Greeting From Bromo Base

Peace. May God bestow the blessings of salvation to all of us

Welcome to my blog. It's my world... Selamat datang di blog saya...

This blog is containing my personal views, opinions and life experiences. It’s about some thoughts on social order, culture, politics, government, education and self development. All of which is related. Anyone can read this blog. I would like to share with you...

Saya Wawan, tinggal di Probolinggo, sebuah kota di Jawa Timur, Indonesia. Berdekatan dengan Gunung Bromo dengan panorama yang khas dan eksotik serta masyarakat Tengger yang unik, Probolinggo merupakan daerah menarik. Dari sudut kecil inilah saya ingin berbagi informasi dan pengalaman dengan saudara. Tentang pengembangan diri, pendidikan, budaya, politik, pemerintahan, pemilu dan ihwal terkait yang berhubungan dengan kehidupan kita. Saya sangat senang jika ada feedback dari Saudara.

Blakrakan saya di Dewan Pendidikan, Forum Tapal Kuda, KPU, Yayasan Wahana, juga di lembaga kajian sosial di Jawa Timur, Miracle Ways dan corat-coret saya di blog ini mungkin dapat mengajari saya tentang kehidupan. Hal mana yang saya perkenalkan kepada anak-anak saya, para Nikkolai dan anak-anak orang lain (yang mau).

Jika Saudara suka, silakan tour di blog saya. Dan jika Saudara mau, silakan gunakan artikel blog ini asalkan cantumkan sumber link-nya ya... Juga ebook yang ada di bagian akhir postingan, boleh kok diunduh.

Best regards,
Wawan E. Kuswandoro

Ingin berlangganan artikel blog ini? Masukkan alamat email Anda:

Delivered by FeedBurner

Sekolah-Menulis Online

Tuesday, February 17, 2009

Bromo Tengger Semeru - 8 (Habis)

Ritual Lain

Selain upacara Kasada, umat Hindu Tengger juga menyelenggarakan upacara ritual lainnya. Sebagian ritual lain tersebut dilaksanakan bertepatan dengan penyelenggaraan upacara Kasada. Upacara tersebut adalah:

1. Upacara Karo. Karo, artinya kedua. Upacara Karo atau Hari Raya Karo ini merupakan hari raya terbesar masyarakat Tengger, diperingati pada bulan kedua tahun Çaka. Masyarakat menyambutnya dengan penuh suka cita, mereka mengenakan pakaian baru kadang membeli pakaian baru hingga 2-5 pasang, perabot rumah tangga juga baru. Makanan dan minumanpun melimpah. Tujuan penyelenggaraan upacara karo adalah: mengadakan pemujaan terhadap Sang Hyang Widdhi Wasa dan menghormati leluhurnya. Memperingati asal usul manusia. Untuk kembali pada kesucian, dan memusnahkan angkara murka.

2. Upacara Kapat. Kapat, artinya keempat. Upacara Kapat jatuh pada bulan keempat (papat) menurut tahun Çaka disebut pujan kapat, bertujuan untuk memohon berkah keselamatan serta selamat kiblat, yaitu pemujaan terhadap arah mata angin.

3. Upacara Kawolu. Kawolu artinya ke delapan. Upacara ini jatuh pada bulan kedelapan (wolu) tahun Çaka. Pujan Kawolu sebagai penutupan megeng. Masyarakat mengirimkan sesaji kepada kepala desa, dengan tujuan untuk keselamatan bumi, air, api, angin, matahari, bulan dan bintang.

4. Upacara Kasanga. Upacara ini jatuh pada bulan sembilan (sanga) tahun Çaka. Masyarakat berkeliling desa dengan membunyikan kentongan dan membawa oncor (obor). Upacara diawali oleh para wanita yang mengantarkan sesaji ke rumah kepala desa, untuk dimantrai oleh pendeta. Selanjutnya dukun dan para sesepuh desa membentuk barisan, berjalan mengelilingi desa. Tujuan upacara ini adalah memohon kepada Sang Hyang Widi Wasa untuk keselamatan Masyarakat Tengger.

5. Upacara Unan-Unan. Upacara ini diadakan setiap lima tahun sekali. Tujuan dari unan-unan adalah untuk mengadakan penghormatan terhadap roh leluhur. Dalam upacara ini selalu diadakan penyembelihan binatang ternak yaitu kerbau. Kepala kerbau dan kulitnya diletakkan diatas ancak (nampan terbuat dari bambu) besar, diarak ke sanggar pamujan (sanggar pemujaan).

