Tulisan ini saya turunkan dari catatan perjalanan saya selama berada dan bersama masyarakat suku Tengger di puncak Gunung Bromo dan ngobrol-ngobrol saya dengan wakil kepala dukun suku Tengger dan dengan salah seorang kerabat. Saya tidak mengalami kesulitan melakukan ‘wawancara’ dengan wakil kepala dukun tersebut sampai pada hal-hal detil yang bagi orang luar masih dianggap tabu, karena terdapat kemudahan dari seorang kerabat yang membantu mendekatkan dengan sang dukun. Saya juga dibantu oleh salah seorang kerabat yang tinggal di tengah-tengah masyarakat suku Tengger. Sehingga saya pun memenuhi rapport sebagaimana dimaksudkan oleh Koentjaraningrat. Saya diterima dengan baik di ruang perapian. Kini, saya ingin berbagi informasi ini dengan pengunjung blog saya.
Makalah ini mendeskripsikan budaya masyarakat suku Tengger berikut perubahannya, yakni pada upacara perubahan budaya pada masyarakat suku Tengger ini, yaitu: pertama, perubahan nilai kesakralan pada upacara tersebut. Kedua, perubahan-perubahan content budaya pada upacara Yadnya Kasada, berupa improvisasi dari individu-individu warga masyarakat suku Tengger sendiri, yang beragama Hindu, maupun dari individu-individu lain di luar masyarakat suku Tengger (sebagian dari masyarakat Muslim), yang terjadi secara kolektif, dan “disahkan” oleh dukun. Kedua perubahan tersebut akibat adanya culture contact dengan unsur budaya (masyarakat) lain. Uniknya, walaupun terdapat banyak perubahan di sana-sini, secara utuh, identitas budaya masyarakat suku Tengger, yang meliputi pola hidup, pandangan hidup, masih tetap dianut dan dipertahankan. Perubahan budaya terjadi pada wilayah di sekitar seremonial upacara adat, dengan beberapa improvisasi individu-individu yang terakumulasi. Pada perubahan kategori pertama di atas, lebih banyak disebabkan oleh banyaknya wisatawan baik domestik maupun manca negara, yang mendatangi kawasan Tengger ini. Memang tidak sampai membawa perubahan gaya hidup masyarakat suku Tengger walaupun para wisatawan ini datang dengan membawa gaya hidup mereka. Namun, ulah para wisatawan ini menyebabkan kebisingan dan keramaian tersendiri sehingga mengurangi kesakralan upacara Yadnya Kasada. Misalnya, kebisingan musik Barat dan musik dangdut di sekitar areal ritual upacara Yadnya Kasada. Sehingga suasana magis di areal upacara hampir tidak terasa, justru malah terasa seperti pasar malam. Pada perubahan katagori kedua di atas, karena improvisasi warga suku Tengger dengan beberapa penambahan pada ritual sesaji yang berbarengan dengan upacara Yadnya Kasada. Perubahan kategori ini tidak hanya berasal dari warga suku Tengger saja (Hindu), namun juga dari warga masyarakat luar Tengger (non Hindu) yang ikut bersesaji dengan alasan berbagai macam keperluan hidup .
Merujuk buku panduan penelitian budaya berjudul Outline of Cultural Material, yang ditulis oleh George P. Murdock dkk, dalam Behavioral Science Outline Volume 1, terbitan Human Relations Area Files Inc., USA , tulisan ini berupaya mendeskripsikan kehidupan masyarakat Tengger di Bromo Semeru beserta Yadnya Kasada-nya. Dimulai dengan kehidupan Masyarakat Tengger, yang mendeskripsikan letak geografis, kondisi alam, sosial dan budaya masyarakat Tengger berikut asal usulnya, bahasa, kebiasaan dan keunikan kehidupannya, serta segala ihwal yang berhubungan dengan keberadaan (distributional evidence), dan recorded history masyarakat Tengger. Kemudian Yadnya Kasada dan Ritual Lain, mendeskripsikan traditional history dan historical reconstruction yang berhubungan dengan upacara Yadnya Kasada, mulai dari asal usul upacara, keyakinan masyarakat setempat dan legenda yang melingkupinya, prosesi ritual upacara beserta ubarampe yang diperlukan, hingga pelantikan dukun dan beberapa penjelasan tentang ritual-ritual lain yang melekat dengan masyarakat suku Tengger. Ditutup dengan beberapa variasi “inovasi” dalam menjalankan ritual, berisi tentang deskripsi innovation, acculturation and cultural contact dan socio-cultural trend . Bagian ini secara lebih detil menjelaskan beberapa perubahan yang terjadi di seputar ritual masyarakat Tengger.
