Greeting From Bromo Base

Peace. May God bestow the blessings of salvation to all of us

Welcome to my blog. It's my world... Selamat datang di blog saya...

This blog is containing my personal views, opinions and life experiences. It’s about some thoughts on social order, culture, politics, government, education and self development. All of which is related. Anyone can read this blog. I would like to share with you...

Saya Wawan, tinggal di Probolinggo, sebuah kota di Jawa Timur, Indonesia. Berdekatan dengan Gunung Bromo dengan panorama yang khas dan eksotik serta masyarakat Tengger yang unik, Probolinggo merupakan daerah menarik. Dari sudut kecil inilah saya ingin berbagi informasi dan pengalaman dengan saudara. Tentang pengembangan diri, pendidikan, budaya, politik, pemerintahan, pemilu dan ihwal terkait yang berhubungan dengan kehidupan kita. Saya sangat senang jika ada feedback dari Saudara.

Blakrakan saya di Dewan Pendidikan, Forum Tapal Kuda, KPU, Yayasan Wahana, juga di lembaga kajian sosial di Jawa Timur, Miracle Ways dan corat-coret saya di blog ini mungkin dapat mengajari saya tentang kehidupan. Hal mana yang saya perkenalkan kepada anak-anak saya, para Nikkolai dan anak-anak orang lain (yang mau).

Jika Saudara suka, silakan tour di blog saya. Dan jika Saudara mau, silakan gunakan artikel blog ini asalkan cantumkan sumber link-nya ya... Juga ebook yang ada di bagian akhir postingan, boleh kok diunduh.

Best regards,
Wawan E. Kuswandoro

Ingin berlangganan artikel blog ini? Masukkan alamat email Anda:

Delivered by FeedBurner

Sekolah-Menulis Online

Thursday, February 12, 2009

Menuju Pendidikan Yang Mencerahkan

Tulisan berupa pointers singkat ini untuk memperkaya wacana dan pemikiran pada Seminar bertema “Peran Remaja Dalam Menyongsong Pendidikan Yang Mencerahkan” yang diselenggarakan oleh Ikatan Remaja Muhammadyah (IRM) pada 5 Februari 2006 di Gedung Pertemuan PWP Kota Probolinggo. Sebuah pesan penulis kepada para angkatan muda, yang cerdas dan kreatif!

Kata Kunci: transformasi nilai, paradigma pendidikan kritis, kesadaran kritis, pilihan kritis, motivasi dan kemandirian belajar, subjek belajar, live is education and education is live, setiap pergaulan adalah pendidikan.


Pesan Pendidikan Manusia Indonesia: Transformasi Nilai

Refresh our mind: pendidikan itu apa sih? Marilah kita cermati pendapat Prof. Fuad Hassan (mantan Mendiknas RI) dan Prof. Proopert Lodge berikut ini. Jika manusia dijuluki animal educandum sekaligus animal educandus, yakni makhluk yang dididik sekaligus makhluk yang mendidik. Maka pengertian pendidikan jelas lebih luas daripada sekedar penyekolahan. Pendidikan tidak bisa lain kecuali dipahami sebagai ikhtiar pembudayaan. Ikhtiar ini pula yang melatari sejarah kemanusiaan sebagai sejarah perkembangan peradaban. Maka, pendidikan tidak hanya merupakan prakarsa pengalihan pengetahuan dan keterampilan, tetapi juga nilai-nilai budaya dan norma-norma social (Fuad Hassan, dalam Widiastono, Ed., 2004, Pendidikan Manusia Indonesia).

Prof. Proopert Lodge berpendapat bahwa “live is education and education is live” (kehidupan itu adalah proses pendidikan, dan proses pendidikan itu adalah kehidupan). Sedangkan Langeveld memandang bahwa segala pergaulan adalah pendidikan. Sebenarnya antara proses kehidupan dan proses pendidikan itu tidak ada bedanya. Yang dimaksud dengan proses kehidupan adalah hubungan antar manusia, yang melahirkan konsekuensi-konsekuensi, kondisi serta struktur social. Kemudian, proses kehidupan itu melahirkan tipe-tipe manusia yang berbeda-beda pula. Fakta pengalaman kehidupan kita, menunjukkan keselarasan dengan pandangan ini. Jelaslah bahwa pendidikan pada dasarnya bersifat alamiah, melekat dengan (proses) kehidupan itu sendiri. Dengan demikian, penulis menyimpulkan, bahwa pendidikan adalah pembiasaan.Dan sepatutnyalah jika pendidikan diselenggarakan dengan mendasarkannya pada sifat-sifat alamiah peserta pendidikan (anak), yakni memperhatikan kondisi/ lingkungan sosio-kultural anak, dengan cara membiasakan anak. Dalam hal apa, bagaimana caranya, dan apa saja yang diperlukan untuk itu?

