Yadnya Kasada dan Ritual Lain
Yadnya Kasada
Telah dijelaskan pada bagian 1 bahwa kehidupan budaya masyarakat suku Tengger tidak dapat terlepas dari Bromo (Brahma) dan Yadnya Kasada. Pembahasan tentang masyarakat Tengger selalu terkait dengan Yadnya Kasada, dukun dan Bromo sebagai posisi sentral dari tradisi budaya masyarakat Tengger.
Yadnya Kasada, atau sering disebut juga dengan “Kasada”, “Kasodo”, atau “Kesodo” , diperingati setiap tahun oleh masyarakat Tengger, pada malam bulan purnama pada tanggal 14 sampai 15 bulan Kasada (bulan ke dua belas berdasarkan hitungan kalender Jawa Kuna/ Tengger). Dalam kelender Masehi, Kasada ini bertepatan dengan bulan antara September s.d. Januari . Yadnya Kasada dirayakan untuk mengekspresikan rasa syukur masyarakat Tengger atas karunia Sang Hyang Widhi Wasa, permohonan berkah dalam kehidupan, dan penghormatan terhadap leluhur, yakni Sang Hyang Dewa Kusuma.
Secara etimologis, yadnya berarti “kurban suci”, dan kasada berarti “bulan ke dua belas”. Jadi, Yadnya Kasada, berarti kurban suci yang dilaksanakan pada bulan ke dua belas (menurut hitungan tahun Çaka, kalender Jawa Kuna).
Tempat Berlangsungnya Upacara Yadnya Kasada
Tidak seperti pemeluk agama Hindu pada umumnya yang melakukan peribadatan di candi-candi, masyarakat suku Tengger melakukan peribadatan di poten, punden dan danyang. Poten merupakan sebidang lahan dan bangunan mirip pura, yang terletak di tengah lautan pasir, sebagai tempat berlangsungnya upacara Kasada. Di Tengger, disebut Pura Luhur Poten Bromo (Gambar 13). Sebagai tempat pemujaan bagi masyarakat Tengger yang beragama Hindu, poten tersebut terdiri dari beberapa bangunan yang tertata dalam suatu susunan komposisi di pekarangan yang dibagi menjadi 3 mandala (zone), yaitu :
1. Mandala Utama. Disebut juga jeroan yaitu tempat pelaksanaan pemujaan persembahyangan yang terdiri dari:
o Padma, berfungsi sebagai bentuknya serupa candi yang dikembangkan lengkap dengan pepalihan. Fungsi utamanya sebagai tempat pemujaan kepada sang Hyang Widdhi. Padma tidak memakai atap, yang terdiri dari bagian kaki yang disebut tepas, badan (batur) dan kepala yang disebut sari, dilengkapi dengan Bedawang Nala, Garuda dan Angsa.
o Bedawang Nala melukiskan kura-kura raksasa mendukung padmasana, dibelit oleh seekor atau dua ekor naga, garuda dan angsa berposisi terbang berada di belakang badan padma. Menurut mitologi melukiskan keagungan bentuk dan fungsi padmasana.
o Bangunan Sekepat (tiang empat) atau yang lebih besar letaknya di bagian sisi sehadapan dengan bangunan pemujaan (padmasana), menghadap ke timur atau sesuai dengan orientasi bangunan pemujaan dan terbuka keempat sisinya. Fungsinya untuk penyajian sarana upacara atau aktivitas serangkaian upacara Bale Pawedan serta tempat dukun sewaktu melakukan pemujaan.
o Kori Agung Candi Bentar, berbentuk mirip tugu, kepalanya memakai gelung mahkota segi empat atau segi banyak bertingkat-tingkat mengecil ke atas dengan bangunan bujur sangkar segi empat atau sisi banyak dengan sisi-sisi, yang disebut depa alit, depa madya atau depa agung. Tinggi bangunan dapat berkisar dari sebesar atau setinggi tugu sampai sekitar 100 meter memungkinkan pula dibuat lebih tinggi dengan memperhatikan keindahan proporsi Candi Bentar. Pintu masuk pekarangan pura dari jaba pura menuju mandala sisi/ nista atau jaba tengah/ mandala utama berupa candi gelung atau kori agung dengan berbagai variasi hiasan.
