“Amerika kita setrika, Inggris kita linggis”. Penggalan unen-unen yang kerap terdengar mengiringi semangat nasionalisme pada era Soekarno menyambut kedatangan makhluk asing bernama neo-liberalisme ini mungkin kini menjadi relevan untuk menyambut keberpihakan Amerika Serikat (AS) dan konco-konconya pada Israel yang menghabisi rakyat Palestina di Jalur Gaza (beberapa waktu lalu: Lebanon). Semangat nasionalisme yang kini nyaris tak terdengar lagi di tengah gemuruh kebisingan globalisasi ekonomi dan pengaruh hegemoni Barat (AS) di bidang ekonomi, social, politik bahkan budaya. Bahkan kehidupan social-keagamaan pun harus selaras dengan kepentingan Amerika.
Sebagian masyarakat Indonesia pun kini ikut-ikutan propaganda pers Barat (AS) dengan misalnya memandang stereotipik dan stigmatik terhadap mereka yang berjenggot (Muslim) dengan gelar ‘teroris’. Akibatnya, mereka yang berkarir di jalur social-keagamaan rentan terhadap tindakan asosial. Menyikapi kebiadaban Israel dukungan AS terhadap rakyat Palestina ini, tanpa menafikan kecenderungan pemikiran jihad beberapa kalangan, penulis menawarkan jihad sistemik melalui jihad ekonomi, politik dan budaya untuk melawan system yang dibangun AS. Israel tak berarti tanpa AS. Mengawali itu semua, penulis memulai dari modal awal kita: solidaritas dalam sistem demokrasi.
Menakar Demokrasi dan Solidaritas Kita
Dengan semangat kemerdekaan ini semoga kemerdekaan individu untuk berprestasi semakin mendapat apresiasi. Dan Indonesia yang kaya warna, penganut paham demokrasi, semakin bisa menghargai karya intelektual menurut ukuran Indonesia, bukan bangsa lain. Prof. Abdus Salam, sebagaimana dikutip Dr. Christianto Wibisono (Suara Pembaruan Daily,27/4/98), mencontohkan bagaimana system demokrasi Prancis menyelamatkan Ayatullah Khomeini, tokoh revolusi Islam Iran, dari kejaran polisi rahasia Savak bentukan Shah Iran dengan memberinya suaka politik yang memungkinkan Khomeini leluasa mengontrol dan menyukseskan revolusi Iran. Dari sini, kiranya apresiasi Prof. Abdus Salam terhadap system demokrasi Prancis menarik untuk dicatat. Bahwa system demokrasi yang menghormati hak asasi manusia (HAM) seperti praktik Prancis itulah sebetulnya jiwa dan nafas Islam sejati terlaksana, tanpa embel-embel formalisme hukum syariah. Konkretnya, Ayatullah Khomeini dan Abdus Salam memperoleh kebebasan, tempat suaka dan kerja di bumi yang menghormati HAM dan menghargai prestasi kerja individu yang cemerlang, tidak peduli agama mereka yang Islam (bahkan ‘Islam yang mana’) berbeda dengan mayoritas warga Prancis yang Katholik. Seandainya dunia ini tidak punya sistem demokrasi yang menghormati HAM, pengungsi dan pelarian politik, maka barangkali dunia ini hanya akan dikuasai ''Konspirasi Dasamuka Internasional'' (istilah Christianto Wibisono) seperti Hitler, Stalin, Shah Iran, Mobutu, Mao Zedong, Pol Pot, Marcos, Idi Amin dan ratusan despot yang membunuh semua lawan politik sebab tidak ada suaka seperti Prancis melindungi Khomeini.
Seluruh dunia akan menjadi mangsa besar despot penguasa tunggal absolut dari berbagai bangsa dan peradaban yang semuanya hanya ingin melestarikan kekuasaan. Segenap lawan politik dibantai dan karena negara lain tidak ada yang (mau) demokratis, maka tidak mungkin akan ada lawan yang mampu menggulingkan Shah Iran jika Ayatullah Khomeini tidak dilindungi di Prancis. Bahkan kolega Arab-nya tidak dapat berbuat apa-apa karena rikuh terhadap Shah! Persis dengan apa yang terjadi sekarang: Liga Arab (Arab League) diam seribu satu malam eh seribu satu bahasa ketika mata mereka meliohat keganasan Israel terhadap Palestina! Hei.. lo pada kembali jadi jahiliyah lagi ya... Mungkin filsuf-sosiolog Islam akan menilai Prancis lebih “Islami” ketimbang Arab Saudi yang malah bermesraan dengan AS dan antipati terhadap gerakan Khomeini.
