaran weda yang disusun berujud cerita. Serat Ramayana diciptakan oleh Resi Walmiki menceritakan pelaksanaan karya Awatara Rama untuk mensejahterakan dunia. Serat Mahabharata diciptakan oleh Resi Wyasa, menceritakan pelaksanaan karya Awatara Krisna juga untuk mensejahterakan dunia.
Berkaitan penciptaan pada dunia wayang pada intinya cerita wayang berasal dari dewa-dewa bernama Hyang Manikmaya (Betara Guru) dan Hyang Ismaya (Semar). Mereka adalah putera dari Hyang Tunggal. Hyang Tunggal tidak diwujudkan dalam wayang. Kedua putra itu muncul secara bersamaan dalam bentuk cahaya. Manikmaya bercahaya bersinar-sinar. Ismaya bercahaya kehitam-hitaman. Kedua cahaya ini berebut untuk mendapatkan status sebagai yang tertua diantara mereka.

Kemudian Hyang Tunggal bersabda, bahwa yang tertua adalah cahaya yang kehitam-hitaman, tetapi diramalkan bahwa dia tak dapat berjiwa sebagai Dewa Ia diberi nama Ismaya. Karena ia memiliki sifat sebagai manusia maka dititahkan supaya tetap tinggal di dunia dan mengasuh turunan Dewa yang berdarah Pendawa. Maka diturunkanlah ia kedunia dan bernama Semar, yang berbentuk manusia yang sangat jelek rupa. Cahaya yang bersinar terang diberi nama Manikmaya dan tetap tinggal di Suralaja (kerajaan Dewa). Manikmaya merasa bangga, karena tidak mempunyai cacat dan sangat berkuasa. Tetapi sikap yang demikian itu menyebabkan Hyang Tunggal memberinya beberapa kelemahan.

Kedua kejadian ini merupakan perlambang. Ismaya adalah lambang badan manusia yang kasar dan Manikmaya lambang kehalusan bathin manusia. Raga kasar (Semar) senantiasa menjaga kelima Pendawa yang berujud Panca indera atau kelima perasaan tubuh manusia: indera penciuman (Yudistira); indera pendengaran (Werkodara); indera penglihatan (Arjuna); indera perasa (Nakula), dan indera peraba (Sadewa). Tugas dari Semar adalah menjaga kesejahteraan Pendawa , supaya mereka menjauhi peperangan dengan Korawa (rasa amarah). Tetapi Hyang Manikmaya lah yang senantiasa menggoda sehingga Pendawa dan Kurawa tidak pernah berhenti berperang. Hingga akhirnya terjadilah Baratayuda, di mana Pendawalah yang menjadi pemenangnya.

Pada pagelaran wayang kulit nilai-nilai yang diajarkan terkait dengan cerita dan tokoh-tokoh tertentu. Adapun nilai-nilai dalam pagelaran diantaranya adalah nilai kepahlawanan contoh: tokoh Kumbakarna, Adipati Karna, nilai kesetiaan contoh: tokoh Dewi Sinta, Raden Sumantri (Patih Suwanda) dan sebagainya; nilai keangkara murkaan contoh: tokoh Rahwana, Duryudana dan sebagainya; nilai kejujuran contoh: Tokoh Puntadewa dan sebagainya. dan sebagainya. dan sebagainya; Di sini masih banyak nilai-nilai yang lain yang patut ditimba manfaatnya bagi kita semua. Selain itu dalam pegelaran wayang kulit juga terdapat lambang-lambang yang mengambarkan kisah hidup manusia di dunia. Kalau kita mengamati lakon Dewa Ruci di dalamnya mengandung lambang kehidupan manusia di dalam mencapai cita-cita hidup kita harus dapat melewati beberapa tantangan, kalau kita berhasil mencapainya kita akan mendapatkan buahnya.

Pergelaran seni pedalangan, baik untuk waktu semalam suntuk maupun untuk 4 jam atau hanya waktu 2 jam, namun lakon tersebut kedudukannya tetap, ialah merupakan pokok dari pada pergelaran seni pedalangan. Lakon-lakon pewayangan menyangkut apa yang disebut pakem yang dalam bahasa Jawa berarti: pathokan, paugeran atau wewaton. Pakem meliputi 2 macam hal yang dalam pergelaran terpadu menjadi satu kesatuan, yaitu : (1). Pakem tentang lakon; dan (2). Pakem yang mengenai tehnik perkeliran. Pada waktu dipergelarkan dalam perkeliran dua pakem itu satu sama lain saling isi-mengisi dan jalin-menjalin, sehingga dapat mendatangkan suatu proses cerita yang mengandung keindahan serta pendidikan yang tinggi.

Lakon-lakon pewayangan yang begitu banyak dipergelarkan dewasa ini, pada hakekatnya dapat dibagi menjadi 4 bagian, ialah: 1. Lakon wayang yang disebut pakem; 2. Lakon wayang yang disebut carangan; 3. Lakon wayang yang disebut gubahan; 4. Lakon wayang yang disebut karangan. Penjelasan dari lakon pewayangan tersebut sebagai berikut : 1. Lakon pakem : yang disebut lakon-lakon pakem itu sebagian besar ceritanya mengambil dari sumber-sumber cerita dari perpustakaan wayang, misalnya: lakon Bale Sigala-gala, pandawa dadu, baratayuda, rama gandrung, subali lena, anoman duta, brubuh ngalengka dan lain sebagainya. 2. Lakon carangan : yang disebut carangan itu hanya garis pokoknya saja yang bersumber pada perpustakaan wayang, diberi tambahan atau bumbu-bumbu berupa carangan (carang Jw = dahan), seperti lakon-lakon : babad alas mertani, partakrama, aji narantaka, abimanyu lahir dll. 3. Lakon gubahan : yang disebut gubahan itu ialah lakon yang tidak bersumber pada buku-buku cerita wayang, tetapi hanya menggunakan nama dan negara-negara dari tokoh-tokoh yang termuat dalam buku-buku cerita wayang, misalnya lakon-lakon: irawan Bagna, gambiranom, dewa amral, dewa katong dsb. 4. Lakon karangan : yang disebut lakon karangan itu ialah suatu lakon yang sama sekali lepas dari cerita wayang yang terdapat dalam buku-buku sumber cerita wayang, misalnya lakon-lakon : praja binangun, linggarjati, dan sebagainya. Dalam lakon praja binangun tersebut diketengahkan nama tokoh-tokoh wayang seperti : ratadahana (Jendral Spoor), Kala Miyara (Meiyer), Dewi Saptawulan (Juliana), Bumiandap (Nederland) dan sebagainya.

