Asal-usul Tengger: Legenda Rara Anteng - Jaka Seger
Menurut beberapa orang sepuh di Tengger, istilah Tengger semula adalah tenger, yang bermakna sebagai tetenger atau tanda, atau berdiri tegak. Yaitu bermakna tenggering budi ingkang luhur (artinya: tanda keluhuran budi pekerti, sebuah tanda budi pekerti yang berdiri tegak. Atau dapat diartikan “tanda tegaknya budi pekerti luhur), dan simbol perdamaian abadi.
Entah mulai kapan, istilah tersebut kemudian populer menjadi Tengger. Orang-orang Tengger pun kemudian menjadi nyaman dengan istilah tersebut. Namun, di balik istilah tersebut, Tengger ternyata menyimpan sejumlah makna magis mistik di dalamnya. Banyak orang Tengger percaya bahwa istilah Tengger terkait erat dengan legenda maupun cerita-cerita lisan rakyat Tengger yang sudah melembaga dan hidup bertahun-tahun lamanya. Istilah Tengger dianggap bersifat magis mistik, karena merupakan penggabungan dari legenda populer masyarakat yaitu legenda Roro Anteng dan Joko Seger. Dua manusia yang dipertemukan sebagai suami istri, dan berasal dari dua status sosial yang berbeda pula. Yang satu (Rara Anteng) merupakan putri raja Majapahit (Prabu Brawijaya) dan yang satunya (Jaka Seger) adalah putera seorang Brahmana (Begawan Pananjakan). Berbagai versi perihal legenda tersebut telah disampaikan oleh banyak peneliti, termasuk juga dalam makalah ini. Legenda tersebut, sebagaimana disampaikan oleh sesepuh desa (dukun) adalah sebagai berikut:
Rara Anteng dan Jaka Seger, yang konon, nama “Tengger” diambil dari padanya, menurut legenda, Jaka Seger dan Rara Anteng (pasangan suami istri) telah lama tidak mendapatkan keturunan. Setelah bersemadi, ia mendapatkan suara gaib. Mereka akan diberi 25 anak, dengan syarat ia harus rela menyerahkan anak bungsunya untuk diambil kembali pada Bulan Kasada, Purnama ke-14, bang wetan (fajar timur). Namun, setelah Kusuma, anak bungsunya, berusia 10 tahun, Jaka Seger dan Rara Anteng yang teringat akan janjinya dulu, tidak menyerahkan Kusuma sebagai korban, malah mengungsikan ke-25 anaknya ke Gunung Penanjakan. Ia takut kehilangan salah satu putranya.
Meskipun demikian, Sang Hyang Kuasa tetap mengambil Kusuma, tepat di Bulan Kasada, sebagaimana yang pernah dijanjikan. Akhirnya, Kusuma pun melalui suara gaibnya berpesan kepada seluruh saudaranya di sekitar Poten untuk merelakannya kepergiannya. Kusuma juga berpesan agar mereka hidup rukun. Untuk mengingat dirinya, Kusuma hanya meminta warga Tengger agar menyisihkan sebagian hasil buminya kepadanya. Inilah awal mula upacara Yadnya Kasada, yang selalu dirayakan oleh masyarakat Tengger secara turun temurun. Yadnya Kasada diartikan sebagai ”hari kurban yang sakral”. Bagi warga Tengger, Yadnya Kasada mempunyai makna khusus dalam hidup mereka. Terbukti, ketika malam Kasada mencapai puncaknya, ribuan warga suku Tengger dengan perlahan berbondong-bondong menapaki Gunung Bromo. Mereka membawa berbagai hasil bumi yang mereka tanam di ladang masing-masing, untuk kemudian dipersembahkan kepada sang lelulur, yakni Kusuma, di Kawah Gunung Bromo. Jauh dan terjalnya medan pegunungan tak menyurutkan mereka untuk mencapai puncak kawah dan melemparkan hasil bumi dan ternak. Pria, wanita, tua, muda, maupun bocah, tidak mau ketinggalan mendaki Gunung Bromo. Dengan diterangi sejumlah oncor (obor), mereka mendaki kaki Gunung Bromo yang berpasir itu secara perlahan. Gamelan kepyek, yang bergemerincing maupun tabuhan ketipung yang mengiringi prosesi ini, semakin menambah kehikmatan dan kesakralan Upacara Yadnya Kasada. Di atas puncak gunung itu, keturunan Rara Anteng dan Joko Seger ini mengucap syukur kepada Sang Hyang Widhi Wasa atas karunia yang mereka terima selama satu tahun.
Tentang Yadnya Kasada, diuraikan pada bagian tersendiri.
Keberadaan Rara Anteng dan Jaka Seger ini, semula diyakini sebagai sosok yang merupakan cikal bakal masyarakat Tengger. Legenda ini kemudian, menurut sesepuh Tengger, dilogikakan untuk keperluan penghayatan ajaran agama (Hindu). Legenda Rara Anteng dan Jaka Seger kemudian ditafsirkan sebagai personifikasi dari ajaran kehidupan tentang tujuan hidup. Menurut nilai kerarifan budaya lokal Tengger, dikatakan bahwa apapun keyakinan umat manusia, pasti menuju kepada tujuan hidup yang anteng (tenang) dan seger (makmur). Ketenangan dan kemakmuran inilah sebenarnya sajatining urip (kehidupan sejati), yang didambakan umat manusia. Sintesis anteng dan seger yang dicita-citakan orang Tengger ini diekspresikan dengan pemujaan-pemujaan kepada Sang Hyang Widdhi Wasa dan kepada leluhur, yaitu Kusuma, atau Raden Kusuma, atau Sang Dewa Kusuma, anak bungsu (personifikasi) Rara Anteng dan Jaka Seger, dengan menggunakan pusat pemujaan yaitu Gunung Bromo.
Bersambung...
Bromo Tengger Semeru 5: Gunung Bromo dan Dukun Bagi Masyarakat Tengger
Greeting From Bromo Base
Peace. May God bestow the blessings of salvation to all of us
Welcome to my blog. It's my world... Selamat datang di blog saya...
This blog is containing my personal views, opinions and life experiences. It’s about some thoughts on social order, culture, politics, government, education and self development. All of which is related. Anyone can read this blog. I would like to share with you...
Saya Wawan, tinggal di Probolinggo, sebuah kota di Jawa Timur, Indonesia. Berdekatan dengan Gunung Bromo dengan panorama yang khas dan eksotik serta masyarakat Tengger yang unik, Probolinggo merupakan daerah menarik. Dari sudut kecil inilah saya ingin berbagi informasi dan pengalaman dengan saudara. Tentang pengembangan diri, pendidikan, budaya, politik, pemerintahan, pemilu dan ihwal terkait yang berhubungan dengan kehidupan kita. Saya sangat senang jika ada feedback dari Saudara.
Blakrakan saya di Dewan Pendidikan, Forum Tapal Kuda, KPU, Yayasan Wahana, juga di lembaga kajian sosial di Jawa Timur, Miracle Ways dan corat-coret saya di blog ini mungkin dapat mengajari saya tentang kehidupan. Hal mana yang saya perkenalkan kepada anak-anak saya, para Nikkolai dan anak-anak orang lain (yang mau).
Jika Saudara suka, silakan tour di blog saya. Dan jika Saudara mau, silakan gunakan artikel blog ini asalkan cantumkan sumber link-nya ya... Juga ebook yang ada di bagian akhir postingan, boleh kok diunduh.
Best regards,
Wawan E. Kuswandoro















No comments:
Post a Comment