Kini, solidaritas bangsa Arab, solidaritas sesama negara Islam dan negara berpenduduk mayoritas Muslim, serta solidaritas Muslim, kembali diuji dengan insiden pembantaian warga Palestina oleh Israel yang didukung oleh negara-negara besar semisal AS dan negara-negara Eropa (mereka kan tidak menentang Israel to.. mereka justru menyalah-nyalahkan Hamas). Persoalan genocide terhadap Palestina dan Lebanon oleh Israel dkk ini penulis pandang sebagai moment untuk melawan “Konspirasi Dasamuka Internasional” yang dimotori AS. Penulis meyakini ini bukan perang, tetapi genocide (pembantaian, pemusnahan ras).
Zionisme Israel dan Keuntungan AS
Menyikapi Israel-Palestina, penting untuk diingat bahwa isu agama tidak pernah menjadi persoalan di Timur Tengah yang selama berabad-abad mereka dapat hidup berdampingan secara damai antara Yahudi, Kristen Arab, dan Islam. Persoalan kekerasan mulai timbul sejak kebangkitan ideologi Zionisme di Israel yang didukung Barat ditambah dengan hegemoni AS yang menginjak martabat bangsa Arab. Neo-imperialisme capitalisme AS dkk yang haus minyak Timur Tengah dibungkus demokrasi yang tampak ketika melakukan agresi ke Irak yang berdalih menyelamatkan rakyat Irak dari diktatorisme Saddam Hussein (Baswir,2006), isu terorisme yang diciptakan oleh AS beserta sepak terjang AS dalam memerangi terorisme, menurut Vermonte tampaknya menjadi Vietnam kedua bagi AS. Kecenderungan ini menguat karena masyarakat dunia sudah muak dengan hegemoni AS yang, oleh George W. Bush dkk, bertindak mencampuri kebijakan domestik negara-negara berdaulat. Kebijakan Bush ini bisa memicu konflik: seluruh dunia melawan AS. Sementara itu, Iwan Santosa, mengutip Achmad Ramzy Tadjudin, pengamat Timur Tengah, menilai salah kaprah pendekatan George W. Bush dkk yang memaksakan negara lain -khususnya Timur Tengah- untuk menerima demokrasi ala AS. Dunia Arab pasca kelahiran Islam selama belasan abad hidup dalam lingkungan yang eksklusif dengan tatanan pemerintahan nir-sekuler yang tidak memisahkan pandangan iman dalam kehidupan sehari-hari yang berbeda dengan AS. Masyarakat Timur Tengah memiliki identitas budaya yang tidak membuka diri untuk kehadiran masyarakat Barat yang notabene berbeda agama dan budaya. Ini merupakan identitas Arab yang tidak dipahami bahkan dianggap negatif oleh Bush. Situasi semakin buruk dengan kehadiran militer asing di tanah Arab yang tentu saja dianggap menghina martabat bangsa Arab dan Islam. Lebih parah lagi, agenda demokrasi ala AS sebetulnya hanya kamuflase untuk kepentingan nasional AS dan konco-konconya Bush, yakni menguasai minyak dunia! Siapa menguasai Timur Tengah dan Asia Tengah berarti menguasai urat nadi industri dunia. Ini sangat dipahami George W. Bush dan Dick Chenney yang berasal dari keluarga kapitalis minyak. Alhasil, keberadaan kelompok radikal di dunia Islam seolah nyala api yang mendapat siraman minyak oleh kehadiran AS. Muhammad Luthfi, ketua Kajian Timur Tengah Universitas Indonesia, menjelaskan saat ini ada tiga gerakan pemikiran radikal di Arab Saudi yang kerap dicurigai oleh penguasa. Mereka adalah kelompok Ikhwanul Muslimin, Hizbut Tahrir yang memperjuangkan perubahan politik Saudi dan dunia Islam ke sistem kekhalifahan, serta kelompok Salafiyah yang berjuang mengurangi ketergantungan pada AS. Kini, AS di bawah Barack Obama gimana? Lihat postingan lain aja ya... kalo di sini malah ngelantur tu jadinya...