Untuk mengetahui sesuatu lakon wayang itu apakah pakem atau bukan, tidaklah mudah, apabila orang tidak mengenal dan memahami sumber cerita wayang. Adapun sumber cerita wayang itu ada 2 macam yaitu: 1. Sumber-sumber cerita wayang yang berupa buku-buku, misalnya : Maha Bharata, Ramayana, Pustaka Raja Purwa, Purwakanda dll; 2. Sumber-sumber cerita wayang yang semula berasal dari lakon carangan atau gubahan yang telah lama disukai oleh masyarakat. Sumber-sumber cerita ini disebut pakem purwa-carita yang kini sudah banyak juga yang dibukukan, misalnya lakon-lakon: Abimanyu kerem, doraweca, Suryatmaja maling dan sebagainya. Purwakanda adalah salah satu sumber cerita wayang di Yogyakarta yang memuat kisah sejak bathara guru menerima kekuasaan dari sanghyang tunggal sampai dengan bertahtanya R. Yudayana sebagai Raja di negeri Ngastina. Buku tersebut berbentuk tembang dan yang ada mungkin hanya di Yogyakarta saja, baik dalam karaton maupun diluarnya. Serat purwakanda tersebut dihimpun atas perintah almarhum Sri Sultan Hamengkubuwono V. Penghimpunan dan penyusunan Serat Purwakanda ini kira-kira bersamaan waktunya dengan almarhum R.Ng.Ronggowarsita di Solo, yang juga menghimpun dan menyusun Serat Pustaka Raja Purwasita yang terkenal itu. Serat purwakanda tesebut oleh sebagian dalang-dalang di Yogyakarta, terutama dalang-dalang dari keraton Yogyakarta dijadikan sumber lakon-lakon wayang dalam perkelirannya,sedangkan di Solo adalah Serat Raja Purwasito.

Pakem tehnik perkeliran atau wewaton tehnik perkeliran itu setiap daerah atau setiap gaya tentu ada dan sudah barang tentu tidak dapat diabaikan sama sekali. Hal itu erat sekali hubungannya dengan perasaan indah yang hidup di masing-masing daerah. Misalnya perkeliran gaya sala berbeda dengan gaya yogya. Berbeda pula dengan gaya banyumas, tegal, jawa timur, dll. Mungkin hal ini pula sangkut-pautnya dengan falsafah hidup dalam masyarakat itu sendiri-sendiri.

Identifikasi Tokoh Wayang dalam Kehidupan Orang Jawa

Pakeliran purwo merupakan bentuk pertunjukan yang penuh dengan cerita falsafah hidup. Setiap tokoh dalam pakeliran purwo mempunyai watak dan prilaku yang mencerminkan kehidupan manusia di dunia. Watak dan prilaku ini meliputi watak yang baik dan juga watak yang tidak baik. Masyarakat Jawa gemar mengidentifikasikan diri, bercermin dan sekaligus mencontoh prilaku dan watak tokoh-tokoh wayang tertentu. Bentuk identifikasi bisa ditemui dalam perbuatan dalam kehidupan sehari-hari.
Lebih jauh dikatakan Mulyono (1992: 12) bahwa wayang merupakan simbol yang menerangkan eksistensi manusia dalam hubungannya antara daya natural dengan supernatural. Hubungan antara manusia dengan alam semesta, antara makhluk dengan penciptanya, antara pribadi dengan sesamanya. Wayang banyak memberikan ajaran tentang hakikat kehadiran manusia baik sebagai individu maupun kedudukannya sebagai anggota masyarakat. Wayang berisi ajaran batin dan ajaran lahir yang sesuai dengan peradaban manusia dan kesusilaan. Seni pertunjukan wayang mampu membantu manusia dalam memahami hidup dan mengenal diri sendiri serta sesama maupun orang lain tanpa prasangka dan tanpa pra-anggapan yang negatif.

Masyarakat Jawa dalam berintrospeksi diri atas kejadian yang dialami dalam kehidupan sehari-hari, gemar mengaitkannya dengan cerita-cerita dalam wayang. Hal tersebut digunakan sebagai upaya menghibur diri. Selain itu, wayang juga digunakan untuk menunjukkan suri tauladan yang baik bagi kehidupan.

Pada sebuah pagelaran wayang seorang dalang dapat menyelipkan berbagai berbagai ajaran kehidupan, moral dan sebagainya. Ajaran tersebut dapat berfungsi untuk mendidik anak. Selain itu juga keterbukaan penafsiran dalam wayang juga bisa dijadikan sebagai sarana pendewasaan berpikir.

Pengidentifikasian tersebut dapat ditunjukkan dengan pemberian nama. Selain pemberian nama terkadang juga penyerupaan diri manusia dengan tokoh-tokoh wayang juga diberikan kepada orang lain yang memiliki kelebihan-kelebihan tertentu, misalnya tokoh Semar. Semar adalah punakawan dari para ksatria yang luhur budinya dan baik pekertinya. Sebagai punakawan Semar adalah abdi, tetapi berjiwa pamong, sehingga oleh para ksatria Semar dihormati.

Penampilan tokoh Semar dalam pewayangan sangat menonjol. Walaupun dalam kehidupan sehari-hari tidak lebih dari seorang abdi, tetapi pada saat-saat tertentu Semar sering berperan sebagai seorang penasehat dan penyelamat para ksatria disaat menghadapi bahaya baik akibat ulah sesama manusia maupun akibat ulah para Dewa. Dalam pewayangan tokoh Semar sering dianggap sebagai Dewa yang ngejawantah atau Dewa yang berujud manusia.

Menurut Serat Kanda dijelaskan bahwa Semar sebenarnya adalah anak Syang Hyang Tunggal yang semula bernama Batara Ismaya saudara tua dari Batara Guru. Semar sebagai Dewa yang berwujud manusia mengemban tugas khusus menjaga ketenteraman dunia dalam penampilan sebagai rakyat biasa. Para ksatria utama yang berbudi luhur mempunyai keyakinan bilamana menurut segala nasehat Semar akan mendapatkan kebahagiaan. Semar dianggap memiliki kedaulatan yang hadir ditengah-tengah para ksatria sebagai penegak kebenaran dan keadilan. Dengan kata lain Semar adalah simbul rakyat yang merupakan sumber kedaulatan bagi para ksatria atau yang berkuasa dan pengayom rakyat.

Tokoh Semar adalah simbol yang cukup unik dalam pewayangan Jawa. Dia bisa menjadi wong cilik sekaligus juga seorang dewa. Biasanya para penguasa seolah ingin mewujudkan dirinya sebagai seorang semar. Tetapi yang menjadi masalah adalah hubungan antara hamba dan tuannya atau dalam konsep modern disebut dengan penyelesaian struktural yang diakui secara terus terang, tetapi dalam paham Jawa atau dalam kerajaan Jawa hubungan antara penguasa dan rakyatnya tidaklah demokratis seperti dalam pengertian modern (Hooker, 2001: 478).

Pada Pemerintahan orde Baru dibawah kepemimpinan Soeharto sebagai presiden, seni pertunjukan wayang dimanfaatkan untuk sosialisasi program-program pembangunan. Jika ditelusuri lebih lanjut mengenai hubungan wayang dan pemerintahan Soeharto, pada bulan April 1969, dalam rangka peluncuran Repelita (Rencana Pembangunan Lima Tahun) yang pertama, Soeharto mengumpulkan dalang-dalang wayang kulit dari berbagai daerah di istana kepresidenan, Jakarta. Soeharto bermaksud menggugah semangat mereka membantu proses pembangunan nasional dengan menyebarkan tujuan dan prioritasnya (Hooker, 2001: 477).

Sifat Soeharto sebagai pengayom dan pelindung rakyat kecil diperlihatkan saat dia berdialog dengan para petani. Itu terbukti dari rutinitas dia bertemu dengan para petani dalam acara Klompencapir (Kelompok Pendengar, Kelompok Pembaca dan Kelompok Pemirsa) di daerah-daerah. Soeharto berdialog langsung dengan mereka. Soeharto mendengarkan keluhan-keluhan mereka, lalu ditanggapi satu per satu. Kegiatan seperti itu bisanya ditayangkan di TVRI (Televisi Republik Indonesia) yang merupakan televisi milik pemerintah.

