Greeting From Bromo Base
Peace. May God bestow the blessings of salvation to all of us
Welcome to my blog. It's my world... Selamat datang di blog saya...
This blog is containing my personal views, opinions and life experiences. It’s about some thoughts on social order, culture, politics, government, education and self development. All of which is related. Anyone can read this blog. I would like to share with you...
Saya Wawan, tinggal di Probolinggo, sebuah kota di Jawa Timur, Indonesia. Berdekatan dengan Gunung Bromo dengan panorama yang khas dan eksotik serta masyarakat Tengger yang unik, Probolinggo merupakan daerah menarik. Dari sudut kecil inilah saya ingin berbagi informasi dan pengalaman dengan saudara. Tentang pengembangan diri, pendidikan, budaya, politik, pemerintahan, pemilu dan ihwal terkait yang berhubungan dengan kehidupan kita. Saya sangat senang jika ada feedback dari Saudara.
Blakrakan saya di Dewan Pendidikan, Forum Tapal Kuda, KPU, Yayasan Wahana, juga di lembaga kajian sosial di Jawa Timur, Miracle Ways dan corat-coret saya di blog ini mungkin dapat mengajari saya tentang kehidupan. Hal mana yang saya perkenalkan kepada anak-anak saya, para Nikkolai dan anak-anak orang lain (yang mau).
Jika Saudara suka, silakan tour di blog saya. Dan jika Saudara mau, silakan gunakan artikel blog ini asalkan cantumkan sumber link-nya ya... Juga ebook yang ada di bagian akhir postingan, boleh kok diunduh.
Best regards,
Wawan E. Kuswandoro
Tuesday, September 14, 2010
Rahasia "PRIA JANTAN SEJATI"
- Kesehatan dan vitalitas dalam aktivitas seksual pasangan suami - istri.
- Memperkuat kemampuan & keterampilan pria (SEXUAL SKILL) untuk hubungan suami-istri dari aspek fisik, emosi, dan romantisme hubungan suami-istri.
- Membantu harmonisasi & kebahagiaan keluarga.
Dapatkan juga:
1. eBook "Gaya dan Posisi Main Seks Dengan Sensasi Dahsyat: Berbagai Aliran, Dari Kamasutra Hingga Tantra.
2. eBook "Ilmu Terawang Jiwa" (Diagnosis Penyakit Jarak Jauh) Antisipasi Penjagaan Kesehatan Diri dan Keluarga".
3. eBook "Panduan Pengelolaan Pikiran Bawah Sadar Untuk Kenikmatan Aktivitas Seks dan Sukses Pribadi".*****
4. eBook "Herbal Seks" (Kumpulan Resep Kuno dari Bahan Herbal Alami Untuk Menunjang Aktivitas Seksual"
Infonya di sini.
Group di Facebook:
http://www.facebook.com/group.php?gid=101513873246859
Fan Page di Facebook:
http://www.facebook.com/home.php?#!/pages/Probolinggo-Indonesia/-Pria-Jantan-Sejati-/160071834006814
*****Khusus tentang eBook ini (Pengelolaan Pikiran Bawah Sadar untuk Aktivitas Seksual dan Sukses Pribadi), jika Anda membutuhkan bimbingan, silakan kunjungi http://www.eKuswandoro.Wordpress.com dan http://www.MiracleOne.Wordpress.com
Read More......
Tuesday, September 7, 2010
Menangkal Kejahatan Hipnotis
Omong-omong tentang hipnosis dan TV nih... di TV sering ada siaran "kejahatan hipnotis" terutama menjelang Lebaran ini... Apa sih sebenarnya "kejahatan hipnotis" itu dan bagaimanakah cara menangkalnya?
Sabar... kita omongin dulu hipnosis kayak yang di TV ya... Pertunjukan hipnosis di TV mempertontonkan eksploitasi pikiran bawah sadar orang untuk menghibur orang lain... Wah.. bersenang-senang di atas penderitaan orang lain nih.... hehe... Sebenernya sih enggak menyiksa kok, cuma "membuka informasi pikiran bawah sadar yang diucapkan melalui mulut selagi dalam keadaan tidak sadar (pikiran sadarnya tertutup)".... hehe..... Silakan diramesi sendiri (opo rek "di-ramesi iku...."; ini bahasa rakyat ker...). Makanya, sebenarnya saya tak terlalu suka dengan pertunjukan eksploitasi pikiran orang semacam itu (stage hypnosis, hipnosis panggung), kecuali hipnosis untuk tujuan penyembuhan (terapi, hypnotherapy) dan.. kecuali juga... jika "kepepet"***.. hehe.... Maksudnya, hanya untuk menghibur, tanpa "mempermalukan" orang dengan mengumbar pernyataan-pernyataan bawah sadar tanpa si orang tersebut sadar apa-apa yang dikatakannya. Lah.. ini kan pelanggaran privasi orang ya.... tetapi orang-orang pada seneng tuh ketika melihat pertunjukan hipnosis kayak yang di TV tuh.. ketika orang dalam kondisi hipnosa (hypnosis state) alias tak sadar (tepatnya: pikiran sadarnya non-aktif)... eh.. malah ketawa-ketawa lagi...... Duh.. ampyun..... Masyarakat kita rupanya demen "menyiksa" orang ya.. hehe... atau hobi banget melihat orang lain "tersiksa"... (terkena malu kan tersiksa ya....). Coba bayangin deh ketika si orang yang terkena pengaruh hipnosis tadi ketika terbangun (tersadar) lantas dikasi tahu apa-apa yang dia omongin ketika tak sadar tadi (misal, disuruh ngelihat rekaman video-ya.. hiks... pastilah dia mesuh-mesuh gak karuan....).. Untuk anda yang gak paham apa itu mesuh... Mesuh.. is 'mengumpat' hehe.... Kalau di Surabaya, mesuh is the best coy.... eh, biasa gitu.. Malah jadi ungkapan keakraban....
***Perkecualian lho ya: mengeluarkan informasi bawah sadar (dan diketahui orang lain) untuk tujuan baik, tidak mempermalukan orang yang dihipnosis, atau sekedar untuk membuktikan bekerjanya pikiran bawah sadar (dengan persetujuan subyek/ orang yang dihipnosis).
Kejahatan Hipnotis?
Omong-omong tentang hipnosis, di masyarakat juga marak tuh coy, kejahatan dengan modus hipnosis (di media, disebut "kejahatan hipnotis"). Apalagi menjelang Lebaran kayak gini. Ada baiknya masyarakat berhati-hati, waspada dan mengamankan diri dari kejahatan "hipnotis" itu.