Apa Yang Hendak Dicapai Oleh Pendidikan Kita?

Pendidikan diselenggarakan berdasarkan suatu konsep berpikir bahwa pendidikan itu harus bagaimana dan seperti apa, yang disebut dengan paradigma. Paradigma inilah yang mendasari segala aktivitas yang berkaitan dengan pendidikan. Contoh, pada praktik pendidikan formal di sekolah. Mengapa sekolah diselenggarakan dengan di kelas-kelas, dengan seorang guru yang berceramah seharian dan murid-murid anteng? Mengapa pula ada sekolah yang menyelenggarakan “kelas” di ruang terbuka, dengan murid-murid dengan membawa kertas kerja yang sibuk mengumpulkan benda-benda alam untuk diteliti, dan guru mengawasi dari jauh? Dan sebagainya. Semua ini berawal dari suatu konsep dan harapan bahwa belajar itu untuk mengejar apa, sehingga harus bagaimana caranya. Maka, apa yang hendak dicapai oleh pendidikan kita? Paradigma pendidikan konservatif (tradisionalis), yang memandang manusia sebagai objek pasif, menghendaki pendidikan sebagai proses menerima dan bersabar. Aplikasi nyata dari konsep manusia sebagai objek statis bisa dilihat dalam praktik-praktik pembelajaran yang tertuang seperti metode-metode seperti menghafal (muhafadzah), membaca (qira’ah), menerjemah (tarjamah), mendengar (istima’), dsb. Manusia diposisikan sebagai objek statis yang wajib taat pada guru (sami’na wa atha’na). Paradigma pendidikan liberal, berdasar pada konsep modernisasi Barat, dengan ciri pengakuan sepenuhnya terhadap kebebasan individu (freedom, hurriyyah). Pandangan ini memahami pendidikan sebagai peneguhan, proses melanggengkan nilai-nilai yang telah mapan. Pandangan ini bersifat progresif dan eksistensialis, namun tidak menjamin perubahan. Sedangkan paradigma pendidikan kritis, mendasarkan diri pada konsep penyadaran kritis manusia (conscientizacao, menurut istilah Paulo Freire). Pandangan ini menghendaki adanya perubahan social (social change) yang berkeadilan menuju pembebasan, perbaikan nasib, dan anti-penindasan. Maka, apa yang hendak dicapai oleh pendidikan kita? Marilah kita simak apa-apa yang tampak sebagai realitas social dari pendidikan kita. Tentunya dalam kadar yang tertentu (definite).

Fenomena industrialisasi pendidikan, semakin mahal, semakin diminati (terutama di kota-kota besar) dan dilemma pengelolaan pendidikan kapitalistis semakin menjauhkan pendidikan dari jangkauan masyarakat, terutama masyarakat menengah ke bawah. Pemerintah “mengambil alih penyelenggaraan pendidikan”, dan peranserta masyarakat menjadi mahal dan menjadi barang mewah yang harus sering dipromosikan. Sejak inpres SD tahun 1970-an sampai PSBMP, BOS, (juga BLT) digulirkan, telah menjauhkan tanggungjawab masyarakat terhadap pendidikan. Masyarakat (kalangan orangtua) menjadi terasing dengan pendidikan yang seharusnya dibangun dan dipikul bersama. Tatkala pemerintah “mengambil alih” peran tersebut, sebetulnya malah terdapat peluang bagi masyarakat untuk mengalihkan perhatiannya pada pengawalan mutu pendidikan (tepatnya mutu anak). Sayangnya, masih banyak para orangtua yang memandang prestasi anak hanya dari angka nilai formal dan mengabaikan isi kepala dan suka mengambil jalan pintas. Dan masih banyak guru yang “menyambut baik” pandangan orangtua yang seperti itu. Dan yang menyedihkan, anak-anak juga berpikiran sama. Ini memang tidak general, namun fenomenal. Minimnya inovasi pembelajaran turut menyemarakkan pola pikir fatalis tersebut. Apakah (sebenarnya) yang kita inginkan? Coba tanyakan pada diri sendiri. Dan tanyakan kepada guru dan kepala sekolah, juga komite sekolah, apa saja program sekolah untuk mencerdaskan anak?

