Tradisi dan Bahasa
Masyarakat Tengger merupakan salah satu komunitas masyarakat di kepulauan Jawa yang masih setia terhadap adat istiadat warisan nenek moyang. Masyarakat adat Tengger tidak pernah bisa lepas dari tradisi luhur yang telah diwarisinya selama ini. Kemampuan untuk mempertahankan tradisi tersebut menjadikan masyarakat Tengger dianggap sebagai bagi dari masyarakat adat di nusantara. Penghormatan terhadap tradisi tersebut memberikan bukti bahwa mereka cenderung ‘berbeda’ dengan masyarakat Jawa pada umumnya, meskipun sama-sama menggunakan bahasa Jawa dalam pergaulan sehari-hari, tetapi dialek yang dipergunakan adalah bahasa Jawa dialek Tengger. Ciri bahasa Jawa dialek Tengger ini adalah dominasi ucapan berbunyi “a” pada akhir suku kata, bukannya diucapkan “o” seperti pada kebanyakan bahasa Jawa dialek Jawa Tengah atau Jawa Timur. Sepintas mirip dialek Banyumas namun cengkokan (intonasi) kalimatnya datar. Jika penulis amati, dialek Tengger ini mirip perpaduan antara bahasa Jawa dialek Banyumas (bunyi “a”, bukan “o”) bercampur dialek Banyuwangi dan sedikit mirip bahasa Bali. Misalnya, sira (artinya kamu, bentuk lugas) diucapkan “sira”, bukan “siro”; rika (artinya anda, atau kamu dalam bentuk sopan) diucapkan “rika”, bukan “riko”. Ada sedikit pembeda dalam penyebutan kata ganti orang menurut jenis kelamin seperti lazimnya pada bahasa Perancis atau Spanyol. Misalnya “reang” untuk menyebut saya (bagi orang laki-laki). Sedangkan para perempuan akan menggunakan kata “ingsun” untuk menyebut 'saya'. Kemiripan dengan bahasa Bali misalnya muncul pada kata “odalan” (nama salah satu upacara di Tengger), yang digunakan (diucapkan) warga Tengger, bersamaan artinya dengan kata wedalan (keluaran, mengeluarkan, bahasa Jawa).
Satu lagi yang unik (berbeda dengan bahasa Jawa) dalam dialek Tengger ini, adalah mengucapkan kata yang berarti “...kan” (bahasa Indonesia) seperti pada kata “mengumpulkan”, yang dalam bahasa Jawa disebut “nglumpukna” atau “nglumpukke”, dalam dialek Tengger diucapkan “nglumpuken”. Begitu juga dengan “nglebokna” atau “nglebokke” (artinya: memasukkan), diucapkan “ngleboken”. Dan sebagainya, yang kalau ditulis di page ini, akan menghabiskan puluhan halaman. Dan banyak keunikan lainnya dalam hal ragam bahasa, yang juga saya minati. Saya menduga, dialek ini bisa ditelusuri untuk memperkirakan dialek yang digunakan orang (masyarakat) Jawa pada jaman kerajaan Majapahit dahulu.
Menurut Vina Salviana, kemampuan kohesi sosial antar warga Tengger di manapun mereka berada ditengarai karena dalam kehidupannya, masyarakat adat Tengger cenderung mengadakan hubungan dengan sesama yang berkembang menjadi hubungan dengan alam sebagai usahanya menanggapi secara aktif dan responsif terhadap lingkungan. Pola ini berkembang menjadi pola kebudayaan yang menjadi dasar dan suatu interaksi sosial dalam kelompok masyarakatnya. Bahkan dalam konstruksi sosialnya, dalam sistem kekeluargaannya, masyarakat adat Tengger memiliki ikatan keluarga dan kekerabatan antar sesama manusia yang sangat erat, sehingga tercipta suasana tenteram dan damai tanpa kekerasan dan konflik (sesuai dengan doktrin anteng dan seger, lihat halaman 13).
Komunitas masyarakat Tengger memiliki keragaman budaya yang sarat dengan nilai-nilai ritual yang menjadi tuntunan kehidupan warganya. Keberagaman budaya yang yang diwariskan dari nenek moyang secara turun temurun itu selalu ditaati dan dijunjung tinggi, yang pelaksanaannya diwujudkan dalam bentuk-bentuk upacara adat seperti; upacara ritual Yadnya Kasada, Karo dan Unang-unang.