Sebenarnya Klompencapir bukan sesuatu yang baru karena sudah dipelopori sejak akhir tahun 1960-an. Pada tahun 1969, demi pembangunan FAO, mempopulerkan apa yang disebut sebagai Dewan Pembina Siaran Desa (Dhakidae, 2003: 269). Kegiatan ini disiarkan melalui stasiun Radio Republik Indonesia. Setelah itu, klompencapir diresmikan tanggal 14 Juni 1984 dengan Keputusan Menteri Penerangan, pada waktu itu dijabat oleh Harmoko. Pada tahun itu terbentuk 41.117 klompencapir yang harus dibina-bina di desa-desa Indonesia.

Dalam konteks seperti itu, Soeharto sebagai pengayom, pelindung bagi mereka yang hidup di pedesaan. Mereka tidak mengetahui sosok sebenarnya dari diri Soeharto, terutama dalam menjalankan pemerintahan. Mereka hanya mengetahui, Soeharto adalah dewa penolong, seorang yang bijak, seorang Bapak Pembangunan Bangsa. Gaya bicaranya halus, banyak tersenyum, sopan, selalu memperhatikan setiap pertanyaan para petani. Soeharto ingin menjadikan tokoh Semar sebagai bagian simbol-simbol kekuasaan dan pemerintahannya. Soeharto dalam beberapa pidato-pidatonya mengatakan bahwa dirinya berasal dari desa dan anak seorang petani yang sejak kecil hidup susah. Seperti yang kita ketahui, Semar juga merupakan simbol dari orang kecil.

Ada konsep yang dapat dipakai untuk menjelaskan sifat kebapakan Soeharto. Konsep tersebut adalah patrimonial, lebih khusus lagi konsep patron-client (Moedjanto, 1987: 102). Konsep ini dikembangkan oleh Max Weber untuk menjelaskan pola hubungan antara atasan dan bawahan. Atasan bertindak sebagai patron dan bawahan sebagai client. Lebih lanjut Moedjanto menguraikan konsep patron client dalam masyarakat Jawa. Dia menjelaskan (Moedjanto, 1987: 102) bahwa pada masyarakat Jawa dikenal konsep gusti dan kawula. Hubungan antara patron dan client tidak dibangun menurut sistem tertentu dalam sebuah birokrasi, tetapi menurut pola hubungan keluarga (famili). Oleh sebab itu, kedudukan seseorang bawahan (client) di dalam birokrasi ditentukan bukan oleh kemampuan profesinya melainkan oleh loyalitasnya terhadap atasan (patron). Keterikatan dan keloyalitasan terhadap bapak (patron) akan menjamin anak buah memperoleh status sosial dan sumber ekonomi.

Pada masyarakat pra atau non kerajaan, pemimpin berarti seorang pater. Ia harus bersifat kebapakan. Semua persoalan kembali kepadanya untuk dipecahkan. Semua warga masyarakat menyerahkan pemecahan masalah itu kepada bapak dan mereka akan menaatinya. Dalam situasi sulit karena ada ancaman, bapak akan menjadi pengayom dan pengayem (Moedjanto, 1987: 102).

Semar sering juga disebut dengan “Ki Lurah Semar” yang merupakan punakawan utama dalam pewayangan. Semar adalah tokoh wayang asli Indonesia. Di dalam kitab Mahabarata, tokoh Semar sema sekali tidak disebut. Semar dalam wayang Jawa menunjukkan suatu pengertian yang mendalam tentang apa yang sebenarnya bernilai pada manusia: bukan rupa yang kelihatan, bukan pembawaan lahiriah yang sopan santun, bukan penguasaan tata krama kehalusan yang menentukan derajat kemanusiaan seseorang, melainkan adalah sikap batinnya (Suseno, 1991: 39).

Mengikuti penjelasan Sindhunata (1999a: 208), Semar itu bukan hanya tokoh wayang, tapi juga tokoh yang selalu melekat pada kehidupan orang Jawa sepanjang jaman. Sebelum tanah Jawa ada, Semar sudah ada. Karena itu Semar juga disebut sebagai danyangane tanah Jawa (lelembut yang menjaga tanah Jawa). Lebih lanjut mengikuti penjelasan Sindhunata, dengan mengambil uraian yang ada dalam disertasi Koes Sardjono (1947), bahwa tokoh Semar itu bukan pertama-tama tokoh mistik atau ngelmu seperti anggapan orang kebanyakan.

Tokoh Semar adalah tokoh pewayangan dari budaya Jawa. Oleh sebab itu, asal-usul dan cerita-cerita mengenainya, diantaranya berkaitan dengan keadaan alam di tanah Jawa, yaitu cerita mengenai ditelannya gunung Mahameru. Ketiga putra Sang Hyang Tunggal beradu kesaktian untuk membuktikan siapa dari ketiganya yang paling sakti. Siapa yang dapat menelan gunung Mahameru dan kemudian memuntahkannya kembali, maka dialah yang berhak atas singgasana kahyangan.

Sang Hyang Antaga mendapat kesempatan pertama untuk menunjukkan kesaktiannya. Dia menelan gunung Mahameru. Tapi sampai mulutnya robek, gunung tersebut tetap tak dapat ditelannya. Pada giliran kedua, Sang Hyang Usmaya dapat menelan gunung Mahameru. Ismaya dapat menelan gunung Mahameru, tapi tak dapat memuntahkannya kembali sehingga gunung tersebut hanya sampai dipantatnya. Pada giliran selanjutnya, tampillah Sang Hyang Manikmaya. Berhubung gunung Mahameru masih di pantat Sang Hyang Ismaya, maka Sang Hyang Manikmaya tak dapat membuktikan kesaktiannya. Tapi justru dialah yang dimenangkan oleh Sang Hyang Tunggal sebagai pewaris Kahyangan. Setelah kejadian ini, Sang Hyang Ismaya diperintah untuk turun ke bumi bertindak sebagai pamong bagi manusia yang berbudi baik.

Contoh lain lakon mengenai Semar adalah Semar Minta Bagus (Semar Gugat). Lakon itu menceritakan Arjuna yang “menghina” Semar. Arjuna memegang kuncung kepala Semar semata-mata untuk menyenangkan Srikandi. Semar marah dan menyatakan siapakah dia (Arjuna) sebenarnya. Ternyata, dia (Semar) lebih sakti dari tuannya. Lakon-lakon lainnya mengenai Semar yaitu: Bathara Wisnu Krama, Semar Tambak, Manumayasa Rabi, Semar Kuning, Pandu Lair, Pandu Krama, Mintaraga, Semar Mbangun Klampis Ireng, Semar Boyong, Semar Mbarang Jantur, Makutha Rama, Gatotkaca Sungging, Kilat Buwana, Semar Kuning.