Apa Yang Sebaiknya Kita Lakukan?

Membangun Kesadaran Kritis

Yakni kesadaran yang muncul dari individu yang membaca realitas diri dan lingkungannya. Pertanyaan yang muncul adalah “untuk apa aku ada?”. Pahami kesadaran, yang menurut Andreas Harefa ada 4:

o Tak Sadar Tak Kompeten (al-Ghazali: al insanu la yadri annahu la yadri, manusia tak sadar akan ketidaktahuan dirinya).
o Tak Sadar Kompeten atau tidak menyadari akan kemampuannya, yang menurut Paulo Freire disebut naival consciousness, kesadaran naif. Al-Ghazali menyebutnya dengan “al insanu la yadri annahu yadri”.
o Sadar Tak Kompeten atau menyadari bahwa dirinya tidak mampu. Kesadaran ini dalam persektif Paulo Freire termasuk dalam wilayah “kesadaran kritis” (critical consciousness), menurut Al-Ghazali, “al insanu yadri annahu la yadri”.
o Sadar Kompeten atau menyadari bahwa ia tahu dan kemudian berusaha secara praksis menyelesaikan persoalan dirinya, yang dalam pandangan Paulo Freire disebut “kesadaran transformative” (Transformative Consciousness) dan menurut Al_Ghazali, “al insanu yadri annahu yadri.

Memahami makna belajar dan membangun motivasi belajar

Belajar, sering diidentikkan dengan aktivitas-aktivitas seperti membaca (qira’ah), menulis (kitabah), mendengar (istima’), mentelaah (muthala’ah), menterjemah (tarjamah), dsb. Jika belajar pada salah satu segi diartikan sebagai aktivitas-aktivitas tersebut, maka bisa saja dibenarkan. Tetapi, belajar itu sendiri tidak bisa dipahami secara mutlak seperti aktivitas seperti membaca, menulis, mendengar, menterjemah, dsb. Bentuk-bentuk aktivitas tadi baru sebatas pemahaman hakikat belajar dalam wilayah metodis. Lantas, apa sebenarnya belajar itu? Menurut Andrias Harefa dalam bukunya, “Mengasah Paradigma Pembelajar (Yogyakarta, Gradien, 2003) menyebutkan bahwa makna belajar sebetulnya identik dengan pencerahan (enlightenment, aufklarung) atau sebagi proses memanusiakan manusia (humanisasi). Belajar merupakan proses yang akan menempatkan manusia dalam posisinya sebagai terdidik, terpelajar, dsb. Dengan belajar, dunia seseorang akan terbuka, ibarat mendapatkan pencerahan. Belajar berkaitan dengan proses seseorang untuk memperoleh suatu ilmu (‘ilm). Dalam Islam, ilmu sering diidentikkan dengan “cahaya” (al-nur). Dalam sebuah hadits disebutkan bahwa keutamaan seoranbg yang pandai (‘alim) dengan seorang yang ahli ibadah (‘abid) diperumpamakan seperti cahaya rembulan di antara bintang-bintang (fadlul ‘alimi ‘ala al-‘abid ka fadlil qamari ‘ala sairil kawakib). Ketika seseorang sedang belajar, sama artinya bahwa ia sedang menerima pencerahan. Cahaya rembulan lebih utama disbanding cahaya bintang-bintang. Bukankah Allah SWT meninggikan derajat orang-orang yang berilmu? Dan Dia mengancam orang-orang berilmu yang tidak mengamalkan ilmunya sebelum para penyembah berhala? Artinya, demikian tingginya nilai ilmu di mata Allah SWT. Hanya dengan belajar.

Beberapa langkah praktis (untuk para remaja)