Beberapa Studi Tentang Tengger
Masyarakat Tengger senantiasa memiliki daya tarik tersendiri. Tidak hanya eksotisme pemandangan alam dengan relief dan lanskap Gunung Bromonya, melainkan juga daya pikat kehidupan sosio-kultural yang direpresentasikan oleh komunitas adat Tengger. Keadaan alam Tengger yang terletak di lereng Gunung Bromo dengan hasil pertaniannya yang khas (kentang, kol dan bawang prei), juga lautan pasir seluas 5.250 hektar, berada pada ketinggian 2.392 meter dpl. Pegunungan Bromo – Semeru merupakan pegunungan yang masih aktif, sekaligus terkenal sebagai salah satu objek wisata di Jawa Timur.
Keunikan dan kekhasan komunitas adat Tengger itu menarik tidak hanya wisatawan untuk datang berkunjung, tetapi juga pra ilmuwan –utamanya ahli antropologi dan sosiologi- untuk melakukan penelitian. Makalah ini tidak hanya menjelajahi kondisi geografis, melainkan semua aspek yang melingkupi aktivitas di pegunungan Tengger. Dari soal perubahan sosial ekonomi, religiusitasnya, kebudayaannya hingga karakteristik masyarakat Tengger kemudian bermunculan yang turut serta memperkenalkan Tengger. Tidak hanya keindahan alam pemandangan, melainkan juga keunikan perilaku sosial budaya orang-orang Tengger.
Dipandang dari sisi manapun, Tengger tetap mempesona. Pesona tersebut membuat orang tergerak untuk menyelami lebih dalam tentang aktivitas di sekitar pengunungan Tengger. Publikasi tersebut tidak saja dari hasil penelitian untuk skripsi sampai pada disertasi. Seperti misalnya Ayu Sutarto, budayawan asal Jember sekaligus orang yang serius menekuni kebudayaan Tengger dengan disertasinya tentang Legenda Kasada dan Karo Orang Tengger Lumajang, Misbah el-Muni yang menulis Gunung Bromo dan Tengger; Ruswandi dengan buku Sesajen Bromo dan Upacara Kasodo; Soepanto (dkk) dengan Mengenal Cerita Rakyat di Daerah Tengger Jawa Timur; Sunoto, dkk, yang menuliskan laporan bertajuk Sistem Derivasi dan Infleksi Bahasa Jawa Dialek Tengger; Simanhadi Widyaprakosa dengan tulisannya Masyarakat Tengger Sebagai Latar Belakang Daerah Taman Nasional; dan sebagainya. Sementara dari luar negeri, Robert W. Hefner, Indonesianis yang cukup populer, telah banyak menghasilkan tulisan tentang Tengger, misalnya Hindhu Javanese: Tengger Tradition and Islam (Princeton, 1985) serta The Political Economy of Mountain Java (Barkeley, 1990) yang sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dan diterbitkan oleh LkiS (1999) dengan judul Geger Tengger, Perubahan Sosial dan Perkelahian Politik, dan masih banyak lagi. Bahkan belum lama ini terbit sebuah buku tentang Agama Tradisional, Potret Kearifan Hidup Masyarakat Samin dan Tengger. Disamping Vina Salviana, yang menulis Modal Sosial Masyarakat Adat Tengger Dalam Menjaga Tatanan Sosial.
Bersambung...
Bromo Tengger Semeru 7: Yadnya Kasada dan Ritual Lain
Greeting From Bromo Base
Peace. May God bestow the blessings of salvation to all of us
Welcome to my blog. It's my world... Selamat datang di blog saya...
This blog is containing my personal views, opinions and life experiences. It’s about some thoughts on social order, culture, politics, government, education and self development. All of which is related. Anyone can read this blog. I would like to share with you...
Saya Wawan, tinggal di Probolinggo, sebuah kota di Jawa Timur, Indonesia. Berdekatan dengan Gunung Bromo dengan panorama yang khas dan eksotik serta masyarakat Tengger yang unik, Probolinggo merupakan daerah menarik. Dari sudut kecil inilah saya ingin berbagi informasi dan pengalaman dengan saudara. Tentang pengembangan diri, pendidikan, budaya, politik, pemerintahan, pemilu dan ihwal terkait yang berhubungan dengan kehidupan kita. Saya sangat senang jika ada feedback dari Saudara.
Blakrakan saya di Dewan Pendidikan, Forum Tapal Kuda, KPU, Yayasan Wahana, juga di lembaga kajian sosial di Jawa Timur, Miracle Ways dan corat-coret saya di blog ini mungkin dapat mengajari saya tentang kehidupan. Hal mana yang saya perkenalkan kepada anak-anak saya, para Nikkolai dan anak-anak orang lain (yang mau).
Jika Saudara suka, silakan tour di blog saya. Dan jika Saudara mau, silakan gunakan artikel blog ini asalkan cantumkan sumber link-nya ya... Juga ebook yang ada di bagian akhir postingan, boleh kok diunduh.
Best regards,
Wawan E. Kuswandoro















No comments:
Post a Comment