"Kejahatan hipnotis", sebenarnya merupakan tindak kriminal biasa dengan modus penipuan biasa, namun menggunakan kelengahan dan sifat dasar manusia yakni yang berupa "keserakahan" (maaf, jangan salah sangka, bukannya setiap orang punya sifat serakah dalam pengertian umum). Ini maksudnya, dalam diri manusia kan ada dorongan-dorongan (nafsu?) untuk memenuhi kebutuhan hidup, dikenal, dihargai (kayak katanya Maslow ya..), dorongan ingin berkuasa, mendapatkan sesuatu lebih banyak, ingin untung lebih banyak, dsb.... Nah, dalam terminologi psikologi, dinamai aja "keserakahan" (greedy). Nah.... inilah peluangnya! Para penipu selalu mengekspolitasi kelemahan ini untuk meng-gol-kan maksudnya (maksudnya ya nipu, tentu aja!)... Korban pasti diiming-imingi keuntungan gede dan gampang! Orang pada umumnya kan mau ya jika ada kabar menarik kayak gitu... apalagi jika dia (calon korban) berpikirnya langsung menghubung-hubungkan (asosiasi) dengan kebutuhan (atau keinginan?) yang belum tercapai karena duitnya gak cukup.... nah..! Klop sudah !!! Pucuk dicinta ulam tiba! Pikir si calon korban. Kata-kata yang sama juga berkumandang di lubuk hati si penipu! Mulailah ia melancarkan jurus berikutnya.... Jika minat, caranya, ya ikuti saran-saran saya... gitu dst.. dst.... gitu kira-kira "saran baik seorang sahabat penolong" yang namanya Tuan Tipu Mustajab tadi. Pada saat inilah si calon korban telah mulai kehilangan sebagian daya nalarnya (pikiran sadarnya mulai tertutup)... Berbagai sugesti yang meyakinkan semakin diluncurkan oleh si penipu, yang biasanya berkelompok, dengan bagi peran... (menyugesti korban)... Hilanglah lagi sebagian pikiran sadar calon korban.... Teruuuss.... begitu... hingga tibalah saatnya untuk "mengeksekusi"... Apa itu berupa menyuruh si korban untuk menyerahkan barang-barang berharganya, uangnya, dsb.... Lha kok si korban mau? Ya tu tadi.... berawal dari ketertarikan (untung gede...), trus berlanjut dengerin sugesti..... akhirnya tiba pada "syarat untuk mendapatkan uang gede/ untung gede" yang berlanjut dengan diambilnya keputusan di luar kesadarannya.... Kena lah dia.... Patut diingat, si penipu lihai sekali menggunakan kata-kata menarik! Dan mereka biasanya berpenampilan menarik!!!
Dan ketika si penipu pergi bersama barang-barang berharganya, barulah si korban tersadar.. dan mulai bangkit dari kelinglungannya.... Ketika sadar bahwa ia kena tipu, maka korban akan mengatakan bahwa ia kena gendam, kena hipnotis, dsb.... Mengapa? Ia malu jika diketahui orang bahwa ia adalah korban penipuan! Karena biasanya, ada anggapan di masyrakat bahwa menjadi korban penipuan dianggap identik dengan kebodohan. Daripada dibilang o'on habis kena tipu, lebih selamat awak ni jika dikatakan, kena hipnotis. Lha kalau kena hipnotis, kan beda. Siapa aja akan bisa jadi bertindak bodoh dengan menyerahkan barang-barang berharga jika dalam kondisi tidak sadar! Ya kan...? Hehe.... Mengakulah ia kalau kena "kejahatan hipnotis!".... Dan.. media massa akan lebih seneng nulis berita berjudul misalnya "Kejahatan Hipnotis Marak Jelang Lebaran". Biar mantap, ketimbang "Kejahatan Penipuan...." Penipuan mah banyaak.. dan biasaaa... Kalo "hipnotis"... kesannya wah gitu....
Gimana Dong Menghindari Kejahatan "Hipnotis"?
Good! Praktis aja.
1. Hindari bercakap-cakap gayeng dengan orang yang tak dikenal di tempat umum (terminal, stasiun, dll). Jika terpaksa, ya bicara seperlunya aja, biar gak dikira sombong. Kalau gelagatnya gak aneh sih gak apa-apa tapi harus tetep waspada (caranya: kondisi pikiran siagakan penuh! Sadar penuh! Pakai logika!).
2. Jika menawarkan hal-hal yang di luar kebiasaan pembicaraan basa-basi (misalnya untung besar, dll), pasanglah alarm tanda bahaya dalam pikiran anda ! Biasanya kalo omong basa-basi sebagai pemanis perkenalan, omongnya ya biasa aja. Dan kalo menawarkan barang ato jasa, pasti dengan cara biasa dan bertanggungjawab (memberi identitas, kartu nama, nomor telepon, dsb). Jika tidak, ya gak usah ditanggapi. Pasang alarm pikiran!
3. Jika menawarkan hal-hal yang berbau untung besar, segera aktifkan logika anda!
Langkah 1 - 3 ini untuk "memagari" pikiran bawah sadar anda agar pelapis pikiran sadar (dalam istilah hipnosis disebut "critical factor") tetap berfungsi dengan baik. Dengan demikian, pikiran sadar tetap terjaga. Jika pada tahap ini anda aman, insya Allah akan aman pada tahap berikutnya. Tentu saja, tetep waspadalah pada barang-barang anda. Siapa tau, si penipu tau bahwa anda tidak bisa diperdayai dengan halus (dengan "hipnotis"), maka ia berubah pikiran dengan..... merencanakan... mencopet saja..... hahahah..... waspadalah! Waspadalah! Hipnotis Ditolak Copet Bertindak.... hehe.....
Selamat Mudik Dengan Aman dan Lancar... Selamat Sampai di Tempat Tujuan... Bertemu keluarga dan handai tolan... tetangga dan sahabat....
Minal Aidin wal Faizin.... Mohon Maaf Lahir Batin...
Read More......
Monday, September 6, 2010
(Mulai) Mengembangkan Soft Skill Di Sekolah
Integrasikan Soft Skill Dengan Kurikulum
Konsekuensinya, target waktu habisnya materi belajar, bisa molor. Juga, tidak fokus pada capaian target penilaian. Kecuali, jika pemerintah konsisten dengan KTSP (Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan), maka bebaskan sekolah dengan melakukan penilaian sendiri yang sejalan dengan KTSP. Dan penilaian oleh pemerintah pusat juga harus sejalan dengan misi KTSP. Sekolah-sekolah tidak akan mau ambil risiko ini!
Soft Skill Melalui Kegiatan Ekstra Kurikuler
Yang ini menghabiskan waktu anak. Untuk urusan menghabiskan kurikulum saja pulang jam 3 sore. Lha kalau ditambah ekstra kurikuler, maka tidak ada ruang waktu bagi anak untuk berkegiatan di luar arena sekolah yakni di masyarakat (sudah capek). Ekstra kurikuler sangat bagus bagi tumbuhkembang soft skill, syaratnya, pelajaran intra kurikulernya diperpendek, dan ini tidak mungkin. So, selamanya sekolah akan tetap berkutat dengan hard skill saja, dan soft skill hanya tinggal kenangan sertifikat hasil workshop para guru.***
http://www.facebook.com/pages/Surabaya-Probolinggo/Soft-Skill-Quantum-Training/142760432422932
http://www.facebook.com/group.php?gid=127385223974266&ref=mf
Read More......
Peluang Pengembangan Soft Skill Di Sekolah
Struktur kurikulum sekolah masih belum memungkinkan untuk mendorong pembelajaran yang mengacu pada pencapaian SOFT SKILL secara optimal karena TIDAK ADA RUANG WAKTU. Kurikulum kita terlalu banyak acara (mungkin terinspirasi “padat karya” ya..), akhirnya menguras waktu anak. Persepsi terhadap KTSP (Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan) juga masih beragam. Jika menambah jam, malah menjadi masalah, karena waktu anak untuk kegiatan lain menjadi semakin berkurang. Kalau pemerintah sudah mengetahui bahwa soft skill ternyata menempati porsi 85% (penelitian lain: 90%) dalam penentuan sukses anak, ya harus diimbangi dengan penerapan penilaian dan pengukuran hasil belajar yang sesuai, supaya sekolah/ guru/ murid/ ortu tidak terjebak dalam konsep pembelajaran yang kurang memberdayakan anak dari sudut pandang soft skill. Tetapi, inilah faktanya. Dan sekolah-sekolah masih belum siap sepenuhnya menerapkan pengembangan soft skill.***
http://www.facebook.com/pages/Surabaya-Probolinggo/Soft-Skill-Quantum-Training/142760432422932
Read More......