Mengganyang “Konspirasi Dasamuka Internasional”
Maka, bagaimanakah (seharusnya) peran Negara-negara Muslim menyikapi genocide yang dilakukan Israel terhadap Palestina? Kasus Palestina-Israel bukan masalah local, atau masalah umat Islam, tetapi masalah internasional, masalah kemanusiaan dan HAM universal. Mengharapkan pengusutan oleh Mahkamah Internasional atas kasus Israel-Palestina sama halnya dengan menunggu Godot, dan bukan tujuan tulisan ini. Dunia internasional semakin tidak percaya kepada AS dan PBB walaupun mereka sulit untuk bertindak. Jerat jejaring hegemoni AS begitu kuatnya melilit Negara-negara dunia, termasuk Indonesia. Ada baiknya kita mengenali terlebih dahulu “medan pertempuran” kita kali ini. System dunia yang telah dibangun AS tentu tidak mudah untuk dirobohkan “hanya” dengan “jihad lokal”. Pertama, kita mengenali setting panggung politik internasional tempat system bangunan AS ini berada. Kiranya tesis Huntington bahwa dunia sedang diwarnai benturan antar peradaban yakni peradaban Barat dan non-Barat (Islam dan Konfusianisme) baik pula untuk disimak. Samuel P. Huntington, dalam The Clash of Civilization and The Remaking of World Order memandang bahwa konflik politik dunia ke depan adalah antar peradaban, dengan klaim "universal", peradaban-peradaban lokal akan saling berbenturan. Yang terjadi adalah drama bellum omnium contra omnes yang bukan lagi sekadar the war of every man against every man seperti dikatakan oleh Hobbes, tetapi lebih berupa the war of every civilization against every civilization. Karena tidak ada "rasionalitas universal" untuk menghakimi siapa yang "benar", maka kompetisi klaim harus diselesaikan dengan kekuatan (peradaban) lain. Muncullah pemeo might is right, kekuatanlah yang akan menentukan siapa-siapa yang pantas disebut "universal”. Peradaban yang kuatlah yang akan muncul sebagai pemenang dalam benturan antar peradaban ini. AS memandang peradabannyalah yang akan muncul sebagai pemenang pasca berakhirnya era perang dingin dengan tamatnya Uni Soviet. AS sengaja memelihara Israel dan berterimakasih kepada “para radikalis Islam” sebagai pembenar untuk mengintervensi wilayah kekuasaan Islam di Timur Tengah dan dunia, dengan kekuatan militer dan ekonominya. Kedua, globalisasi teknologi informasi yang tengah digencarkan oleh kekuatan kapitalisme internasional yang diboncengi dengan invasi budaya secara besar-besaran sembari memperkuat ide capitalisme itu sendiri telah benar-benar mencengkeram system ekonomi-politik bahkan budaya Negara-negara dunia, termasuk Negara-negara Islam, juga Indonesia. Kekuatan ekonomi - politik – budaya AS yang diekspor oleh mekanisme globalisasi, dalam perspektif antropologi telah mampu menggeser ekonomi-politik-budaya local. Bahkan Anthony Giddens dalam perspektif sosiologis menyatakan globalisasi yang mengintensifikasi relasi social di seluruh dunia yang menghubungkan lokalitas yang berjauhan, sering dirujuk untuk menggambarkan penyebaran dan keterkaitan produksi, komunikasi dan teknologi di seluruh dunia. Penyebaran ini melibatkan kompleksitas dimensi dan kegiatan ekonomi, politik, sosial dan budaya (Giddens: 2004). Ayatullah Ali Khamenei dalam bukunya “Perang Budaya”, berdasarkan pengalaman di negerinya mengingatkan adanya, dan bahayanya perang budaya, antara Barat (AS) dan budaya Islam (Khamenei,Al-Ghazwu Ats-Tsaqafi:Al-Muqaddimat