Selain tokoh Semar pengidentifikasian wayang dalam kehidupan masyarakat Jawa yang lain adalah Batara Kamajaya. Dewa Batara Kamajaya merupakan putra dari Batara Ismaya (Semar) yang tinggal di Kayangan Cokrokembang. Batara Kamajaya punya istri Batari Ratih pasangan ini selalu rukun bersama istrinya. Paras pasangan dewa ini sangat elok. Maka dari itu oleh orang Jawa dijadikan idaman sampai pada cita-citanya dimana kalau punya putra atau putri diharapkan dan dicita-citakan seperti Batara Kamajaya dan Batari Ratih yang berwajah elok dan cantik. Hal ini terbukti di dalam acara tujuh bulan bayi di kandungan diadakan upacara mitoni yang dilambangkan pada cengkir (kelapa muda) berlukiskan Batara Kamajaya dan Batari Ratih. Pandawa juga seringkali menjadi identifikasi Manusia Jawa. Pandawa yang terdiri dari Puntadewa, Bima, Arjuna, Nakula dan Sadewa. Unsur keadilan dan keberanian dalam dunia pewayangan dilambangkan dalam diri tokoh Pandawa. Yudhistira, putra tertua yang melambangkan keadilan; Bhima adalah putra yang sangat kuat; Arjuna, sangat tampan dan memiliki kekuatan gaib; Nakula dan Sahadewa, adalah putra kembar Pandawa. Mereka secara bersama-sama memerintah Negara Amarta. Semua keluarga Pandawa adalah turunan Dewa. Kaurawa yang dipimpin oleh Duryodhana sebaliknya memiliki sifat suka menipu, jahat, dll. Mereka memperdaya Pandawa untuk mempertaruhkan bagian kerajaan mereka dengan permainan dadu (di mana mereka curang). Pendawa harus mengungsi ketengah hutan selama 12 tahun, dan harus menyamar selama setahun sebelum mereka kembali untuk menuntut hak atas kerajaan. Namun Kurawa menolak untuk mundur sehingga terjadi perang yang amat dahsyat, Bharatayuddha, dimana semua Kurawa terbunuh. Salah satu dari sekutu Pendawa adalah Krisna (yang sebenarnya adalah reinkarnasi dari Bethara Wisnu) yang berperan dalam menentukan kemenangan bagi Pendawa.

Kelimanya tokoh Pandawa digambarkan bersama-sama bahagia dan bersama-sama menderita Tiap-tiap tokoh Pandawa mempunyai ciri watak yang berlainan antara satu dengan lainnya, namun dalam segala tingkah lakunya selalu bersatu dalam menghadapi segala tantangan. Puntadewa yang paling tua sangat terkenal sebagai raja yang adil dan jujur; bahkan diceritakan berdarah putih. Puntadewa dianggap titisan Dewa Dharma yang memiliki watak menonjol selalu mementingkan kepentingan orang lain, rasa sosialnya sangat besar. Masyarakat Jawa sering mengidentifikasi Pandawa dengan memberi nama putra atau putri mereka dengan nama Pandawa dengan harapan dan cita-cita kalau dewasa nanti anak-anak mereka akan mempunyai sifat-sifat seperti yang dimiliki oleh Pandawa.

Penutup
Pagelaran wayang kulit syarat dengan nilai-nilai dan petuah hidup bagi manusia. Wayang kulit merupakan refleksi budaya Jawa dalam pengertian sebagai pencerminan dari kenyataan kehidupan, nilai dan tujuan kehidupan, moralitas, harapan dan cita-cita kehidupan orang Jawa. Sebagai suatu kebudayaan, dalam wayang terkandung ajaran-ajaran bagaimana hidup itu harus dijalani. Melalui cerita wayang masyarakat Jawa memperoleh gambaran kehidupan mengenai bagaimana hidup sesungguhnya dan bagaimana hidup seharusnya.

Wayang sebagai kehidupan rohani masyarakat Jawa berisi nilai-nilai luhur yang dapat membantu manusia dalam melangsungkan, mempertahankan hidupnya, sehingga ia dapat mencapai kesempurnaan hidupnya, yakni dapat membentuk dirinya menjadi manusia dan dapat menciptakan suatu kehidupan yang lebih baik.

DAFTAR PUSTAKA
Anderson, Benedict R.O’G. 1996. Mitologi dan Toleransi Orang Jawa. Yogyakarta: Qalam.

Dhakidae, Daniel, 2003. Cendekiawan dan Kekuasaan dalam Negara Orde Baru. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama

Dwipayana, G dan Ramadhan K.H. 1989. Soeharto: Pikiran, Ucapan dan Tindakan Saya. Jakarta: Citra Lamtoro Gung Persada.

Endraswara, Suwardi. 2003. Mistik Kejawen: Sinkretisme, Simbolisme, dan Sufisme dalam Budaya. Yogyakarta: Spiritual Jawa

Geertz, Clifford. 1992a. Kebudayaan dan Agama. Yogyakarta: Kanisisus

Hooker, Virginia Matheson, 2001. “Ekspresi: Kreatif Biar pun Tertekan” dalam Emerson, Donald K (editor) 2001. Indonesia Beyond Soeharto: Negara, Ekonomi, Masyarakat, Transisi. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama bekerja sama dengan The Asia Foundation.

Moedjanto. G. 1987. Konsep Kekuasaan Jawa: Penerapannya oleh Raja-raja Mataram. Yogyakarta: Kanisius.

Magnis Suseno, Franz Von, 1988, Etika Politik, Prinsip-Prinsip Moral Dasar dan Kenegaraan Modern, Jakarta, Gramedia Pustaka Utama.

Sardjono, Agus R. 2001. Sastra dalam Empat Orba. Yogyakarta: Bentang

Soekmono, 1981. Pengantar Sejarah Kebudayaan Indonesia (jilid 2). Yogyakarta: Kanisius.

Sindhunata, 1990a. Bayang-bayang Ratu Adil. Jakrta: Gramedia Pustaka Utama

Slamet, T.Suparno, 2006, Pakeliran Purwo Jawa dari Ritus sampai Pasar, Disertasi Program Pasca Sarjana Universitas Airlangga.

Sutini, Wayang, http://www.jawapalace.org/wayang.html

Sumber tulisan: Nanang Haryono
Institute for Social, Education and Cultural Studies
InSECS Jawa Timur
www.insecs.org

Download Full Text (pdf):

Pakeliran Purwa Dalam Budaya Jawa (download)
Read More......

Penelitian Kebudayaan di Jawa Timur

Ragam budaya masyarakat di Jawa Timur menarik untuk ditulis, sebagai bahan pengayaan ide pada masa kini dan masa yang akan datang, juga sebagai bahan pembelajaran bagi generasi masa kini. Pembangunan dalam konteks budaya termasuk di dalamnya pembangunan pendidikan, ekonomi dan pembangunan politik, merupakan bahasan yang menarik. Tulisan berikut merupakan pengantar menuju eksplorasi budaya di perkotaan (masyarakat urban) di Jawa Timur. Pemilihan kekhususan masyarakat urban karena kepadatan dinamika sosial dan perubahan budaya saat ini lebih terasa pada masyarakat urban.