2. Mandala Madya (zone tengah). Disebut juga jaba tengah, tempat persiapan dan pengiring upacara terdiri dari:
o Kori Agung Candi Bentar, bentuknya serupa dengan tugu, kepalanya memakai gelung mahkota segi empat atau segi banyak bertingkat-tingkat mengecil ke atas dengan bangunan bujur sangkar, segi empat atau segi banyak dengan sisi-sisi sekitar satu depa alit, depa madya, dan depa agung.
o Bale Kentongan, juga disebut bale kul-kul, terletak di sudut depan pekarangan pura, berbentuk susunan tepas, batur, sari dan atap penutup ruangan kul-kul (kentongan). Berfungsinya sebagai tempat kul-kul yang dibunyikan awal, akhir dan saat tertentu dari rangkaian upacara.
o Bale Bengong, disebut juga pewarengan suci, terletak di antara jaba tengah/ mandala madya, mandala nista/ jaba sisi. Bentuk bangunannya empat persegi atau memanjang berderet tiang dua-dua atau sebanyak luas bangunan untuk dapur. Berfungsi untuk mempersiapkan keperluan sajian upacara di pura yang pada umumnya jauh dari desa tempat pemukiman.
3. Mandala Nista (Zone depan). Disebut juga jaba sisi, yaitu tempat peralihan dari luar ke dalam pura yang terdiri dari bangunan candi bentar/ bangunan penunjang lainnya. Pekarangan pura dibatasi oleh tembok penyengker (pembatas) antara pekarangan pintu masuk di depan atau di jaba tengah/ sisi, memakai candi bentar dan pintu masuk ke jeroan utama memakai Kori Agung.
Tembok penyengker candi bentar dan kori agung terdapat berbagai bentuk variasi dan kreasi, sesuai dengan keindahan arsitekturnya. Bangunan pura pada umumnya menghadap ke barat, memasuki pura menuju ke arah timur. Demikian pula pemujaan dan persembahyangan menghadap ke arah timur (arah matahari terbit).
Prosesi Upacara Yadnya Kasada
Masyarakat Tengger (penganut agama Hindu, atau Buddha Mahayana menurut Parisada Hindu Jawa Timur) mempersiapkan upacara Yadnya Kasada (selanjutnya disebut Kasada) pada 44 hari sebelum tanggal 14 bulan Kasada. Pada waktu itu dukun desa bersama masyarakat dan sesepuh desa telah bersiap-siap menyambut Kasada. Syarat utama upacara Kasada adalah disediakannya ongkek sebagai tandu sesaji. Tiap-tiap desa wajib menyediakan satu buah ongkek, dengan syarat desa tersebut dinilai resik (bersih), artinya, tidak ada warga desa yang meninggal dunia. Jika ada seorang warga suatu desa yang meninggal dunia, maka desa tersebut dianggap “tidak bersih”, sehingga tidak wajib menyediakan ongkek, walaupun warga desanya tetap mengikuti upacara Kasada. Desa yang tidak bersih tersebut tetap diperbolehkan menyediakan sesaji yang lain, asal bukan ongkek. Patut dicatat, bahwa pada waktu digelar upacara Kasada ini, terdapat bermacam-macam sesaji dari upacara-upacara lain yang pelaksanaannya berbarengan dengan upacara Kasada, sehingga jenis sesajinya juga bermacam-macam. Sesaji “standard” dan wajib dalam upacara Kasada adalah sesaji ongkek, yang berisi aneka tanaman hasil bumi Tengger (tetuwuhan) atau tumbuh-tumbuhan, yakni aneka palawija.
Pada malam ke-14 Bulan Kasada, masyarakat Tengger berbondong-bondong menaiki puncak Gunung Bromo, dengan membawa ongkek yang berisi sesaji dari berbagai hasil pertanian, ternak dan sebagainya, lalu dilemparkan ke kawah Gunung Bromo sebagai sesaji kepada Dewa Bromo (Brahma) yang dipercayainya bersemayam di Gunung Bromo. Upacara korban ini memohon agar masyarakat Tengger mendapatkan berkah dan diberi keselamatan oleh Yang Maha Kuasa.
Sebelum upacara Kasada dimulai, didahului dengan melakukan gotong royong membersihkan Pura Luhur Poten Bromo, serta diikuti acara odalan atau wedalan, dan acara mendhak tirta atau pengambilan air suci dari Goa Widodaren. Upacara Kasada diawali dengan pengukuhan sesepuh Tengger dan pementasan sendratari Rara Anteng - Jaka Seger di panggung terbuka desa Ngadisari. Kemudian tepat pada pukul 00.00 dini hari (tanggal 14 Kasada) diadakan pelantikan dukun dan pemberkatan umat di poten lautan pasir Gunung Bromo. Ketika upacara Kasada dilangsungkan, para warga Tengger yang bermukim di sekitar kawasan Gunung Bromo, yaitu yang berada di wilayah Pasuruan, Probolinggo, Lumajang dan Malang, bersembahyang di Pura Luhur Poten Bromo, mulai pukul 00.00 WIB, yang dipimpin oleh dukun desa masing-masing.