Soft Skill 85% Kunci Sukses !
Buku Lessons From The Top yang ditulis oleh Thomas J. Neff dan James M. Citrin (1999), mengatakan bahwa kunci sukses seseorang ditentukan oleh 90% SOFT SKILL dan hanya 10% saja ditentukan oleh hard skill.
Kajian Depdiknas RI pada tahun 2009, menyatakan bahwa kesuksesan seseorang dalam pendidikan, 85% ditentukan oleh SOFT SKILL.
Hasil penelitian Harvard University, Amerika Serikat: kesuksesan seseorang tidak ditentukan semata-mata oleh pengetahuan dan keterampilan teknis (hard skill), tetapi oleh keterampilan mengelola diri dan orang lain (soft skill). Penelitian ini mengungkapkan, kesuksesan hanya ditentukan sekitar 20 % dengan hard skill dan sisanya 80 % dengan soft skill.
Buku berjudul: Lesson From The Top karangan Neff dan Citrin (1999) memuat sharing dan wawancara 50 orang tersukses di Amerika: mereka sepakat yang paling menentukan kesuksesan bukanlah keterampilan teknis melainkan kualitas diri yang termasuk dalam keterampilan lunak (soft skills) atau keterampilan berhubungan dengan orang lain (people skills).
Hasil survei Majalah Mingguan Tempo tentang keberhasilan seseorang mencapai puncak karirnya karena memiliki karakter: mau bekerja keras, kepercayaan diri tinggi, mempunyai visi ke depan, bisa bekerja dalam tim, memiliki kepercayaan matang, mampu berpikir analitis, mudah beradaptasi, mampu bekerja dalam tekanan, cakap berbahasa Inggris, dan mampu mengorganisir pekerjaan. Sony Gunawan dari Yogya Departemen Store menyampaikan hal itu pada diskusi "Relevansi Soft Skill Dengan Kebutuhan Dunia Kerja" yang diselenggarakan Universitas Widyatama. Sony memaparkan, ketersediaan lulusan (supply) dengan keterserapan dunia kerja/usaha terhadap lulusan tersebut (demand) saat ini, sangat tidak seimbang. Akibatnya, banyak lulusan yang bekerja tidak sesuai dengan bidang keahliannya. Untuk memperoleh lulusan yang siap kerja, dunia usaha yang dikelola Sony, menetapkan sistem seleksi dengan menggunakan tes spiritual quotient (SQ). Tes tersebut memenuhi kebutuhan IQ maupun EQ calon karyawan, bahkan indikasinya cenderung baik dan peserta tes dapat bekerja sama. Jika seseorang mempunyai kedua kompetensi itu, silakan dengan terbuka merebut kesempatan yang sama tanpa diskriminasi untuk memperoleh pekerjaan dan perlakuan dalam bekerja.
Hasil survei National Association of Colleges and Employers (NACE) pada tahun 2002 di Amerika Serikat, dari jajak pendapat terhadap 457 pengusaha, diperoleh kesimpulan bahwa Indeks Prestasi akademik (IP) adalah nomor 17 dari 20 kualitas yang dianggap penting dari seorang lulusan universitas! Survei tersebut menghasilkan berturut-turut: kemampuan komunikasi, kejujuran/integritas, kemampuan bekerja sama, kemampuan interpersonal, beretika, motivasi/inisiatif, kemampuan beradaptasi, daya analitik, kemampuan komputer, kemampuan berorganisasi, berorientasi pada detail, kepemimpinan, kepercayaan diri, ramah, sopan, bijaksana, indeks prestasi (IP = 3,00), kreatif, humoris, dan kemampuan berwirausaha. Inilah yang disebut sebagai SOFT SKILL. Sedangkan IP yang kerap dinilai sebagai bukti kehebatan mahasiswa, dalam indikator orang sukses tersebut ternyata menempati posisi hampir terakhir, yaitu nomor 17 !
Sejalan dengan pengertian di atas, menurut UNESCO, tujuan belajar yang dilakukan oleh peserta didik harus dilandaskan pada empat pilar yaitu learning how to know, learning how to do, learning how to be, dan learning how to live together. Dua landasan yang pertama mengandung maksud bahwa proses belajar yang dilakukan peserta didik mengacu pada kemampuan mengaktualkan dan mengorganisir segala pengetahuan dan keterampilan yang dimiliki masing-masing individu dalam menghadapi segala jenis pekerjaan berdasarkan basis pendidikan yang dimilikinya (memiliki Hard Skill). Dengan kata lain peserta didik memiliki kompetensi yang memungkinkan mereka dapat bersaing untuk memasuki dunia kerja. Sedangkan dua landasan yang terakhir mengacu pada kemampuan mengaktualkan dan mengorganisir berbagai kemampuan yang ada pada masing-masing individu dalam suatu keteraturan sistemik menuju suatu tujuan bersama. Maksudnya bahwa untuk bisa menjadi seseorang yang diinginkan dan bisa hidup berdampingan bersama orang lain baik di tempat kerja maupun di masyarakat maka harus mengembangkan sikap toleran, simpati, empati, emosi, etika dan unsur psikologis lainnya. Inilah yang disebut dengan SOFT SKILL.
SOFT SKILL, menurut Patrick O'Brien, dalam bukunya, "Making College Count", disebutnya sebagai "The Winning Character", Karakter Yang Memenangkan, yakni:
- KETERAMPILAN KOMUNIKASI- KETERAMPILAN BERORGANISASI- KEPEMIMPINAN- LOGIKA- KETERAMPILAN MENGUPAYAKAN SESUATU- KETERAMPILAN BERKELOMPOK, dan- ETIKA.
Konsep tentang soft skill sebenarnya merupakan pengembangan dari konsep yang selama ini dikenal dengan istilah kecerdasan emosional (emotional intelligence). Soft skill sendiri diartikan sebagai kemampuan di luar kemampuan teknis dan akademis (hard skill), yang lebih mengutamakan kemampuan pribadi seseorang dalam bersosialisasi, berkomunikasi, kemampuan beradaptasi, MENGELOLA DIRI SENDIRI DAN ORANG LAIN serta bersikap optimis dalam semua bidang.
Kalau realitas ini kita jadikan acuan untuk melihat pendidikan di Indonesia, memang memprihatinkan. Pendidikan kita ternyata masih berkutat dengan gaya hard skill. Ketidakmampuan memberikan pendidikan soft skill mengakibatkan lulusan hanya pandai menghapal pelajaran dan sedikit punya keterampilan ketika sudah di lapangan kerja. Mereka akan menjadi mesin karena penguasaan keterampilan tetapi lemah dalam memimpin. Mereka merasa sudah sukses kalau memeliki keterampilan, padahal membuat jejaring juga merupakan bagian tidak terpisahkan dalam suatu pengembangan diri.
Realitas ini, yang masih memberikan porsi lebih besar pada muatan hard skill daripada berorientasi pada pengembangan soft skill, sementara kenyataan di lapangan berkata lain, sangat menyengsarakan lulusan lembaga pendidikan!
Para pengguna tenaga kerja sangat menginginkan lulusan sekolah/ perguruan tinggi yang tangguh, mampu bekerja secara team sampai dengan mampu berkomunikasi secara lisan dan tertulis dengan baik. Hal ini dapat dilihat dari iklan lowongan pekerjaan yang ada di beberapa surat kabar, media cetak maupun di internet. Dimana para perusahaan lebih banyak menggunakan kriteria-kriteria dalam soft skill untuk mencari pegawainya. Melihat realitas ini, mengapa pendidikan Indonesia masih bertahan dengan gaya hard skill saja?***
http://www.facebook.com/pages/Surabaya-Probolinggo/Soft-Skill-Quantum-Training/142760432422932
http://www.facebook.com/group.php?gid=127385223974266&ref=mf
Read More......