o Minimal, biasakan membaca dan menulis. Berbahagialah anda jika lingkungan (misalnya keluarga) memiliki hoby atau tradisi membaca. Anda tidak terlalu susah untuk membaca. Jika tidak, cobalah memulai dengan bacaan-bacaan ringan. Buatlah catatan-catatan kecil tentang hal-hal penting yang perlu diingat. Buatlah tulisan (karangan singkat) tentang hal-hal dari buku-buku yang pernah anda baca. Jika anda biasa membuat diary (buku harian), perluas cakupan tulisan dengan memuat hal-hal yang bersumber dari buku-buku yang kalian baca. Suatu hari nanti, tulisan-tulisan itu insya Allah akan menajdi karya besar. Banyak hal-hal hebat dimulai dari yang kecil dan “tidak seberapa” bahkan anda sendiri pun tidak pernah menduganya. Susah membaca buku “ilmiah”? Sukanya “hanya” buku-buku fiksi, chick-lit? Pernahkah anda makan makanan yang paling anda benci? “Tanya kenapa...?” Bayangkan buku-buku itu adalah makanan, yang anda dapat memakannya atau men-cemil-nya kapan pun anda suka. Sempurnakan tulisan-tulisan yang anda buat setelah anda membaca buku. Lakukan secara rutin sehingga menjadi kebiasaan: membaca – menulis – membaca – menulis – dst. Banyak pikiran dan ide hebat yang terbuang sia-sia hanya karena tidak dituliskan. Percayalah, bahwa banyak ide hebat justru muncul dari kalangan anak-anak muda. Penulis telah membuktikan. Penulis seringkali mendapat ide bagus justru dari anak-anak penulis yang saat ini duduk di bangku kelas 4 dan 2 SD. Inspirasi! Ya. Inspirasi, imajinasi, kreasi, inovasi. Be a smart guys!

o Biasakan mengamati diri sendiri dan lingkungan sekitar. Setiap tarikan napas, detak jantung, kemulusan kulit, perilaku teman, binatang, tumbuhan, lingkungan alam, kejadian alam, gerak alat-alat mekanis/ elektronis, dsb. Biasakan memulai dengan “tanya kenapa..?” bandingkan pesawat terbang dengan burung, kapal selam dengan ikan paus, helicopter dengan capung, dsb. Mengapa lebah dan semut hidup berkelompok, dsb. Berusahalah untuk mengetahui jawaban dari pertanyaan-pertanyaan yang “mengganggu” benak anda. Cari informasi tentangnya sebanyak-banyaknya. Ingat, guru adalah salah satu dari sekian banyak sumber informasi/ sumber belajar. Bebaskan pikiran anda untuk berkembang.

o Hal sederhana yang tidak terperhatikan namun sering dilakukan adalah “permainan peran” di antara teman / kelompok sebaya (istilah kerennya “peer-group”). Jadikan “gank” kelompok sebaya anda sebagai wahana untuk berkreasi. Apapun “tema” yang kalian sukai, anda dapat menggunakan “gank” untuk “berlatih” mendewasakan diri. Otak dan perilaku anda akan terasah di sini. Ingat, keterampilan social amat dominant menolong kehidupan seseorang disamping keterampilan inteligensi/ keterampilan yang lain. Banyak orang yang cerdas otaknya tetapi gagal dalam kehidupan gara-gara tidak mampu memerankan dirinya di masyarakat/ lingkungannya. Sadarilah bahwa gank anda adalah laboratorium social yang murah-efektif!

o Jangan pernah merasa tidak mampu akan sesuatu hal. Setiap orang mempunyai kemampuan khas, yang mungkin tidak sama satu sama lain. Hanya saja, dia tidak menyadarinya. Al insanu la yadri annahu yadri.

o Anda yang di sekolah tergolong “anak yang tidak berprestasi” menurut ukuran “nilai akademisnya tidak tinggi/ bagus, jangan gusar dan buru-buru stress apalagi merencanakan bunuh diri segala. Nggak gaul, tahu!! Pertama, “tanya kenapa…?” Nilai akademis, hanyalah satu bagian dari keseluruhan kecerdasan ganda yang dimiliki manusia. Sadarilah, bahwa masih banyak potensi dan kecerdasan lain pada diri anda yang belum tergali. Tentu saja ini tidak ikut dinilai, makanya tidak perlu gusar. Gali potensi dan kecerdasan lainnya. Contoh nyata: Tahu Rommy Rafael? Si tukang hipnosis (bukan hipnotis) yang sekarang menjadi selebritis terkenal, kaya dan sukses menurut ukuran umum. Masih ingat pengakuannya bahwa ia berasal dari anak (murid) yang sama sekali tidak sukses menurut ukuran nilai akademis tadi. Menyadari dirinya tidak mungkin menjadi “anak pandai”, ia gali potensi dan kecerdasan lainnya, dan ia berusaha keras untuk itu karena hanya itu yang ia mungkin bisa. So, jadilah ia seperti yang anda lihat di TV saat ini. Makanya kalau menonton TV, ambil pelajarannya, jangan hanya memelototin acara yang ada goyang-goyangannya itu saja. Saya tidak menyarankan anda mengikuti profesi Rommy Rafael, tetapi cara Rommy untuk menyadari kemampuan diri, menggali dan mengembangkannya, itulah yang perlu diambil sebagai pelajaran. So, jangan gusar jika anda telah benar-benar bukan “anak pandai”. Banyak jalan ke Roma. Kenali diri anda, dan kembangkan. Insya Allah anda kelak akan menuai. Do something! Pelajarilah kisah sukses orang-orang terkenal. Thomas Alva Edison pernah dikeluarkan dari sekolah karena dianggap bodoh oleh gurunya. Telinganya menjadi tuli karena sering dijewer. Baca kisahnya. Isaac Newton menemukan hukum gravitasi karena kejatuhan buah apel. Dia berpikir “tanya kenapa”.