wa Al-Khalfiyyat At-Tarikhiyyah:2005). Ketiga, cengkeraman hegemoni ekonomi politik AS melalui jalur formal, yakni penciptaan ketergantungan ekonomi-politik Negara-negara Dunia Ketiga (termasuk Indonesia) kepada kekuatan ekonomi (keuangan) internasional semacam IMF (International Monetary Fund) dan Bank Dunia. Revrisond Baswir mencatat jerat neo-kapitalis dan neoliberalis (AS) terhadap ekonomi politik Indonesia dalam Mafia Berkeley (2006), bahwa pemulihan ekonomi Indonesia dengan menggunakan resep IMF sama halnya dengan memperparah krisis ekonomi dan memperkuat ketergantungan pada cengkeraman IMF dan supremasi AS. Penulis menawarkan gerakan perlawanan secara kaffah dan sistemik. Penulis tidak menafikan kecenderungan jihad yang diartikan angkat senjata oleh beberapa kalangan. Sebaiknya, semua lini ditempuh: jangka pendek dan jangka panjang. Persoalan kebiadaban Israel tidak bisa dilepaskan dari kecongkakan dan hegemoni AS. Israel tidak akan berdaya tanpa dukungan ekonomi dan militer AS, sedangkan AS tidak akan berarti tanpa otak Israel, kekuatan lobby Yahudi Israel (AIPAC) menguasai Senat dan Kongres AS berikut media massa, yang mempengaruhi kebijakan pemerintah AS. Dan tidak ada presiden AS yang mulus memasuki Gedung Putih tanpa lobby Yahudi Israel (Findley:1987). Mengganyang Israel tanpa mengganyang AS ibarat memukul ekor ular tanpa memukul kepalanya. Pertama, perkuat solidaritas Islam dan sesama Muslim. Jangan ada saling curiga antar sesama umat Islam dengan berbagai variasi pandangan. Yang patut diingat kembali oleh umat Islam adalah Islam hanya ada satu. Nabi Muhammad SAW membawa ajaran Islam yang satu, yang akhirnya menyebar ke seluruh penjuru dunia, termasuk Indonesia. Ide “Islam universal”, atau “satu Islam” inilah modal awal yang harus kita punyai. Budaya “Satu Islam” kiranya ditransformasikan dalam semangat kehidupan budaya kaum Muslim. Baik masyarakat maupun pemerintah agar tidak mencurigai kelompok-kelompok Muslim yang berjuang membela kepentingan umat, apalagi ikut-ikutan propaganda Amerika dengan memberikan cap radikalis, fundamentalis, apalagi teroris. Katholikisme Perancis saja malah mendukung gerakan revolusi Islam Ayatullah Khomeini. Kedua, membendung arus globalisasi informasi dengan menguasai dan menerapkan ilmu pengetahuan dan teknologi. Masih banyak kalangan umat Islam yang tertegun-tegun memandang fenomena globalisasi. Ada baiknya menjadikan penguasaan ilmu pengetahuan teknologi (yang masih dianggap sekuler) menjadi menu wajib pendidikan di pondok-pondok pesantren melengkapi ilmu-ilmu agama. Sembari menjelaskan kaidah agama dan fenomena alam dan social dalam perspektif ilmu pengetahuan (science). Ketiga, keluar dari jerat neo-kapitalisme dan neo-liberalisme yang sengaja diciptakan AS. Untuk yang ketiga ini memang berat, karena pikiran dan hati kita sudah terlanjur dikuasai oleh virus supremasi AS. Setidaknya, memulai untuk mengurangi (sebisanya) ketergantungan terhadap AS, terhadap produk-produk AS, baik produk kebijakan maupun barang. Sebagai contoh, produk ekonomi, IMF, agen distributor imperialisme-kapitalisme. Memang perlu keberanian dan kesediaan berkorban. Kiranya, kembali pengalaman (pahit) Iran melalui revolusi Islam Ayatullah Khomeini layak diambil hikmahnya. Revolusi kebudayaan yang dilakukan China era Deng Xiao Ping menarik pula untuk disimak. Betapa Iran mampu