6. Upacara Entas-entas. Upacara ini dilakukan setiap 1000 hari sekali. Dilaksanakan untuk mengantar roh leluhur supaya bisa masuk nirwana (sorga). Upacara entas-entas ini mirip ngaben di Bali, namun pada entas-entas yang dibakar adalah boneka dari si mati (orang yang meninggal dibuatkan tiruan berupa boneka terbuat dari dedaunan). Entas-entas boleh dilakukan setelah 44 hari dari hari kematian seseorang.

Labuhan dan Nglungsur Ternak


Masyarakat adat Tengger disadari merupakan khasanah keunikan dalam kebudayaan yang menarik untuk dikaji. Realitas masyarakatnya yang mampu menjaga tatanan sosial secara kondusif, tatkala daerah sekitarnya mengalami fragmentasi yang berakibat munculnya fenomena konfliktual, masyarakat adat Tengger justru sanggup mempertahankan harmonisasi sosial dalam struktur masyarakatnya. Hampir dapat dikatakan bahwa masyarakat Adat Tengger dapat steril dari konflik di dalamnya. Realitas ini membuktikan betapa proses integrasi sosial serta relasi sosial yang berkembang dalam masyarakat Adat Tengger menunjukkan situasi yang kondusif. Namun, menariknya, pada saat yang sama, tatkala secara umum orang Tengger mampu mempertahankan identitas ketenggerannya, terjadi beberapa perubahan sosial pada budaya orang Tengger.

Perubahan sosial yang berkembang dalam masyarakat Tengger –sebagaimana hasil riset Robert W. Hefner (1999) ternyata tidak serta merta mengubah paradigma kehidupan masyarakat adat Tengger. Internalisasi nilai-nilai kearifan lokal merupakan modal sosial (capital social) bagi masyarakat adat Tengger untuk membangun sivilitas yang kondusif. Masyarakat yang demikian adalah representasi bagi penguatan munculnya masyarakat sipil yang berperadaban dan demokratis. Pendekatan etnografi untuk melakukan pendeskripsian berbagai kebudayaan yang berkembang dalam masyarakat Adat Tengger yang berdimensikan nilai kearifan hidup. Kearifan hidup itu menjadi local genius yang turut mengkonstruksi tatanan sosial dalam masyarakat adat Tengger.
Dalam tulisan ini, disebutkan bahwa upacara “standard” Kasada berawal dengan pembersihan Pura Luhur Poten Bromo, odalan, mendhak tirta, dan berakhir dengan labuhan sesaji ongkek (kurban suci) ke dalam kawah gunung Bromo. Namun dalam pelaksanaan kini, banyak terjadi perubahan. Yang paling menonjol adalah pelaksanaan nadar umat Hindu Tengger yang dilaksanakan bersamaan dengan upacara Kasada. Nadar ini bermacam-macam sesuai dengan kebutuhan atau hajatnya (kajaté). Supaya terkabul hajatnya (kabul kajaté), orang Hindu Tengger melaksanakan nadar kurban. Bermacam-macam keperluan atau hajat dan nadar (janji)-nya. Biasanya seputar urusan rejeki seperti pertanian, supaya panen melimpah, dan pangkat (bagi yang memiliki jabatan). Pelaksanaan (pemenuhan) nadar ini melibatkan banyak warga Hindu Tengger (secara komunal) dan melibatkan peran dukun untuk mengesahkan. Kurban yang dinadarkan (diperjanjikan untuk dikurbankan) bermacam-macam pula berikut “modus operandi”-nya. Bisa berupa ternak, umumnya ayam dan kambing (jantan atau betina tidak diperhatikan, tergantung nadarnya). Ternak ini (ayam atau kambing, tergantung nadarnya), biasanya dilabuhkan (dilemparkan) ke dalam kawah Gunung Bromo (juga tergantung nadarnya). Praktis, labuhan sesaji pada Kasada, tidak hanya ongkek, namun mengalami perubahan dengan berbagai inovasi warga Tengger. Menariknya, inovasi ini juga banyak melibatkan warga non Hindu di luar masyarakat Tengger.