Pendahuluan
Kebudayaan modern lahir dari suatu proses panjang yang ditandai oleh berbagai bentuk aktivitas sosial. Aktivitas sosial tersebut mempengaruhi sebagian atau bahkan keseluruhan dari proses kebudayaan –pada umumnya, yang berlangsung dalam lingkungan sosial tersebut. Dampak yang paling dirasakan dari aktivitas sosial melalui idiom-idiom maupun institusi kebudayaan modern adalah pada pertumbuhan kebudayaan lokal. Kebudayaan lokal yang menjadi sasaran pengaruh kebudayaan modern, di satu sisi dapat menjadikannya satu kesatuan yang terintegrasi. Namun di sisi lain memberikan dampak yang dapat lebih buruk atau dalam istilah Georg Simmel a general kulturnot yang dipahami oleh PA Lawrence sebagai a cultural malaise. Menurut AB. Widyanta, kedua pemahaman ini dapat ditranslasikan sebagai kebangkrutan kebudayaan, yakni antagonisme antara kreativitas individu dan institusi kebudayaan modern (Widyanta, 2002: 141). Bentuk konflik dan krisis yang ditimbulkan kebudayaan modern dilukiskan Simmel dalam bentuk adanya pemiskinan-subjektivitas yang disebut atrophy (terhentinya pertumbuhan budaya subjektif), karena hypertrophy (penyuburan budaya objektif) (Widyanta: 2002: vi). Namun demikian, kebudayaan modern terus saja menjelma lebih ”dalam” atau merasuk hingga pola pikir maupun struktur sosial, bukan saja masuk dalam aktivitas sosial di perkotaan, tetapi juga masuk dalam aktivitas sosial di pedesaan. Aktivitas sosial di perkotaan –terutama di kota-kota metropolitan, seperti di Indonesia, dapat kita saksikan pengaruhnya di kota Surabaya, Jakarta, Makassar, Palembang maupun Medan. Di kota-kota semacam inilah, pengaruh kebudayaan modern lebih besar dampaknya. Hal ini disebabkan oleh produk budaya modern tersebut dapat dengan lebih cepat ditanggapi atau dimanfaatkan oleh masyarakat di perkotaan. Dengan kata lain, akses produk kebudayaan modern lebih banyak tumbuh di lingkungan perkotaan.

Pengaruh Kebudayaan Modern Terhadap Kebudayaan Lokal
Definisi Kebudayaan
Menurut Sutan Takdir Alisjahbana, kata Kebudayaan berasal dari kata kultur yang dalam kata Latin adalah cultura (kata kerjanya, colo, colore) dan artinya memelihara atau mengerjakan, mengolah (1986: 205). Pengertian ini berkembang menjelang abad 18 melalui karangan Herder tentang sejarah semesta, Ideen zur Geschichte der Menscheit, dan terutama karangan Klem berjudul Allgemeine Culturgesschichte der Menscheit. Dalam analisa kedua tokoh ini perkataan kultur atau kebudayaan dalam arti yang modern mendapat arti tingkat kemajuan, yaitu tingkat pengerjaan atau pengolahan yang dicapai manusia pada suatu ketika dalam perjalanan sejarah (1986: 205). Lebih jauh Alisjahbana menyebutkan bahwa terdapat 7 (tujuh) penggolongan defenisi kebudayaan (1986: 207), yakni pertama menekankan kenyataan, bahwa kebudayaan itu adalah suatu keseluruhan yang kompleks, yang terjadi dari unsur-unsur yang berbeda seperti pengetahuan, kepercayaan, seni, hukum, moral, adat istiadat, dan segala kecakapan yang lain yang diperoleh manusia sebagai anggota masyarakat. Kedua, menekankan sejarah kebudayaan, yang memandang kebudayaan sebagai warisan sosial atau tradisi.

Ketiga, menekankan segi kebudayaan yang normatif, yakni kebudayaan sebagai cara, aturan dan jalan hidup manusia. Disini juga ditekankan cita-cita, nilai-nilai dan kelakukan. Keempat, pendekatan secara Psikologi, kebudayaan sebagai penyesuaian manusia kepada sekitarnya. Dalam hal ini, Summer dan Keller yang menekankan penyesuaian manusia pada keadaan dan syarat-syarat hidupnya. Sedangkan Kroeber dan Kluckhohn menekankan usaha belajar dan pembiasaan serta defenisi yang bersifat psikologi murni yang dirumuskan dalam istilah psiko-analisis dan psikologi sosial. Kelima, menekankan hal-hal yang bersifat struktur yang membicarakan pola-pola dan organisasi kebudayaan. Keenam, kebudayaan dipahami sebagai hasil perbuatan atau kecerdasan manusia. Grover merumuskan kebudayaan sebagai hasil pergaulan atau perkumpulan manusia. Dalam hal ini juga ditekankan pikiran-pikiran dan lambang-lambang. Ketujuh merupakan defenisi-defenisi yang tidak lengkap dan tidak bersistem.

Alisjahbana maupun Koentjaraningrat mengakui bahwa banyak sekali definisi-definisi kebudayaan yang mengacu pada suatu disiplin ilmu tertentu, bukan saja antropologi, tetapi juga sosiologi, filsafat, sejarah maupun kesusasteraan. A.L. Kroeber dan C. Kluchhohn pernah mengumpulkan sebanyak mungkin defenisi kebudayaan, dan tercatat paling sedikit terdapat 160 buah defenisi dalam bukunya berjudul Culture, A Critical Review of Concepts and Defenitions (Cambridge, Mass: 1952). Berdasarkan ilmu Antroplogi, Koentjaraningrat mendefenisikan kebudayaan sebagai keseluruhan sistem gagasan, tindakan dan hasil karya manusia dalam rangka kehidupan masyarakat yang dijadikan milik diri manusia dengan belajar (1990: 180).

Kebudayaan –culture, dalam kata Sanskerta adalah buddhayah, dalam bentuk jamak dari buddhi yang berarti budi atau akal. Dengan demikian, ke-budaya-an dapat diartikan hal-hal yang bersangkutan dengan akal, atau daya dari budi (1990: 180). Zoetmulder juga melihat kodrat manusia dengan akal budinya merupakan titik tolak kebudayaan (1951: 14 dalam Soerjanto Poespowardojo, 1993: 218).

Soerjanto Poespowardojo (1993: 227-228) menegaskan bahwa kebudayaan adalah identitas suatu bangsa. Dengan demikian, jelaslah bahwa kebudayaan bukan sekedar pakaian, melainkan hidup yang memolakan setiap sikap dan perbuatan berdasarkan nilai yang dihayati. Kebudayaan di satu pihak adalah ciptaan pribadi-pribadi manusia, namun juga merupakan ciptaan seluruh masyarakat, karena seseorang tidak mungkin menciptakan karya budayanya tanpa pengaruh dan pembentukan dari masyarakat, dimana dia dibesarkan. Maka, kebudayaan adalah keseluruhan warisan yang dilanjutkan dari generasi yang satu ke generasi seterusnya.

Stephen K. Sanderson (2003: 44) tidak melihat kebudayaan sebagai pewarisan secara biologis, tetapi ”kebudayaan sebagai keseluruhan karakteristik para anggota sebuah masyarakat, termasuk peralatan, pengetahuan, dan cara berpikir dan cara bertindak yang telah terpolakan, yang dipelajari dan disebarkan serta bukan merupakan hasil dari pewarisan biologis. Sanderson membagi empat karakteristik utama kebudayaan (2003: 44), pertama, kebudayaan mendasarkan diri pada simbol. Simbol sangat esensial bagi kebudayaan, karena ia merupakan mekanisme yang diperlukan untuk menyimpan dan mentransmisikan sejumlah besar informasi yang membentuk kebudayaan. Kedua, kebudayaan itu dipelajari dan tidak tergantung kepada pewarisan biologis dalam transmisinya. Ketiga, kebudayaan adalah system yang dipikul bersama oleh anggota suatu masyarakat, yakni, ia merupakan representasi dari para anggota masyarakat yang dipandang secara kolektif daripada individual. Keempat, kebudayaan cenderung terintegrasi.