Seraut Asa Sebening Kristal
Tebal: xxiv + 150 hlm
Penulis: Diah Ayu Fajarwati, Nikkolai AA. Velayati, dkk
Editor: Wawan E. Kuswandoro
Penerbit: InSECS Publishing, Surabaya
Cet. I: Mei 2010
Sebuah paradigma baru dalam perencanaan pembangunan perkotaan sedang dibangun melalui pelibatan anak pada salah satu sisi perencanaannya. Walaupun tidak secara langsung terlibat dalam proses perencanaan, namun ide-ide cemerlang yang tersaji dalam naskah yang tampak sederhana itu, merupakan referensi berharga dari perspektif lain. Perspektif yang selama ini sering dilupakan, yaitu perspektif anak. Sebuah terobosan bagus. Itulah kesan pertama saya ketika menerima naskah dari kumpulan artikel dari kompetisi menulis bertema “Kota Probolinggo di Masa Depan”, yang harus saya edit dan kompilasi serta saya berikan catatan editorial.
Selayaknya, pemikiran berharga tidak boleh lekas hilang begitu saja. Biasanya dalam ajang lomba menulis, ketika pemenang telah diumumkan dan hadiah telah diserahkan, selesailah sudah. Panitia tidak merasa memiliki tanggungjawab apapun. Tidak ada upaya untuk membukukan karya berharga itu untuk pembelajaran bersama. Kalaupun dilakukan, biasanya terhadap karya-karya yang ditulis oleh mereka yang telah memiliki kepakaran keilmuan, dosen, peneliti, tokoh penting, dsb. Mereka masih abai terhadap karya anak, yang sering dianggap “belum memiliki kepakaran”. Buku ini sekaligus menghapus kesalah-kaprahan itu. Justru anak-anak telah memiliki kepakaran, yakni di dunianya. Dunia pemikiran dan imajinasi yang kaya kreasi, yang justru tidak akan pernah dimiliki oleh seorang pakar sekalipun! Karena dimensi ruang waktu yang berbeda, maka perspektif juga berbeda.
Sebenarnya buku ini lebih bernuansa pembelajaran dan motivasi bagi anak-anak didik, untuk lebih mempertajam kecerdasan dan kecakapan sosial mereka khususnya yang berhubungan dengan kota mereka, fenomena yang setiap hari mereka saksikan, walaupun dari isi telah cukup mengandung banyak informasi, data dan pemikiran yang cemerlang dan baik untuk diperhatikan.
Seraut Asa Sebening Kristal
CATATAN EDITOR...
Buku berjudul ”Seraut Asa Sebening Kristal: Saat Para Pelajar Kota Probolinggo Bicara Masa Depan Kotanya” ini merupakan kompilasi dan suntingan dari 20 artikel terbaik yang ditulis oleh para pelajar SMP/ MTs dan SMA/MA/SMK di Kota Probolinggo, pada lomba menulis artikel bertema ”Kota Probolinggo Masa Depan” dalam rangka memperingati Hari Pendidikan Nasional 2 Mei 2010. Dari 106 karya para pelajar se-Kota Probolinggo yang mengikuti kompetisi, rata-rata menampilkan materi tulisan yang baik, cukup bernas dan berdaya jangkau, sehingga para juri pun sulit juga untuk menentukan para juaranya. Alhamdulillah, berkat kejelian dan kerja keras para juri, maka terpilihlah 20 artikel terbaik milik 10 siswa SMP/ MTs dan 10 siswa SMA/MA/SMK untuk diuji orisinalitasnya dengan presentasi oleh penulisnya di hadapan para juri yang berasal dari kalangan akademisi (Perguruan Tinggi) dan Jaringan Penelitian dan Pengembangan (Jarlitbang) Pendidikan Kota Probolinggo mewakili pemerintah Kota Probolinggo. Uji presentasi ini sekaligus sebagai bentuk ”pertanggungjawaban” orisinalitas karya serta pengukuran kemampuan dan keterampilan penulis artikel dalam menyampaikan pesan-pesan tertulis (artikel) ke dalam bentuk bahasa lisan. Sesuai dengan tema kompetisi, ke-20 artikel pilihan dalam buku ini menyajikan proyeksi masa depan Kota Probolinggo dari berbagai sisi dan sudut pandang. Tampak sekali percikan pemikiran orisinal dalam karya mereka. Mereka mampu meng-eksplorasi dari pandangan whole view hingga detil dan sudut kecil dinamika sosial dan permasalahan kota yang diproyeksikan untuk masa depan, walaupun masih belum tegas benar kira-kira untuk proyeksi berapa tahun ke depan. Rata-rata artikel mampu merepresentasikan daya nalar dan jangkauan pemikiran ke depan (think forward) penulisnya. Namun ada beberapa kekhasan dan penonjolan karakter yang dikuatkan dalam masing-masing karya futuristik ini, dan ini bisa jadi dipengaruhi oleh pengetahuan, referensi, logika berpikir, kekuatan analisis, misi, harapan dan imajinasi penulisnya.
Seperti ditunjukkan oleh kumpulan artikel di Bagian 1: Pelajar dan Strategi Pengembangan Kota berikutini. Artikel ”Kota Probolinggo Masa Depan: Singapura Baru” karya Nikkolai Ali Akbar Velayati (SMPN 1), peraih juara 1 kategori SMP, membingkai aneka potensi lokal dan permasalahan kota berikut tawaran solusinya dalam balutan pemikiran visioner-imajinatif dengan berani mem-benchmark-kan kotanya di masa depan dengan Singapura. Menurutnya, Kota Probolinggo memiliki kemiripan potensi dengan Singapura, yang jika dioptimalkan pengembangannya akan menjelma menjadi kota jasa mirip Singapura. Kemudian, artikel ”Building The Green Heaven of Probolinggo City for The Citizen and Earth” karya Fildzah Raudina M (SMAN 1) peraih juara 3 kategori SMA, akan menjadi kreasi masa depan yang menyejukkan kota dengan menggambar-kan ruang terbuka hijau yang proporsional dengan jejalan bangunan gedung. Fildzah menekankan pentingnya aspek building covered dalam membangun. Terinspirasi pemandangan kota, artikel ”Menuju Kota Probolinggo Yang Menggairahkan” karya Indra Hadianto (SMAN 4, juara harapan 3) mencoba menggugah semangat dengan menampilkan sudut-sudut kecil penguat kesan yang menurutnya dapat menjadikan kota ini menggairahkan di masa mendatang, antara lain dengan ide Prolink Walk dan Probolinggo Shopping Centre dan arena outbound.