Rangkaian upacara Kasada meliputi: sembahyang bersama, membaca pujian, pembacaan sejarah Tengger dan Kasada, kemudian dilanjutkan dengan pengukuhan / pelantikan dukun baru, pemberkatan umat, dan di penghujung acara, diadakan pemujaan ucapan terimakasih, setelah seluruh rangkaian acara selesai terlaksana. Prosesi pembacaan doa (mantra) dipimpin oleh dukun desa, yang membacakan mantra untuk keselamatan desa dan keperluan warga desanya. Dalam hal ini kepala dukun tidak membaca doa atas nama umat (“berjama’ah”), namun selaku dukun desanya. Selesai berdoa (membaca mantra di Pura Luhur Poten Bromo), umat Hindu Tengger mulai mengusung tandu ongkek yang berisi sesaji untuk dilabuhkan ke kawah gunung Bromo. Mulailah iring-iringan manusia menuju puncak kawah gunung Bromo hingga acara labuhan (pelemparan) sesaji ke kawah gunung Bromo, yaitu sekitar pukul 03.30 WIB hingga pukul 05.00 WIB (tanggal 15 Kasada). Labuhan sesaji ongkek ini dilakukan oleh dukun terlebih dahulu, kemudian diikuti oleh warga.
Pada waktu akan menuju Pura Luhur Poten Bromo untuk bersembahyang dahulu sebelum membawa sesaji ongkek ke puncak kawah gunung Bromo, seluruh umat Hindu Tengger baik yang berasal dari kawasan Probolinggo, maupun dari kawasan Pasuruan, Lumajang dan Malang, bersama beriring-iringan sambil membawa sesaji yang dikumpulkan dahulu di Pura Luhur Poten Bromo. Iring-iringan umat tersebut melalui dua pintu gerbang masuk Gunung Bromo, yaitu gerbang dari arah Probolinggo dan gerbang dari arah Pasuruan. Sesaji pada upacara Kasada disamping dimaksudkan sebagai wujud rasa syukur masyarakat Tengger kepada tuhannya, juga merupakan pengharapan bagi masyarakat untuk memperoleh hasil panen yang melimpah dan upaya untuk menolak bala dan penyakit. Iring-iringan warga Hindu Tengger pada saat membawa sesaji ongkek berjalan cepat untuk ukuran orang luar non Tengger. Mereka menempuh jarak sekitar 10 km hingga ke puncak kawah gunung Bromo, memakan waktu sekitar 2 jam berjalan kaki. Pada prosesi ini orang luar (peminat atau wisatawan) diperkenankan melihat iring-iringan ongkek dari dekat. Orang luar tersebut bisa ikut berjalan kaki, bisa pula naik kendaraan (biasanya ojek sepeda motor) jika menginginkan. Kecuali, di dalam Pura Luhur Poten Bromo, orang luar tidak diperkenankan masuk. Di dalam pura tersebut, hanya warga Hindu Tengger dan kerabat dukun yang boleh masuk.
Keseluruhan prosesi ini terjadi pada tanggal 14 Kasada dini hari mulai pukul 00.00 WIB hingga tanggal 15 Kasada esok harinya, sekitar pukul 05.00 WIB. Setelah itu (tanggal 15 Kasada pagi hari tersebut), upacara dilanjutkan di desa masing-masing.
Bersambung...
Bromo Tengger Semeru 8 (Habis): Ritual Lain
Greeting From Bromo Base
Peace. May God bestow the blessings of salvation to all of us
Welcome to my blog. It's my world... Selamat datang di blog saya...
This blog is containing my personal views, opinions and life experiences. It’s about some thoughts on social order, culture, politics, government, education and self development. All of which is related. Anyone can read this blog. I would like to share with you...
Saya Wawan, tinggal di Probolinggo, sebuah kota di Jawa Timur, Indonesia. Berdekatan dengan Gunung Bromo dengan panorama yang khas dan eksotik serta masyarakat Tengger yang unik, Probolinggo merupakan daerah menarik. Dari sudut kecil inilah saya ingin berbagi informasi dan pengalaman dengan saudara. Tentang pengembangan diri, pendidikan, budaya, politik, pemerintahan, pemilu dan ihwal terkait yang berhubungan dengan kehidupan kita. Saya sangat senang jika ada feedback dari Saudara.
Blakrakan saya di Dewan Pendidikan, Forum Tapal Kuda, KPU, Yayasan Wahana, juga di lembaga kajian sosial di Jawa Timur, Miracle Ways dan corat-coret saya di blog ini mungkin dapat mengajari saya tentang kehidupan. Hal mana yang saya perkenalkan kepada anak-anak saya, para Nikkolai dan anak-anak orang lain (yang mau).
Jika Saudara suka, silakan tour di blog saya. Dan jika Saudara mau, silakan gunakan artikel blog ini asalkan cantumkan sumber link-nya ya... Juga ebook yang ada di bagian akhir postingan, boleh kok diunduh.
Best regards,
Wawan E. Kuswandoro















No comments:
Post a Comment