Kebudayaan Modern dan Permasalahannya
Kemunculan era modern di Eropa awal abad 18, dan lahirnya masyarakat modern yang memiliki semangat industrial sebagai akibat revolusi yang mencengangkan kalangan tradisionalis Eropa, menciptakan suatu kebudayaan baru yang kini kita kenal dengan sebutan kebudayaan modern. Isu modern itu sendiri justru menjadi perdebatan hangat berbagai kalangan ilmuan sosial dan filsafat, bahkan ekonomi dan politik hingga melahirkan suatu filosofi baru yang dikenal dengan postmodern. Revolusi industri telah menjadi titik pemberangkatan bagi proses metamorfosa peradaban, dari masyarakat tradisional yang bercorak agraris menuju masyarakat modern yang bercorak industrial (Widyanta, 2002: 9). Franz Magnis-Suseno sebagaimana dikutip Widyanta (2002: 10) menyatakan bahwa keteraturan baru modernitas (seluk beluk kebudayaan, baik yang material dan non material, yang telah menjadi modern) tampil dalam sifatnya yang elementer, yaitu industrialisasi yang determinan pada seluruh kehidupan masyarakat, penghayatan way of life-nya. Widyanta (2002: 10) menyimpulkan bahwa modernisasi ditunjang oleh tiga faktor utama, yakni Kapitalisme dengan teknik modern yang memungkinkan industrialisasi, penemuan subjektivitas manusia modern, dan Rasionalisme. AB. Widyanta mengutip Hikmat Budiman mengatakan bahwa Kapitalisme merupakan proses sosial yang tidak hanya kondusif bagi inovasi, perkembangan, tetapi juga bagi individualisasi, fragmentasi, alienasi, kesesatan, penghancuran kreatif, perkembangan spekulatif, berbagai pergeseran tak terduga dalam metode-metode produksi dan konsumsi serta pergeseran tentang ruang dan waktu (2002: 11). Menurut Ahmad Sahal, kesalahan generasi Frankfurt awal, menurut Habermas, adalah bahwa rasionalitas modern dipahami hanya sebagai "rasio-subjek", yakni yang melulu menyangkut kemampuan akal budi kita mengontrol proses-proses objektif alam semesta melalui ”kerja.” Inilah tipe rasionalitas yang oleh Weber disebut ”rasionalitas-tujuan” (zweckrationalitat). Kalaupun rasionalitas modern nampak timpang dan opresif, hal itu karena rasionalitas-tujuan terlalu mendominasi dan menjarah segala aspek kehidupan. Sahal selanjutnya menegaskan bahwa modernisasi masih mempunyai tipe rasionalitas lain, yang selama ini diabaikan oleh Marx dan generasi Frankfurt awal, yakni "rasio-intersubjektif" atau "rasio-komunikasi", yakni kemampuan akal budi untuk memahami maksud-maksud orang atau kelompok lain secara timbal balik. Proses rasionalisasi tidak perlu berujung pada dominasi dan opresi manakala ia dipahami sebagai pencapaian wacana argumentatif, di mana argumen yang lebih menawarkan klaim kesahihan yang lebih unggul, dapat diterima secara konsensus. Ketika komunikasi suatu ketika mengalami distorsi dan diselingi paksaan, ketika konsensus hanya merupakan pseudo-komunikasi, maka di situlah kritisisme rasional mulai berfungsi, yakni untuk menyingkirkan distorsi-distorsi tersebut. Dan itulah alasannya kenapa bagi Habermas modernisasi adalah “proyek sejarah yang belum selesai”. Habermas ketika ia mengartikan ”proyek modernitas” yang dirumuskan oleh para filosof Pencerahan sejak abad ke-18 sebagai:

”Rangkaian usaha untuk mengembangkan ilmu objektif, moralitas dan hukum universal serta seni otonom menurut logika-dalam masing-masing. Pada saat yang sama, proyek ini dimaksudkan untuk membebaskan potensi-potensi kognitif setiap domain tersebut dari bentuk-bentuk esoterisnya. Para filosof Pencerahan bermaksud mendayagunakan akumulasi dari satuan-satuan budaya itu untuk memperkaya (makna) kehidupan sehari-hari –yakni demi terciptanya suatu penataan kehidupan sosial secara rasional (Pernyataan Habermas ini dikutip dari Steven Best dan Douglas Kellner, Postmodern Theory (Hampshire, London: Macmillan Education Ltd, 1991), 233.)

Memandang zaman modern dengan sikap ironi berarti menolak anggapan bahwa modernitas membawa nilai-nilai universal. Dalam konteks ini, adalah menarik pernyataan Baudelaire, yang digarisbawahi Foucault, bahwa manusia modern bukanlah sosok yang ”menemukan” (to discover) dirinya, persisnya kebenaran esensial dalam dirinya yang paling dalam, yakni rasionalitasnya; sebaliknya manusia modern adalah sosok yang mencoba untuk ”menciptakan” (to invent) dirinya (Michel Foucault, ”What is Enlightment”, dalam Paul Rabinow, Foucault Reader, 42). Artinya, konsep otonomi dan kebebasan subjek yang diagung-agungkan sebagai cap modernitas bukanlah suatu esensi tanpa konteks, suatu penemuan tiba-tiba, yang dengannya manusia merasa tampil otentik, merasa berbeda (lebih tinggi) dibanding sejarah sebelumnya. Soalnya, konsep demikian hanya efek dari cara manusia menguasai dan mengontrol dirinya sendiri. Tidak heran kalau Baudelaire menyangsikan setiap upaya merumuskan etika publik untuk mengatur masyarakat, dengan prinsip apapun, termasuk rasionalitas. Sebaliknya, Baudelaire justru menyarankan keunikan kehidupan privat, suatu sikap estetisme a la kaum dandy, yang menjadikan tubuhnya, tingkah lakunya, perasaan dan hasratnya, serta eksistensinya sebagai ”ungkapan berkesenian” (Foucault, Ibid, dalam Sahal, 1994).
Karena Foucault melihat modernitas dengan sikap ironi, maka ia tidak mendasarkan kritisismenya di atas rasionalitas yang trans-kultural dan trans-historis. Foucault juga tidak berambisi untuk membangun suatu teori umum atau meta-narasi. Kritisisme Foucault merupakan analisa interpretatif terhadap situasi lokal dan praktek sosial tertentu, tanpa berpretensi untuk melakukan generalisasi, apa lagi menemukan hukum sejarah. Ini ada hubungannya dengan penolakan Foucault terhadap konsep "sejarah." Sebab, kata "sejarah" selalu mengandaikan rangkaian peristiwa yang terjalin secara sinambung, tertata (dengan prinsip kausalitas), dan mengandaikan adanya satu pusat yang merupakan titik tolak ataupun titik tuju. Bagi Foucault, peristiwa-peristiwa sesungguhnya terjadi secara diskontinu, fragmentaris dan acak. Karena itulah Foucault lebih bergairah untuk terlibat dalam satuan-satuan lokal dan mikroskopis. Ini terlihat dalam serangkaian riset Foucault sendiri yang tidak meminati "cerita-cerita besar" seperti negara, klas, rakyat, proletar, melainkan rumah sakit, penjara, barak-barak tentara, sekolah, pabrik, pasien, orang gila dan kriminal. Pendek kata, minatnya tertuju pada mereka yang tersisih, dikucilkan, marjinal dan tertekan.