Dan artikel-artikel yang terkumpul di Bagian 2: Pelajar dan Wisata Kota, banyak mengunjukkan potensi wisata di beberapa sudut kota, yang dapat dioptimalkan sebagai arena wisata dengan menampilkan wahana-wahana yang bersumber dari kekhasan potensi tersebut. Bahkan bisa dimanfaatkan untuk tujuan pendidikan. Artikel ”Wisata Bahari Pendidikan Mangrove” karya Diah Ayu Fajarwati (SMAN 2), peraih juara 1 kategori SMA, mengeksplorasi aksi lingkungan hidup khususnya pelestarian hutan mangrove dari sisi wisata bahari yang dapat dimanfaatkan sebagai sarana pendidikan. Selaras dengan ide wisata bahari, artikel ”Satu Mimpi Mewujudkan Probolinggo Park” karya Kurnia Firda Farhanah (SMPN 7, juara 2 kategori SMP), merindukan akan terciptanya Probolinggo Park seperti halnya Jatim Park. Dan dua artikel berikut ini akan menjadi penguat gagasan wisata kota tersebut, dengan memunculkan karakter kuat pada wisata kelautan. Artikel ”Wisata Terumbu Karang Untuk Masa Depan” karya Siti Rodiah Hasana (SMAN 2, juara harapan 1 kategori SMA), mengedepankan pemeliharaan terumbu karang sebagai basis wisata laut karena terumbu karang merupakan tonggak kehidupan biota laut. Menurutnya, pariwisata harus multifungsi yaitu sebagai wisata bahari pelepas penat dan sebagai wisata penyelamat lingkungan. Gagasan ini bersambung dengan artikel ”Taman Laut Bayuangga” karya Husnul Hotimah (SMAN 2, juara harapan 2 kategori SMA) mengusulkan wisata bahari yang terdiri atas unsur taman laut, kuliner laut, pemancingan dan taman bacaan. Menurutnya, wisata bahari harus sekaligus bertujuan konservasi laut disamping hiburan, dan dapat dimanfaatkan secara ekonomi. Kecen-derungan taman laut dari artikel tersebut mendapat paduan gagasan wisata tepi laut dari artikel artikel ”Wisata Tepi Pantai Bayuangga” karya Yudha Ria Pratama (SMAN 2, nominator 10 besar) yang menurutnya diisi dengan arena hiburan, pemancingan, kios yang menyediakan oleh-oleh khas Probolinggo, jajanan khas bahari, tempat belajar, gedung pertunjukan, tempat peristirahatan dan deretan cafe yang didesain dalam beberapa konsep. Rupanya mainstream wisata laut yang mendominasi gagasan mayoritas artikel dalam buku ini juga menginspirasi nuansa kewisataan-bahari hingga di lingkungan pelabuhan Tanjung Tembaga. Artikel ”Pelabuhan Tanjung Tembaga Dahulu, Sekarang dan Masa Depan” karya Maulana Ghulam Hanifa (SMAN 1, nominator 10 besar) menawarkan konsep pelabuhan yang berfungsi sebagai objek wisata. Ia memimpikan suasana pelabuhan yang rindang, bersih, memiliki tempat peristirahatan dan tersedia wisata bahari yakni wisata keliling pelabuhan dan olahraga bahari. Rajutan pemikiran wisata bahari pada 6 artikel di atas mendapat asupan tambahan ide wisata agro dengan petik mangga dan anggur sebagai intinya dan wisata budaya, oleh Riski Amalia (SMPN 4, nominator 10 besar) dengan artikelnya, ”Jadikan Probolinggo Ijo Dengan Aksi Ijo-mu”. Maka lengkaplah gagasan wisata kota, sejak daratan hingga ke tepi pantai, laut dan pelabuhan! Rupanya, topik wisata begitu mendapatkan posisi dan perhatian oleh pelajar kita.
Ide-ide pelajar seputar penataan wajah kota terkumpul pada Bagian 3: Pelajar dan Penataan Kota. Nuansa khas perkotaan dicoba dipotret oleh artikel ”Pedagang Kaki Lima Sebagai Keunggulan Kota Probolinggo Masa Depan” karya Fendy (SMPK Mater Dei, juara 3 kategori SMP) dengan menunjukkan permasalahan PKL baik dari sisi PKL maupun dari sisi kepentingan kota. Menurutnya, penataan PKL harus dilakukan oleh pemerintah agar PKL menjelma menjadi aksesoris jalan, bukan pengganggu keindahan sehingga mesti ”digusur” sementara demi kepentingan ”penyelamatan kebersihan dan keindahan wajah kota”. Sedangkan proyeksi kepenuhsesakan suasana pasar di kota dicoba digambarkan dengan cukup detil di artikel ”Revitalisasi Sarana dan Prasarana Pasar Tradisional di Kota Probolinggo Guna Mengoptimalkan Pelayanan Terhadap Konsumen”, karya Fitri Wulan Andriani (SMPN 5, juara harapan 1), dengan menampilkan ide revitalisasi dimaksud, berupa pembaruan tata letak pasar tradisional khususnya Pasar Baru. Pandangan yang lebih menyeluruh tentang potensi kota yang perlu ditata tampil di artikel ”Pelangi di Kota Probolinggo” karya Risqa Ruviana (SMPN 4, juara harapan 3), dengan memotret keanekaragaman sosial budaya dan potensi di kota Probolinggo. Balutan kata yang mencerminkan kebanggaan atas kotanya, Risqa berusaha berusaha menampilkan aneka potensi kota yang dapat dikelola menuju kemandirian kota. Sedangkan kegelisahan dan harapan akan penataan wajah kota ke depan terutama yang berhubungan aset sejarah, muncul pada artikel ”Kota Probolinggo Tempo Dulu versus Kota Probolinggo Masa Kini” karya Vitessa Novitawati (SMAN 4, nominator 10 besar). Artikel ini mengandung pesan bahwa pembangunan kota di masa depan tidak harus meniadakan bangunan-bangunan tua yang bernilai sejarah, melainkan harus melestarikannya. Harapan ini bersambung dengan harapan artikel ”Membangun Universitas Yang Berkualitas dan Ternama di Kota Probolinggo” karya Anissa Felia N.H (SMPN 5, nominator 10 besar). Anissa amat berharap kota Probolinggo juga membangun universitas, tidak hanya membangun taman saja.
Gagasan pengelolaan potensi sumber daya alam dan lingkungan tersaji di Bagian 4: Pelajar dan Pengelolaan Potensi Lingkungan. Agaknya, sebutan kota angin mengusik pikiran Yusman Alharis (SMAN 4, juara 2 kategori SMA) tentang kincir angin sebagai penyuplai energi alternatif, melalui artikelnya, ”Kota Seribu Taman ala Negeri Kincir Angin”. Yusman rupanya juga terinspirasi oleh taman kota Probolinggo dan fantasi ”negeri kincir angin” (Belanda), lantas membayangkan kota Probolinggo yang kaya angin dengan memanfaatkan ”sumber daya angin” agar tampil layaknya ”negeri kincir angin”. Sementara itu, Ruang Terbuka Hijau (RTH) kota Probolinggo menginspirasi sebuah gagasan linier untuk dikembangkan menjadi Taman Belajar Hijau (TBH) di tiap-tiap kecamatan, melalui artikel ”Taman Belajar Hijau” karya Muklas Andika Wijaya (SMKN 4, nominator 10 besar). Taman Belajar Hijau ini dilengkapi dengan hotspot, koleksi buku-buku dan kamus, English area, mobil perpustakaan keliling, kantin kejujuran, kamera CCTV, serta aneka tanaman dan kolam ikan. Artikel ini mengandung pesan bahwa belajar di bawah pohon dan dekat kolam (alam terbuka hijau) lebih mengasyikkan.