o Anda yang merasa “anak biasa-biasa saja”, segera sadari bahwa waktu anda 3 tahun SMP dan 3 tahun SMA (total 6 tahun) akan terbuang percuma jika anda selama waktu itu “tidak ngapa-ngapain”. Tanya diri sendiri, invest waktu 6 tahun tersebut, anda telah bisa apa saja. Seperti orang ngudang bayi “sudah bisa apa sekarang anaknya?”. Maka, tanyakan diri anda: “sudah bisa apa sajakah saya sekarang?”. Contoh kecil: anda belajar bahasa Inggris di sekolah selama 6 tahun, sudah bisa apa? Tanya kenapa…?

o Anda yang merasa “anak pandai” dengan ukuran menyandang nilai bagus. Tanya diri sendiri, sudah sebandingkah angka nilai itu dengan isi kepala dan kemampuan-diri anda? Berlatihlah untuk jujur dan bertanggungjawab terhadap apa yang anda perbuat. Nilai bagus, predikat anak pandai, dsb, memiliki nilai tanggungjawab intelektual dan juga moral. Sama halnya dengan gelar-gelar akademis yang sekarang menjadi murah-meriah dan paling diburu orang. Sebandingkah gelar tersebut dengan isi kepala pemiliknya?

o Penting disadari oleh semua anak: isi kepala dan kemampuan-diri jauh lebih penting dan berharga ketimbang angka-angka nilai pada kertas ujian dan rapor / ijazah.

o Usulkan kepada guru untuk melatih dan mengasah keterampilan ini dalam kehidupan sehari-hari dalam komunitas kelas dan sekolah. Tumbuhkembangkan budaya sekolah (school culture) yang kondusif bagi pencerahan berpikir. Salah satu yang dapat dilakukan adalah mendayagunakan peer-group pada fungsi pembelajaran, dan “memerankan” tugas ketua kelas secara bergiliran, sehingga semua murid dapat merasakan langsung peran kepemimpinan. Ingat, untuk pelajar, setiap pergaulan adalah pendidikan. Bertugas menjadi ketua kelas sebenarnya adalah pembelajaran, bukan tugas sungguhan seperti menjadi kepala sekolah atau ketua RT. Usulkan pada guru untuk menggunakan “multimedia” dalam proses belajar.
o Sangat baik untuk melatih peran-peran sosial seperti ini pada organisasi kesiswaan atau kelompok-kelompok permainan. Silakan dipilih sesuka hati. Bisa OSIS, kelompok seni, teater untuk melatih kecakapan berbahasa dan kepribadian, kelompok musik, olahraga, dsb.
o Banyak hal yang dapat dilakukan setiap saat dengan riang. Ingat, setiap pergaulan adalah pendidikan. Setiap waktu adalah pembelajaran, setiap bumi adalah sekolah.
o Yakinkan bahwa otak anda terisi informasi yang mencerahkan, apapun minat anda.
o Yakinkan bahwa hati anda merasakan aliran energi otak yang penuh daya yang mencerahkan.
o Yakinkan bahwa sikap dan perilaku anda mencerminkan otak dan hati anda.