Fenomena masyarakat modern juga ditandai rezim ”disiplin”. Artinya, teknologi kuasa modern tidak lagi bekerja secara terang-terangan, seperti halnya kuasa raja untuk menghukum dalam masyarakat feodal. Kuasa modern bekerja secara anonim dan tak kelihatan lewat disiplinisasi. Teknik disiplin ini meliputi kontrol kegiatan melalui penetapan jadwal dan pelaksanaannya dengan tujuan menghasilkan ritme dan keteraturan; juga kontrol lewat penetapan aturan-aturan terhadap masyarakat, dengan ganjaran bagi yang taat dan hukuman bagi yang membangkang; bahkan juga kontrol mental lewat sosialisasi nilai-nilai moral dan etika kerja (Lihat pengantar Paul Rabinow dalam Foucault Reader, 17, dalam Sahal: 1994). Dalam hal ini Sahal menegaskan, Dengan kuasa disiplin inilah, individu-individu modern yang mengidealkan hidup bebas, produktif dan mandiri dibentuk, dijinakkan, dikembangkan, dan ditundukkan. Semakin mereka merasa bebas dan produktif justru semakin menunjukkan betapa kuasa anonim tersebut berfungsi secara efisien. Dalam konteks ini, kiranya tepat apa yang dikatakan Foucault bahwa lanskap arsitektur kuasa modern merupakan matriks pengurungan yang mirip dengan model panopticon yang diajukan Jeremy Bentham (1784-1804). Sasaran utama dan efek yang paling nyata dari disiplin ini adalah ”normalisasi”, penyingkiran segala yang dianggap menyimpang, membangkang, anomali, dan tidak teratur baik secara psikologis maupun sosial. Jadi, masyarakat modern yang kelihatannya rapi, kokoh, normal, dan tertib sebenarnya me-nyembunyikan bentuk-bentuk dominasi dan penundukkan secara canggih (Sahal: 1994).

Berkaitan dengan teori kebudayaan modern dari Simmel, Levine (1991) mengajukan skema interpretative yang mencakup berbagai cara untuk menggambarkan kajian modernitas dalam teks-teks klasik. Ia mendudukkan skema interpretative tersebut sebagai pendukung jenis program pendidikan yang baru. Menurut Levine seperti yang dikutip Widyanta (dan paragraph ini mengutip dari tulisan Widyanta) dalam teks-teks klasik biasanya advokasinya mempunyai tujuan yang didasarkan pada tiga gagasan pengertian, pertama, mereka menganalisis ciri-ciri pokok dari keteraturan baru yang terlihat memperkembangkan kesejahteraan manusia, kedua mereka mengkritisi beberapa ciri dari keteraturan baru yang berpengaruh buruk pada kemanusiaan, dan ketiga mereka mengusulkan beberapa bentuk pendidikan yang akan membantu menetralkan atau menolak ciri-ciri yang dianggap buruk tersebut. Lebih jauh seperti dikutip Widyanta, Levine mengatakan, ”bagi Simmel, pengaruh-pengaruh yang sangat menonjol yang dihasilkan oleh jaman modern-perluasan masyarakat dan konsentrasi populasi di kota-kota besar, pembagian kerja secara luas dan meluasnya penggunaan uang sebagai medium pertukaran yang tergeneralisir menciptakan sejumlah transformasi yang menguntungkan bagi kemanusiaan. Tetapi pada waktu yang sama, kekuatan-kekuatan tersebut memunculkan berbagai macam persoalan baru bagi manusia, yang ditunjukkan dengan fenomena yang dilukiskan sebagai anomi atau alienasi, perubahan yang sungguh-sungguh mengancam integrasi moral dan perkembangan kultural individu-individu. Di jaman modern, ancaman untuk budaya subjektif menjadi sangat akut, yang ditandai oleh keadaan krisis yang kronis”.

Pertumbuhan kebudayaan lokal dipandang sebagai suatu pertambahan yang melibatkan dan menghasilkan suatu transformasi masyarakat. Pertumbuhan (growth) menurut Spencer seperti dikutip David Kaplan dalam bukunya Teori Budaya (1999: 68) adalah proses pertambahan, sedangkan perkembangan mengandung transformasi struktur.

Sumber Bacaan
Buku-buku maupun jurnal dan artikel di media massa yang dipergunakan dalam penelitian kebudayaa antara lain ditulis oleh YB. Mangunwijaya (penyunting), Teknologi dan Dampak Kebudayaannya, vol. II, Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, 1985, dalam buku ini konsepsi penggunaan teknologi berbagai aspek memperlihatkan dampak yang ditimbulkan terhadap kebudayaan umumnya, dimana kebudayaan modern tumbuh bersama kekuatan teknologi yang ada; Franz Magnis-Suseno, Filsafat sebagai Ilmu Kritis, Yogyakarta: Kanisius, 1993, buku ini mengkritisi beberapa aspek dari keberadaan kebudayaan modern; Patrick Watier, The War Writing of Georg Simmel, Theory Culture and Society, vol. 8, no. 3, August 1992, London: Sage, artikel ini berguna menjelaskan secara teoritis konsep kebudayaan yang dipahami Georg Simmel untuk menjelaskan konsep sosiologis, dan Simmel mendapatkan banyak tanggapan terhadap tulisan atau pemikirannya tentang sosiologi kebudayaannya; Scott Gordon, The History and Philosophy of Social Science, London: Routledge,1991, buku ini berguna menjelaskan secara histories perkembangan pemikiran social, politik, maupun ekonomi, seperti perkembangan teori social Herbert Spencer, Emile Durkheim dan Max Weber. Ketika tokoh ini juga berperan membangun konsepsi pemikiran, baik untuk pengembangan metodologi, analisis pemecahan masalah, dan mengkritisi pertumbuhan kebudayaan. Disamping itu juga guna memahami lebih jauh teori masyarakat Marxian; Arnold Hauser, The Sosiology of Art, (terjemahan Kenneth J. Northcott dari Soziologie der Kunst, 1974), Chicago: The University of Chicago Press, buku ini memuat berbagai perkembangan aliran dalam kesenian serta hubungan seni dengan pasar; Andre Gorz, 1982, Anarki Kapitalisme (judul asli Ecologie et Politique, 1975, Paris: Gelilee, terjemahan ke bahasa Inggris dengan judul Ecology as Politics, South End Boston, 1980), penerjemah ke bahasa Indonesia Hendry Heyneardhi/Komunitas Apiru, Yogyakarta: Resist Book, 2005, buku ini sebagai penunjang pemahaman terhadap dampak-dampak kapitalisme terhadap masyarakat; Samuel P. Huttington, Benturan Antarperadaban dan Masa Depan Politik Dunia (diterjemahkan dari judul asli The Clash of Civilization and the Remaking of World Order, 1996), penerjemah: M. Sadar Ismail, Yogyakarta: Penerbit Qalam, 2002, buku ini berguna untuk mengembangkan wacana kritis terhadap hegemoni modernisme, terutama pemikiran terhadap Barat yang memasuki dunia sosial –termasuk di Indonesia.