Penelusuran pada aspek budaya dapat dinikmati pada Bagian 5: Pelajar dan Budaya. Artikel ”Ragam Budaya Probolinggo Pemberi Ciri Khas Probolinggo Masa Depan” karya Tasya Tamara (SMPN 3, juara harapan 2), menampilkan beberapa produk budaya di Kota Probolinggo, yang menurutnya harus dilestarikan terutama di kalangan generasi muda. Keragaman budaya tersebut, disusul dengan artikel berjudul sama namun dengan penekanan berbeda yang ditulis oleh Windy Alvionita (SMPN 3, nominator 10 besar), ”Ragam Budaya Probolinggo Pemberi Ciri Khas Probolinggo Masa Depan” yang menyajikan beberapa budaya kota Probolinggo yang dikaitkan dengan wisata. Disambung artikel ”Kota Probolinggo Sebagai Kota Seni dan Budaya Masa Depan” karya Nicko Syaifuddin Al-Haq R (SMPN 3, nominator 10 besar) yang berisi aneka kesenian kota Probolinggo dan perlunya unjuk kreasi seni berikut fasilitasinya oleh pemerintah.
Artikel-artikel dalam buku ini dikelompokkan berdasarkan angle penulisnya terhadap tema yang disajikan yakni ”Kota Probolinggo Masa Depan”, yang menjadi kelompok bahasan. Urutan artikel pada kelompok bahasan pada masing-masing Bagian disesuaikan dengan angle tersebut, tidak semata-mata berdasarkan kejuaraan dalam kompetisi, walaupun secara kebetulan artikel tersebut menyabet predikat juara. Ada beberapa artikel yang meraih juara ke-2 hingga nomor buncit, bahkan hanya nominator 10 besar –tidak meraih juara karena hanya ada 6 juara pada masing-masing kategori jenjang pendidikan-, tetapi karena angle-nya sesuai dengan kategori tematik sistematika buku ini, diurutkan dari atas, dst. Tetapi, kebetulan pula, yang berada pada urutan atas dalam penyusunan sistematika ini, adalah artikel yang disamping memang sesuai dengan kelompok bahasan pada masing-masing Bagian, juga menyabet predikat juara.
Inilah seninya menulis. Satu tema bahkan satu pokok bahasan bisa dieksplorasi sebanyak-banyaknya dari berbagai angle dan kebutuhan. Dan objek yang dieksplorasi juga tak pernah kering, jika kita mau melihat sekeliling. Sekeliling kita adalah laboratorium sosial untuk menghasilkan karya nyata! Dan terlampau banyak cerita manusia dan alam yang bisa dituliskan! Setidaknya buku ini telah memulai, walaupun dengan berbagai keterbatasan yang ada, anak-anak kita telah memulai! Hal terpenting adalah ide, barulah konten dan sistematika penyajiannya. Angle yang dikuatkan oleh penulis artikel merepresentasi fokus perhatian dan misi penulisnya. Kebanyakan artikel dalam buku ini memfokuskan pada topik wisata kota (7 artikel), disusul penataan kota (5 artikel), strategi pengembangan kota (3 artikel), budaya (3 artikel), dan pengelolaan potensi lingkungan (2 artikel). Dan sistematika penyajian dalam sebuah artikel menunjukkan sistematika dan daya nalar penulisnya. Sistematika penulisan yang baik, runtut dan teratur sehingga main idea tersaji dengan jelas dan pembaca pun dapat menangkap idenya secara utuh, menunjukkan keteraturan pemikiran penulisnya. Dan ini amat baik jika dipupuk sejak dini, sehingga kelak ketika anak-anak tumbuh dewasa dan ”menjadi orang” akan terbiasa dengan logika dan pola pikir yang sistematis. Dan tindakannya pun diharapkan akan mengikuti pemikiran yang sistematis tersebut.
Satu hal yang dapat dikatakan terhadap karya para pelajar ini: mengagumkan, untuk ukuran pelajar setingkat SMP dan SMA! Terutama dari aspek content. Kolaborasi yang kaya content dari 20 artikel yang terajut dalam buku ini setidaknya mengguratkan seraut asa yang menginspirasikan paradigma baru tentang partisipasi anak dalam pendidikan dan pembangunan masyarakat, dengan memadukan gagasan orisinal pelajar dengan perencanaan pembangunan. Gagasan sebening kristal yang mampu memancarkan spektrum cahaya pemikiran yang beraneka warna. Tentu saja, para pelajar kita ini masih membutuhkan bimbingan. Pada aspek teknis, meliputi penggunaan kecakapan berbahasa tulis dan penalaran, masih perlu bimbingan. Pada aspek yang lebih makro, bimbingan yang dapat memampukan mereka menggunakan akal budinya dengan bijak. Salah satunya, adalah dengan membiasakan tradisi menulis yang didasarkan dari observasi lingkungan sekitarnya. Kegiatan ini memerlukan kegiatan membaca sebanyak-banyaknya untuk menghimpun referensi keilmuan, melihat lingkungan sekitarnya dengan menghubung-hubungkan dengan referensi dan merefleksikannya dengan kebutuhan-kebutuhan dan harapan misalnya gagasan tentang masa depan. Dalam proses ini terjadi dialog antara referensi keilmuan, konteks kehidupan dan misi serta visi seorang pelajar. Ibarat pesilat, ia akan mengerahkan segenap jurus dan kemampuannya untuk ”menakhlukkan” objek yang diobservasi dalam sajian karya tulis yang kontekstual dan bervisi. Dan motivasi!
Layaknya para pelajar, walaupun mereka telah mampu mengeksplorasi objek persoalan dengan baik, imajinatif, rinci dan runtut serta berdaya jangkau, mereka masih kurang dapat menjelaskan persoalan teknis yang muncul mengiringi detil peristiwa yang dipotret. Tetapi inilah kekuatannya. Tentu saja, untuk tingkat pelajar, mereka tidak harus menguasai pokok persoalan hingga ke penjelasan yang bersifat teknis, karena bukanlah ranah mereka, melainkan ranah para guru, peneliti, praktisi, ilmuwan dan kalangan pengamat sosial yang telah memiliki kompetensi yang memadai. Yang penting dan pokok bagi para pelajar, adalah ketika mereka mampu mengunjukkan keaslian ide yang terlahir dari olah pikir ketika mereka melihat persoalan di sekitar mereka dengan sajian tulisan yang cukup menjelaskan, logis dan sistematis. Kepekaan dan ketanggapan sosial inilah yang perlu dihargai dan ditumbuhkembangkan! Selanjutnya, gagasan segar, bening dan cerdas inilah yang selayaknya menginspirasi para guru, peneliti, akademisi, praktisi keilmuan dan pemerintahan serta para pengamat yang telah berkompeten, untuk melanjutkannya dengan tindakan ilmiah untuk melahirkan karya nyata yang bermanfaat. Ide para pelajar ini benar-benar merupakan kristal bening yang memancarkan spektrum cahaya beraneka warna, tergantung penerjemahan lanjutan. Akankah spektrum cahaya ini cukup dipandang layaknya memandang pelangi yang indah di kaki langit dengan segepok decak kagum, ataukah kemudian kita menangkapnya dan mendayagunakannya sebagai inspirasi merajut masa depan Kota Probolinggo dalam tindakan nyata? Kiranya, merencanakan masa depan kota bersama warga kota termasuk para pemikir muda yakni para pelajar, sungguh indah. Ada nuansa pembelajaran yang tumbuh bersama pembangunan masyarakat. Kepada para pelajar, khususnya para penulis artikel dalam buku ini, yaitu adik Diah Ayu Fajarwati (SMAN 2), Nikkolai Ali Akbar Velayati (SMPN 1), Yusman Alharis (SMAN 4), Kurnia Firda Farhanah (SMPN 7), Fildzah Raudina M. (SMAN 1), Fendy (SMPK Mater Dei), Siti Rodiah Hasana (SMAN 2), Husnul Hotimah (SMAN 2), Indra Hadiyanto (SMAN 4), Fitri Wulan Andriani (SMPN 5), Tasya Tamara (SMPN 3), Risqa Ruviana (SMPN 4), Muklas Andika Wijaya (SMKN 4), Yudha Ria Pratama (SMAN 2), Vitessa Novitawati (SMAN 4), Maulana Ghulam Hanifa (SMAN 1), Nicko Syaifuddin Al-Haq R. (SMPN 3), Riski Amalia (SMPN 4), Anissa Felia N.H (SMPN 5) dan Windy Alvionita (SMPN 3), terimakasih atas kontribusi kalian pada perencanaan pembangunan kota kita ini melalui artikel futuristik kalian yang hebat. Teruslah berkarya dan belajar!