Peran Dewan Pendidikan

Dewan Pendidikan berfungsi sebagai lembaga pemberi pertimbangan (Advisory Agency), pemberi dukungan (Supporting Agency), pengontrol (Controlling Agency) terhadap kebijakan Pemerintah Kota Probolinggo mengenai pendidikan, serta sebagai penengah/ penghubung (Mediatory) antar stakeholders pendidikan. Ke-4 fungsi di atas diselenggarakan dengan cara Round Table Dialogue/ Focused Group Discussion stakeholders pendidikan; diskusi kebijakan pendidikan; analisis kebijakan pendidikan; input dan diseminasi informasi (seminar, sarasehan, workshop, dan semacamnya), public campaign, dsb. Dalam mengemban fungsi tersebut Dewan Pendidikan melakukan penguatan-penguatan terhadap prakarsa / inisiatif local untuk mencapai pencerahan pendidikan. Kegiatan yang dilakukan antara lain adalah penguatan Komite Sekolah/ Madrasah, penguatan peran guru dalam pembelajaran anak, penguatan peran anak melalui kegiatan diskusi, sarasehan, workshop dan sejenisnya, diskusi, dialog dengan komunitas pendidikan, masyarakat dan pemerintah dan rekomendasi kepada pemerintah. Dewan Pendidikan mengambil peran pada membangun paradigma yang sesuai dengan konteks kekinian menuju aksi untuk pencerahan pendidikan. Banyak hal strategis yang dilakukan. Dalam fungsi ini, termasuk kegiatan public opinion building, penyadaran, dsb untuk dilakukan bersama, terutama oleh pihak yang berkompeten dalam penyelenggaraan pendidikan (pemerintah kota). Kami membuka diri untuk berkolaborasi dengan semua pihak.

Untuk Direnungkan

Memang, pendidikan merupakan suatu proses. Membangun pendidikan tidak sesederhana membangun jembatan atau pabrik. Bangunan pendidikan tampaknya maya, namun hasilnya nyata, dan itu membutuhkan waktu. Karena yang dibangun adalah manusianya. Namun, kalau kita tidak memulai, hampalah yang didapat. Maka, mulailah ”menanam”, insya Allah anda akan memanen. Pendidikan itu luas pengertian dan cakupannya. Ialah yang bertanggungjawab terhadap kualitas manusia. Menjaga kelangsungan kehidupan, sama artinya dengan menjaga kualitas pendidikan. Maka, pendidikan menjadi tanggungjawab semua orang, semua unsur, semua pihak, dengan perannya masing-masing. Sudah selayaknyalah jika pendidikan menjadi yang utama untuk diperhatikan.

1.Sudahkah anda sebagai pelajar, remaja memperhatikannya? Dengan cara apa? Dengan cara apa dan untuk kegiatan apa sajakah kalian para pelajar dan remaja menghabiskan waktu kalian seharian? Coba buat catatan-harian kegiatan kalian dalam sehari. Berapa banyak kegiatan (termasuk bermain) yang dapat merangsang kreativitas? Berapa banyak yang hura-hura? Berapa banyak yang merugikan?
2.Seberapa jauhkah para orangtua memperhatikan pendidikan anak (dalam arti luas)? Sama-sama tidak punya uang banyak, orangtua lebih memilih membeli rokok ataukah bacaan untuk anak? Bagi yang punya uang cukup, kira-kira oleh-oleh apa yang dibawa ketika pulang bepergian, misalnya dari Surabaya/ kota lain? Pizza, McDonald, permen, coklat, baju, game player, CD terbaru, buku bacaan?
3.Seberapa jauhkah perhatian dan keberpihakan pemerintah pada pendidikan? Anggaran belanja daerah paling banyak digunakan untuk apa? Berapa banyak untuk pendidikan? Pada sektor pendidikan, elemen apa sajakah yang diutamakan?

Merenung thok? Aksinya Dooong


Semuanya terserah anda... Anda yang menentukan, anda akan menjadi apa... Hidup adalah pilihan-pilihan. Pilihlah dengan bijak diantara pilihan-pilihan itu. Kata Profesor Dumbledore kepada Harry Potter pada seri II: ”Bukan kemampuanmu Harry, yang menentukan siapa dirimu, tetapi pilihanmu”. Ingat tatkala Topi Seleksi telah ”menakdirkan” Harry Potter masuk Slytherin (ukuran versi Topi Seleksi), namun Harry menolak dengan kesadaran-diri-penuh bahwa Gryffindor lebih baik baginya, maka pilihannya tersebut telah mengubah hidup Harry Potter. Tatkala anda sudah menentukan pilihan, bagaimana anda mewujudkannya? Memang perlu pilihan dan pikiran bijak... Memang perlu waktu untuk menjadi bijak dan dewasa dalam berpikir dan bertindak. Mulailah sekarang... Do something... now!!! Or you are nothing!!!♫♫♫

No comments:

Sign up for PayPal and start accepting credit card payments instantly.

Twitter