Perubahan yang paling fenomenal yang terjadi pada pelaksanaan upacara Kasada adalah ditambahinya praktik-praktik sesaji yang menggunakan binatang ternak, hal yang sebelumnya tidak dikenal dalam standard upacara Kasada (ongkek isinya hanya tumbuh-tumbuhan). Binatang ternak di sini umumnya adalah ayam dan kambing. Ayam dan kambing tersebut dapat berjenis jantan atau pun betina, tergantung dari niatan (janji) orang yang akan melakukan nadar untuk bersesaji. Jika ingin menunaikan suatu keperluan, pada umumnya masyarakat Tengger akan bernadar, “suk Kasada, reang / ingsun arep nglungsuraken wedus, menyang ... (disebutkan tempat yang dianggap suci sebagai tempat melabuh ternak sesajiannya tersebut). Artinya, pada upacara Kasada besok (tahun depan), saya (bernadar) akan melakukan kurban berupa kambing, yang akan dilabuhkan di ... (sambil mengatakan suatu tempat yang dianggap suci sebagai tempat melabuh sesaji ternak kambing tersebut). Masyarakat Tengger yang bernadar ini jumlahnya cukup banyak sehingga tempat-tempat yang dianggap suci oleh umat Hindu Tengger ini (di sekitar gunung Bromo) penuh oleh umat yang melakukan “sesajian tambahan” ini. Bahkan, masyarakat dari luar Tengger (non Hindu) juga meramaikan kurban ternak ini. Menurut sesepuh Tengger, di antara orang-orang tersebut banyak yang berbicara dalam logat Madura : “...sayya suddah lamma pak ikut ini...”. Seorang tetangga penulis (Muslim) mengaku bahwa dia rajin setiap Kasada selalu berkurban kambing di Tengger, dengan alasan untuk penglaris dagangannya.

Praktik melakukan korban kambing dan ayam ini, dilakukan (dilabuh) pada tempat-tempat yang dianggap suci oleh orang Tengger, yaitu:
1. Kawah gunung Bromo (tempat suci yang paling utama).
2. Bajangan.
3. Watu Dukun atau Watu Wungkuk.
4. Watu Balang.
5. Poten (Pura), yakni Pura Luhur Poten Bromo.
6. Widodaren.

Masing-masing tempat suci tersebut dipandu oleh dua orang dukun, untuk melayani umat yang akan melakukan korban sesaji ternak tersebut. Orang yang akan melakukan korban sesaji ternak (kambing atau ayam) boleh memilih satu atau lebih lokasi labuhan sesaji. Tempat suci yang paling utama adalah kawah gunung Bromo. Sehingga umat akan memilih kawah gunung Bromo untuk melabuh ternaknya. Namun, mereka boleh memilih tempat suci mana saja, tergantung niat (nadar)-nya. Mereka yang akan melabuh ternaknya ke dalam kawah gunung Bromo, biasanya melakukannya bersamaan dengan labuhan sesaji ongkek. Sehingga, Kasada ini mengalami inovasi dalam hal ragam sesajian. Atau dapat pula dilakukan pada saat yang lain, namun tetap bersamaan waktunya dengan pelaksanaan Kasada. Karena boleh memilih tempat suci yang lain sebagai tempat melabuh ternaknya, umat akan menentukan suatu tempat suci tertentu selain kawah gunung Bromo. Untuk tempat suci selain kawah gunung Bromo, orang yang akan melakukan labuhan ternak ini biasanya telah memiliki pilihan tempat suci berikut orang-orang yang akan menerima labuhan ternaknya (nglungsur). Pada waktu yang telah ditentukan, dengan disaksikan dan disahkan oleh dukun yang memandu tempat suci tersebut, orang-orang yang bernadar (yang akan melakukan labuh sesaji) melepaskan ternak tersebut. Dan orang-orang lain akan berebut untuk nglungsur (menangkap) ternak tersebut untuk dibawa pulang. Praktik seperti ini pada waktu sekarang ini mengalami perubahan (inovasi) lagi, yaitu, orang-orang yang akan nglungsur ternak dari si empunya hajat tersebut, telah dipersiapkan oleh si empunya hajat. Biasanya tetangga atau kerabat dekat si empunya hajat.

Terdapat trend linier perubahan budaya pada praktik bersesaji yang melingkupi Kasada ini, yakni : melabuh ongkek (tumbuh-tumbuhan) ke kawah gunung Bromo, melabuh ternak (ayam atau kambing) ke kawah gunung Bromo, melabuh ternak dengan nglungsur di luar kawah gunung Bromo: dilepas untuk di-lungsur orang lain yang berada di areal tempat suci, kemudian terdapat inovasi lagi, yakni di-lungsur oleh orang-orang yang telah dipersiapkan sebelumnya (biasanya tetangga atau kerabat dekat). Pelaku, juga mengalami perubahan: dari orang-orang Hindu Tengger, menjadi orang-orang Hindu Tengger dan orang-orang non Tengger, juga non Hindu. Perubahan ini terjadi sejak masa kecil sang dukun (informan) yang kini telah berusia 49 tahun.

Selesai.

Khazanah Budaya Lain:

1. Wayang Purwa Dalam Budaya Jawa
2. Grebek Besar Lamongan
3. Adat Perempuan Lamar Laki

Referensi Budaya: Penelitian Budaya di Jawa Timur

No comments:

Sign up for PayPal and start accepting credit card payments instantly.

Twitter