Ikatlah ilmu itu dengan menuliskannya! Untuk para pelajar lain, yang belum berkesempatan dan untuk semua pelajar, masih banyak kesempatan untuk unjuk karya kalian. Persoalan masih mengalir setiap hari. Tergantung kalian, melewatkannya begitu saja, ataukah menangkapnya, meramunya dan menjadikannya karya tulis yang hebat. Dan kalian punya 2 opsi saja dalam hidup: melewatkan setiap waktu berharga dan memboroskan umur kalian untuk hal-hal yang tak jelas dan berakhir dengan tak memperoleh apa-apa selama masa studi, atau bertindak cerdas dengan menanyakan kepada diri sendiri: sudah bisa apakah aku? Dan lakukan sesuatu untuk bangkit! Kegiatan menulis, merengkuh beberapa aspek pembelajaran sekaligus: menggali informasi dan referensi sebanyak-banyaknya (membaca, diskusi, dll), observasi (melatih ketajaman indera keilmuan), melatih kemampuan menganalisis, logika, berpikir sistematis dan terstruktur, menajamkan keterampilan berbahasa, melatih kejujuran, tanggung-jawab dan percaya diri. Tulisan kalian adalah aktualisasi diri kalian.
Kepada para guru pembimbing, terimakasih telah memberikan bimbingan. Juga para orangtua siswa yang telah memberikan dukungan bagi putra-putrinya. Untuk para juri, yaitu Bapak Noviansyah Rizal, SE., MM (STIA Bayuangga), Bapak Drs. Suhardji (STAI Muhammadyah) dan Bapak Muhammad Sonhaji, S.Sos., M.Si (Jarlitbang/ Bappeda), yang telah menyeleksi, menguji dan mengantarkan para juara muda ini hingga karyanya bisa dinikmati oleh para pelajar di kota ini, para guru, orangtua, pejabat pemerintah kota Probolinggo dan kalangan masyarakat luas. Terimakasih juga untuk rekan-rekan Jaringan Penelitian dan Pengembangan (Jarlitbang) Kota Probolinggo dan Kepala Bappeda, Bapak Ir. Budi Krisyanto, M.Si atas dukungan dan fasilitasinya.
Pemikiran bening semacam ini perlu terus dieksplorasi dan didayagunakan. Supaya slogan ”anak muda adalah tunas bangsa” tak hanya sekadar menjadi penghias halaman buku dan pemanis pidato saja. Dan kota ini insya Allah akan menjadi seperti yang diimpikan oleh para pelajar cerdas kita ini sebagaimana ditulis di artikel mereka dalam buku ini.
Kolaborasi dan pemikiran ”anak-anak” (pelajar) dan ”orang tua” (akademisi, praktisi, pelaku pembangunan, aparat pemerintahan, dsb) akan menjadi ramuan baru yang menyehatkan pergulatan pemikiran pembangunan. Di sisi lain, sebagai upaya mengeluarkan anak-anak (pelajar) dari kungkungan terali besi pembelajaran yang mengekang kreativitas. Anak-anak memerlukan lebensraum (ruang hidup) dalam pembelajaran kreatif yang kontekstual untuk meledakkan potensi mereka yang luar biasa. Semoga buku ini bermanfaat dan menginspirasi kita semua dalam memberdayakan potensi lokal untuk upaya bersama pembelajaran dan pembangunan masyarakat. Amin.
Probolinggo, Mei 2010
Editor
Wawan E. Kuswandoro, S.Sos., M.Si
Ketua Dewan Pendidikan Kota Probolinggo,
Anggota Jaringan Penelitian dan Pengembangan (Jarlitbang) Kota Probolinggo
Read More......
Modal Sosial & Urban Policy
Tebal: xiv + 227 hlm
Penulis: Wawan E. Kuswandoro
Penerbit: InSECS Publishing, Surabaya
Cet. I: Mei 2010
RINGKASAN
Modal sosial menjadi perekat dalam hubungan sosial bagi setiap individu, dalam bentuk norma, kepercayaan dan jaringan kerja, sehingga terjadi kerjasama yang saling menguntungkan, untuk mencapai tujuan bersama. Modal sosial juga dipahami sebagai pengetahuan dan pemahaman yang dimiliki bersama oleh komunitas, serta pola hubungan yang memungkinkan sekelompok individu melakukan satu kegiatan yang produktif.
Dalam konteks kepemerintahan daerah di era otonomi daerah, hubungan sosial melibatkan institusi pemerintah beserta komponen internalnya yakni para satuan kerja, dan institusi pemerintah dengan sektor swasta dan warga masyarakat, yang dalam bahasan buku ini disebut ”aktor lokal”, dalam entitas lokal Kota Probolinggo, mengandung unsur kekuatan yang dimiliki oleh suatu daerah dalam mempersepsi dirinya untuk keperluan pembangunan berkelanjutan berorientasi ke depan, yang lazim disebut ”modal sosial” (social capital). Dalam pengertian ini, modal sosial pada intinya menunjuk pada political will dan penciptaan jaringan-jaringan, kepercayaan, nilai-nilai bersama, norma-norma dan kebersamaan yang timbul dari adanya interaksi manusia di dalam sebuah masyarakat. Pemerintah dapat mempengaruhi secara positif kepercayaan, kohesifitas, altruisme, gotong royong, partisipasi, jaringan, kolaborasi sosial dalam sebuah komunitas. Modal sosial pada umumnya akan tumbuh dan berkembang bukan saja karena adanya kesamaan tujuan dan kepentingan, melainkan juga karena adanya kebebasan menyatakan pendapat dan berorganisasi, terjadinya relasi yang berkelanjutan serta terpeliharanya komunikasi dan dialog yang efektif. Sebagian upaya ini dapat dikembangkan dari adanya komunikasi yang terbuka antar aktor lokal termasuk pemerintah dan dapat pula dikembangkan oleh pemerintah melalui kebijakan publiknya.
Konsepsi yang berupaya dibangun ini, memang tidak menafikan kecenderungan arus besar desentralisasi Indonesia yang lebih menonjolkan sisi pengembangan institusi, baik institusi pemerintah maupun kemasyarakatan dengan ciri pengembangan NGO dan aktor lokal lainnya (civil society) yang mempengaruhi pengembangan konsepsi modal sosial dan urban policy. Namun, “keterlanjuran formula neo-institusionalis yang telah menasional” ini sedikit banyak terkikis oleh suatu “side effect” yang positif dalam pandangan developmentalis, yakni munculnya inovasi-inovasi yang terukur.