Penulis sangat tertarik untuk menulis budaya masyarakat suku Tengger berikut perubahannya ini, tidak hanya karena penulis adalah warga Probolinggo (sebelumnya adalah, warga Lumajang) yang berada di sekitar lereng dan kaki gunung Bromo – Semeru, dan juga karena ketertarikan pada keunikan budaya lokal. Namun, lebih dari itu, nilai-nilai budaya dan kearifan lokal pada masyarakat suku Tengger menyimpan banyak sekali potensi yang patut ditelusuri, terutama akan bermanfaat bagi studi antropologi budaya dan antropologi politik.
Bersambung...
Bromo Tengger Semeru -2: Kondisi Sosial Masyarakat Suku Tengger
Daftar Rujukan
Buku
Anderson, Benedict, 2001, Imagined Communities, Komunitas-Komunitas Terbayang, Yogyakarta, Insist.
Astutik, Juli, “Makna Ritual Upacara Kasada dalam Perspektif Antropologi” dalam Nurudin, dkk, 2003, Agama Tradisional, Potret Kearifan Masyarakat Samin dan Tengger, Yogyakarta, LKiS.
Dwipayana, AAGN Ari,dkk., 2001, Merajut Modal Sosial untuk Perdamaian dan Integrasi Sosial, Fisipol UGM, Yogyakarta.
Fukuyama, Francis, 1995, Trust: The Social Virtue and The Creation of Prosperity, New York, Free Press.
Geertz, Cliffort, terj., Fransisco Budi Hardiman, 1992, Tafsir Kebudayaan, Penerbit Kanisius, Yogyakarta.
Hayat, Muhammad, “Bertahannya Tradisi Tengger dalam Masyarakat yang Sedang Berubah, dalam Nurudin, dkk, 2003, Agama Tradisional, Potret Kearifan Masyarakat Samin dan Tengger, Yogyakarta, LKiS.
Ihromi, T.O., (ed.), 1999, Pokok-pokok Antropologi Budaya, Yayasan Obor Indonesia, Jakarta.
Kaplan, David, and Robert A. Manners, 1968, Theory in Anthropology, A Sourcebook, Brandeis University, Chicago.
Koentjaraningrat, 1989, Pengantar Ilmu Antropologi, Jakarta, Aksara Baru.
Koentjaraningrat, 1997, Metode-metode Penelitian Masyarakat, PT. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta.
Manners, Robert A., Theory of Anthropology, A Sourcebook, Aldine Publishing Company, Chicago, 1968.
Miles, Matthew B. And A. Michael Huberman, 1992, Analisis Data Kualitatif, terjemahan Tjejep Rohendi Rohadi, Jakarta, UI Press.
Mulyana, Dr. Deddy, M.A. (Ed.), 2003, Komunikasi Antar Budaya, Panduan Berkomunikasi dengan Orang-orang Berbeda Budaya, Penerbit Remaja Rosdakarya, Bandung.
Murdock, George P., (et.al), Outline of Cultural Material, Behavioral Science Outline Volume 1, Human Relations Area Files, USA.
Nasikun, 1984, Sebuah Pendekatan untuk Memahami Sistem Sosial Indonesia, Yogyakarta, Universitas Gadjah Mada.