menentang hegemoni AS dan “say no to US” dengan ungkapan yang terkenal:“not West nor East, Islamic Republic of Iran!” (Laa Maghribiyyah laa Masyriqiyyah, Jumhuriyyah Islamiyyah), mirip semangat Non Blok dan politik bebas aktif Indonesia. China yang lambat tapi pasti menggunakan potensi dalam negerinya untuk bangun. Malaysia era Mahathir Muhammad yang dijuluki Little Soekarno itu dengan tegas menolak IMF sejak hari pertama kehadirannya. Malaysia bertekad untuk menghadapi badai krisis dengan cara mereka sendiri. Terbukti, setelah 5 tahun, Malaysia mampu bangkit tanpa berhutang budi kepada IMF. Thailand, yang mengalami krisis paling awal, segera mengakhiri kontrak dengan IMF setelah berlangsung setahun. Thailand memilih mengangsur, dan setelah 4 tahun, ia bangkit tanpa direpoti supervisi IMF yang mendikte. Sedangkan Korea Selatan, mengakhiri kontrak dengan IMF setelah masa kontrak berlangsung 2 tahun! Hingga kini perekonomian negara-negara tersebut berdiri kokoh seperti tanpa krisis (Baswir,2006:68). Contoh-contoh nyata tersebut membuktikan, bahwa ternyata hegemoni AS dapat dilawan. Dan ketergantungan terhadap AS dapat dikurangi. Kalau kita mau. Maka, melengkapi jihad saudara-saudara kita, rupanya mendesak untuk segera dikonkretkan: jihad ekonomi-politik, jihad pendidikan, dan jihad budaya untuk membentengi diri dan keluarga dari pengaruh (pemikiran) AS. Jika AS berujar: kuasai (minyak) Timur Tengah untuk menguasai dunia, maka kita dapat berkata: tolak (neo-kapitalisme dan neo-liberalisme) AS untuk membuat dunia damai. Penulis masih ingat ujar-ujar kuno dan selalu dinyanyikan ketika akan berangkat tidur: “Amerika kita setrika, Inggris kita linggis”. Kini, kita tambahi: "Israel kita edel-edel..!!" Merdeka! Setujukah Anda?
Greeting From Bromo Base
Peace. May God bestow the blessings of salvation to all of us
Welcome to my blog. It's my world... Selamat datang di blog saya...
This blog is containing my personal views, opinions and life experiences. It’s about some thoughts on social order, culture, politics, government, education and self development. All of which is related. Anyone can read this blog. I would like to share with you...
Saya Wawan, tinggal di Probolinggo, sebuah kota di Jawa Timur, Indonesia. Berdekatan dengan Gunung Bromo dengan panorama yang khas dan eksotik serta masyarakat Tengger yang unik, Probolinggo merupakan daerah menarik. Dari sudut kecil inilah saya ingin berbagi informasi dan pengalaman dengan saudara. Tentang pengembangan diri, pendidikan, budaya, politik, pemerintahan, pemilu dan ihwal terkait yang berhubungan dengan kehidupan kita. Saya sangat senang jika ada feedback dari Saudara.
Blakrakan saya di Dewan Pendidikan, Forum Tapal Kuda, KPU, Yayasan Wahana, juga di lembaga kajian sosial di Jawa Timur, Miracle Ways dan corat-coret saya di blog ini mungkin dapat mengajari saya tentang kehidupan. Hal mana yang saya perkenalkan kepada anak-anak saya, para Nikkolai dan anak-anak orang lain (yang mau).
Jika Saudara suka, silakan tour di blog saya. Dan jika Saudara mau, silakan gunakan artikel blog ini asalkan cantumkan sumber link-nya ya... Juga ebook yang ada di bagian akhir postingan, boleh kok diunduh.
Best regards,
Wawan E. Kuswandoro















1 comment:
Mantap tulisannya, bil khusus slogan kerennya yg pas banget. Inilah saatnya kita benar2 merdeka. 1000% Setuju!
Post a Comment