Kebijakan publik Kota Probolinggo terutama dalam praktik pengalaman terbaik (best practices) Kota Probolinggo selama kurun waktu 2004 – 2009 yang termanifestasi dalam program-program inovatifnya, dapat dianalisis bahwa strategi kebijakan publik dapat dirancang untuk menumbuhkembangkan modal sosial, dan lebih lanjut, modal sosial yang secara laten embedded dengan proses sosial suatu kebijakan publik dapat diinventarisasi untuk kepentingan lanjutan. Modal sosial dan pertukaran sosial akan memberikan jawaban pada lokalitas sosial, sekaligus mengklarifikasi apakah “best practices” dalam program inovasi pada kurun waktu tersebut telah benar-benar merupakan best practices, dengan indikator tertentu. Kajian modal sosial (social capital) dalam studi-studi kepemerintahan sangat diperlukan untuk merangkai dan mengaktifkan anasir laten yang mendasari hubungan antar aktor dalam ruang dan hubungan sosial kepemerintahan dalam lokalitas daerah sebagai alat analisis, dan penggunaan pendekatan urban policy untuk menjelaskan secara live interkoneksitas elemen-elemen lokal berikut otoritas lokal (local authority) yang beroperasi di wilayah kebijakan publik suatu daerah.
Dari seluruh program inovasi yang dilaksanakan oleh Pemerintah Kota Probolinggo dari tahun 2004 hingga 2009, yang menjadi objek kajian buku ini, memunculkan beberapa pertanyaan mendasar tentang detil informasi yang berkaitan dengan proses dan implementasi kebijakan publik Pemerintah Kota Probolinggo pada program inovasinya selama kurun waktu 2004 – 2009. Yakni sejauh mana inovasi tersebut benar-benar dapat dikatakan sebuah inovasi yang telah memenuhi standard dan kriteria (indikator) tertentu dan menjadi best practices yang dapat dijadikan pelajaran (lesson-learned) bagi diri sendiri sebagai referensi pengembangan ke depan (self evaluation) bahkan mungkin bagi daerah lain serta interlink antar aktor dan hubungan sosial yang terjadi pada proses dan implementasi program inovasi tersebut.
Buku ini, disusun dalam kerangka konseptual untuk menjawab pertanyaan di atas, dengan mendeskripsikan modal sosial dalam kebijakan publik Kota Probolinggo pada program inovasi selama 2004 – 2009, yang lebih lanjut untuk menjelaskan urban policy. Modal sosial merupakan sesuatu yang embedded dengan proses praktik penyelenggaraan pemerintahan dan pengelolaan kota. Ia dapat ditumbuhkembangkan dan diperkuat melalui kebijakan publik yang telah dilakukan dalam apa yang disebut best practices itu maupun melalui rancangan strategi kebijakan publik lanjutan dalam rangka menuju best practices program inovasi jika program inovasi pemerintah kota selama 2004 – 2009 yang dikaji ternyata masih belum dapat dikategorikan sebagai best practices secara keseluruhan ataupun sebagian. Setidaknya, buku ini mengisyaratkan tentang perlunya studi dan dokumentasi untuk menganalisis modal sosial dan urban policy dalam implementasi kebijakan publik pada suatu pemerintahan daerah sebagai pengalaman terbaik (best practices) dan bahan evaluasi diri (self evaluation) bagi kebijakan lanjutan yang lebih baik. Isu sentral buku ini yakni modal sosial dan urban policy pada program inovasi 2004 – 2009, dengan membatasi diri untuk tidak membahas tentang baik buruknya suatu program kebijakan atau pelayanan publik, tetapi lebih kepada proses sosial yang melingkupi suatu kebijakan atau program. Karenanya, beberapa konsepsi yang ingin direkonstruksi oleh buku ini adalah, pertama, upaya identifikasi dan inventarisasi terhadap berbagai program inovasi yang telah dilakukan oleh pemerintah Kota Probolinggo pada kurun waktu 2004 – 2009, yang kemudian dapat dianggap sebagai suatu bentuk pengalaman terbaik (best practices) Kota Probolinggo, ketika telah dapat membawa perubahan dan dampak yang dapat dirasakan oleh masyarakat. Kedua, upaya eksplorasi dan analisis modal sosial dalam praktik dan kebijakan pengelolaan pembangunan perkotaan (urban policy) dalam konteks inovasi pemerintah Kota Probolinggo dalam kurun waktu 2004 – 2009, serta untuk merancang strategi kebijakan publik untuk menumbuhkembangkan modal sosial dalam konteks urban policy, memperkuat program-program inovasi yang telah ada maupun yang baru serta sebagai referensi untuk meningkatkan kualitas pelayanan publik dalam implementasi kebijakan publik pemerintah Kota Probolinggo ke depan. Khususnya pada konsepsi kedua, modal sosial dan urban policy, akan berperan baik pada keberadaan best practices maupun tidak adanya best practices pada beberapa program inovasi yang telah dijalankan. Dan secara umum kedua capaian tersebut diharapkan akan dapat memperkuat referensi bagi implementasi kebijakan publik oleh penyelenggara dan pengelola pemerintahan Kota Probolinggo berdasarkan pengalaman sendiri, mempermudah perencanaan dan penguatan kebijakan lanjutan pada masa yang akan datang berdasarkan hasil kajian modal sosial dan urban policy terhadap praktik pengalaman terbaik inovasi yang telah dilakukan. Dalam hal lesson learned (pelajaran yang dapat diambil), sebagai bahan saling tukar informasi, pengalaman dan referensi antar pengelola pemerintahan kota di lingkup regional dan nasional dalam rangka menguatkan kembali implementasi kebijakan program inovatif pemerintahan Kota Probolinggo.
Kiranya, inovasi-inovasi yang menyertai upaya lokal dalam bangunan besar pengembangan institusi kepemerintahan dalam arti luas, akan membawa ciri tersendiri dengan menampilkan wajah welfare state pada aras lokal sesuai dengan proses sosial dan transmisi kultural yang dinamis. Dan dinamisasi ini bergerak secara menyebar dalam penguatan urban policy bersama kekuatan civil society.
Menarik, penulis membawa pada pembukaan wawasan inovatif ketika gagasan dan karya inovatif pemerintah daerah di-capture dan disajikan dengan mengetengahkan konsep modal sosial sebagai bingkai proses sosial di ranah lokal pada area yang diteliti. Menariknya lagi, buku ini ditulis oleh peneliti dan aktivis lokal, yang setiap harinya hidup di locus kajian, sehingga mengetahui dan mengalami secara alamiah, sekaligus dapat mengisi kekosongan akan sedikitnya tulisan dan analisis tentang pelaksanaan otonomi daerah di Indonesia, khususnya yang dapat menunjukkan dinamika lokal dalam perspektif ‘peneliti lokal’. Karena yang kerap terjadi adalah “orang pusat berbicara tentang daerah”, bukan orang daerah bicara tentang daerahnya sendiri.
Buku ini telah menjawab persoalan kelangkaan tersebut. Karya ini disamping dapat memperkaya perbendaharaan bagi masyarakat daerah terhadap daerahnya sendiri, juga dapat menjadi inspirasi baru dan menggugah kesadaran baru bagi warga daerah yang ingin ‘berbicara’ tentang daerahnya.
Apa Kata Akademisi....
"Mendinamisasikan dokumen negara demi kepentingan publik seperti yang ditunjukkan oleh buku ini, selaras dengan semangat transparansi dan kemudahan memperoleh informasi bagi masyarakat luas. Ia telah menghidupkan arsip-arsip pasif yang pada umumnya tersimpan rapi di rak-rak birokrasi dan masyarakat umum pun enggan menjangkaunya, kini bisa dinikmati oleh siapa saja. Peluang bagi masyarakat luas untuk mempelajari institusi internal pemerintah berikut hubungannya dengan masyarakat”
(Nanang Haryono, S.IP., M.Si, Dosen FISIP Universitas Airlangga Surabaya)
Read More......




