---------, 1994, Sistem Sosial Indonesia, Jakarta, CV. Rajawali.
Salviana, Vina, “Modal Sosial Masyarakat Adat Tengger Dalam Menjaga Tatanan Sosial’ dalam Nurudin, dkk, 2003, Agama Tradisional, Potret Kearifan Masyarakat Samin dan Tengger, Yogyakarta, LKiS.
Simanhadi, Widyaprakoso, 1994, Masyarakat Tengger: Latar Belakang Daerah Taman Nasional Bromo, Yogyakarta, Kanisius.
Soemanto, Bambang, 2002. “Budaya Paternalis Masyarakat Adat Tengger” Tesis Master, Universitas Muhammadiyah Malang.
Spradley, James P., 1997, Metode Etnografi, Tiara Wacana, Yogyakarta.
Steward, Julian H., Theory of Culture Change, The Methodology of Multilinear Evolution, University of Illinois, Urbana Chicago, London, 1976.
Su’adah, “Kekuatan Magis Aktivitas Ritual Masyarakat Tengger” dalam Nurudin, dkk, 2003, Agama Tradisional, Potret Kearifan Masyarakat Samin dan Tengger, Yogyakarta, LkiS.
Sudikan, Setya Yuwana, 2001, Metode Penelitian Kebudayaan, Surabaya Citra Wacana.
Sulistiyowati, Tutik, “Proses Institutionalization Nilai-Nilai Sosial Budaya Masyarakat Tengger” dalam Nurudin, dkk, 2003, Agama Tradisional, Potret Kearifan Masyarakat Samin dan Tengger, Yogyakarta, LKiS.
Suyitno dan Achmad Sapari, 1999, Mengenal Masyarakat Tengger, Surabaya, Media Alas Dayu.
Zaltman, Gerald, Process and Phenomena of Change, John Wiley & Sons, Inc., 1972.
Hasil Wawancara
Wawancara penulis dengan key informant:
1. Soetomo (Wakil Kepala Dukun, anak dari dukun lama, Soedjai).
2. Rudy (menantu Bapak Soedjai, dukun lama).
3. AS Gozi, pemandu wisata Bromo-Tengger-Semeru, yang sehari-hari bergaul dengan orang Tengger, sebagai pembanding informasi.
Bersambung...
Greeting From Bromo Base
Peace. May God bestow the blessings of salvation to all of us
Welcome to my blog. It's my world... Selamat datang di blog saya...
This blog is containing my personal views, opinions and life experiences. It’s about some thoughts on social order, culture, politics, government, education and self development. All of which is related. Anyone can read this blog. I would like to share with you...
Saya Wawan, tinggal di Probolinggo, sebuah kota di Jawa Timur, Indonesia. Berdekatan dengan Gunung Bromo dengan panorama yang khas dan eksotik serta masyarakat Tengger yang unik, Probolinggo merupakan daerah menarik. Dari sudut kecil inilah saya ingin berbagi informasi dan pengalaman dengan saudara. Tentang pengembangan diri, pendidikan, budaya, politik, pemerintahan, pemilu dan ihwal terkait yang berhubungan dengan kehidupan kita. Saya sangat senang jika ada feedback dari Saudara.
Blakrakan saya di Dewan Pendidikan, Forum Tapal Kuda, KPU, Yayasan Wahana, juga di lembaga kajian sosial di Jawa Timur, Miracle Ways dan corat-coret saya di blog ini mungkin dapat mengajari saya tentang kehidupan. Hal mana yang saya perkenalkan kepada anak-anak saya, para Nikkolai dan anak-anak orang lain (yang mau).
Jika Saudara suka, silakan tour di blog saya. Dan jika Saudara mau, silakan gunakan artikel blog ini asalkan cantumkan sumber link-nya ya... Juga ebook yang ada di bagian akhir postingan, boleh kok diunduh.
Best regards,
Wawan E. Kuswandoro















No comments:
Post a Comment