Tinjauan Metodologi
Penelitian kebudayaan menggunakan metode penelitian kualitatif berdasarkan perspektif interaksi simbolik dengan menggunaan varian subjektif dan paradigma perilaku sosial. Perspektif interaksi simbolik berusaha memahami perilaku dari sudut pandang subjek. Perspektif ini menyarankan bahwa perilaku manusia harus dilihat sebagai proses yang memungkinkan manusia membentuk dan mengatur perilaku mereka dengan mempertimbangkan ekspektasi orang lain yang menjadi mitra interaksi mereka (Howard S. Becker, Blanche Geer, Everett C. Hughes, dan Anselm L. Staruss, Boys in White: Student Culture in Medical School, Chichago: University of Chicago Press, 1961, hal. 19, dalam Deddy Mulyana, 2001: 70). Masyarakat adalah proses interaksi simbolik (Herbert Blumer, Symbolic Interaction: Perspective and Methode, Englewood Cliffs, NJ: Prentice-Hall, 1969; Michal M. McCall dan Howard S. Becker, ”Introduction”, dalam Howard S. Becker dan Michal M. McCall, ed., Symbolic Interaction and Cultural Studies, Chicago University of Chicago Press, 1990, hal. 6, dalam Deddy Mulyana, 2001: 70). Secara ringkas, interaksionis simbolik didasarkan premis-premis berikut : pertama, individu merespon suatu situasi simbolik…respon merekabergantung pada bagaimana mereka mendefenisikan situasi yang dihadapi dalam interaksi sosial. Kedua, makna adalah produk interaksi sosial, karena itu makna tidak melekat pada objek, melainkan dinegosiasikan melalui penggunaan bahasa. Ketiga, makna yang diinterpretasikan individu dapat berubah dari waktu ke waktu, sejalan dengan perubahan situasi yang ditemukan dalam interaksi sosial.

George Ritzer dan Dauglas J. Goodman (1996: 209, edisi terjemahan bahasa Indonesia, 2004: hal. 289), meringkaskan teori interaksi simbolik ke dalam prinsip-prinsip sebagai berikut:
a. Tak seperti binatang, manusia dibekali kemampuan untuk berpikir
b. Kemampuan berpikir dibentuk oleh interaksi sosial.
c. Dalam interaksi sosial, manusia mempelajari arti dan simbol yang memungkinkan mereka menggunakan kemampuan berpikir mereka yang khusus itu.
d. Makna dan simbol memungkinkan manusia melanjutkan tindakan khusus dan berinteraksi.
e. Manusia mampu mengubah arti dan simbol yang mereka gunakan dalam tindakan dan interaksi berdasarkan penafsiran mereka terhadap situasi.
f. Manusia mampu membuat kebijakan modifikasi dan perubahan, sebagian karena kemampuan mereka berinteraksi dengan diri mereka sendiri, yang memungkan mereka menguji serangkaian peluang tindakan, menilai keuntungan dan kerugian relatif mereka, dan kemudian memilih satu di antara serangkaian peluang tindakan itu.
g. Pola tindakan dan interaksi yang saling berkaitan akan membentuk kelompok dan masyarakat.

Selanjutnya, penelitian ini akan menggunakan perspektif metode deskriptif (wawancara mendalam, pengamatan berperanserta), dan bersifat Induktif, yakni berkesinambungan sejak awal hingga akhir guna mendapatkan model maupun pola pengaruh kebudayaan modern terhadap budaya lokal, melalui suatu analisis sosiologi kebudayaan.

Daftar Pustaka

Alisjahbana., S. Takdir, 1986, Antropologi Baru, Nilai-nilai sebagai tenaga integrasi dalam pribadi, Masyarakat, dan Kebudayaan (asli dalam bahasa Inggris diterbitkan oleh University of Malaya Press), Jakarta: Universitas Nasional dan PT. Dian Rakyat

Kaplan., David, dan Albert A. Manners, 1999, Teori Budaya (The Theory of Culture), terjemahan Landung Simatupang, pengantar Dr. PM Laksono, Yogyakarta: Pustaka Pelajar

Koentjaraningrat, 1986, Pengantar Ilmu Antropologi, Jakarta: Aksara Baru

Mulyana., Dr. Deddy, 2001, Metode Penelitian Kualitatif, Paradigma Baru ilmu Komunikasi dan ilmu Sosial lainnya, Bandung: PT. Remaja Rosdakarya

Poespowardojo., Soerjanto, 1993, Strategi Kebudayaan, suatu pendekatan Filosofis, Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama dan Lembaga Pengkajian Strategi dan Pembangunan (LPSP)

Ritzer., George, dan Dauglas J. Goodman, 2004, Teori Sosiologi Modern, (Judul asli: Modern Sociological Theory, McGraw-Hill, 6th edition, 2003), diterjemahkan oleh Alimandan, Jakarta: Prenada Media

Sahal., Ahmad, 1994, ”Kemudian, Di Manakah Emansipasi? Tentang Teori Kritis, Genealogi, dan Dekonstruksi”, Jurnal Kalam, edisi 1 - 1994

Sanderson., Stephen K, 2003, Makro Sosiologi, sebuah pendekatan terhadap Realitas Sosial (judul asli Macrosociology, HarperCollins Inc, penerjemah: Farid Wajidi dan S. Menno, pengantar Hotman M. Siahaan), Jakarta Utara: PT. RajaGrafindo Persada.

Widyanta., AB, 2004, Problem Modernitas dalam kerangka Sosiologi Kebudayaan Georg Simmel, (kata pengantar: St. Sunardi), Yogyakarta: Cindelaras Pustaka Rakyat Cerdas bekerjasama dengan Yayasan Adikarya Ikapi dan Ford Foundation.


Download versi full text (pdf):

Penelitian Kebudayaan di Jawa Timur (download)



Read More......

Recalling Amrozy

I'm sorry, Amrozy and his gank 'aim some murder' (Imam Samudra) under their belief of stairway to heaven by 'much last' (Muchlas) terror in bombing Bali with 'all go front' (Ali Ghufron) hundred of victim left.

Just for Fun, karya asli News Sahin Ummat Dotcom milik pengelola blog ini...
Read More......

Obamania

Euphoria kemenangan dan munculnya Obama menjadi presiden negara adidaya AS ternyata disambut dengan berbagai sukacita dan harapan yang kadang juga berlebihan. Hal yang sama sekali tak pernah terjadi pada presiden AS sebelumnya. Di Indonesia tak kalah meriahnya bahkan ekspektasi masyarakat Indonesia mungkin bikin Obama miris juga. Ya antara lain gara-gara Obama pernah hidup di Indonesia. Untung aja dia gak ikut-ikutan bikin sinetron "Si Berry Anak Menteng" nyaingin "Si Doel". Gara-gara main sinetron Si Doel bisa jadi wakil bupati tu. Ek kok ngelantur ke Si Doel sih. Tentang Obama tadi, bahkan muncul klaim sebagian warga Jakarta yang Obamaniac bahwa The Number One Person in USA came from Menteng... Komentar Obama:

"Ya betul... Andai saya tidak pernah tinggal di Menteng (Indonesia) saya tidak jadi presiden AS sekarang... tapi sudah sejak periode kemarin....".

Just for Fun, karya asli News Sahin Ummat Dotcom milik pengelola blog ini
Read More......
Sign up for PayPal and start accepting credit card payments instantly.

Twitter