Gambaran Umum Masyarakat Tengger
Letak Geografis, Keadaan Alam dan Sosial Budaya
Masyarakat suku Tengger, adalah komunitas tersendiri yang mendiami kawasan lereng pegunungan Bromo - Semeru, yang terletak di wilayah Kabupaten Probolinggo, Kabupaten Pasuruan, Kabupaten Lumajang dan Kabupaten Malang, Jawa Timur. Jumlah komunitas ini tidak banyak, yakni sekitar 100.000 jiwa. Walaupun berdiam di lereng gunung, komunitas ini bukanlah suku terasing, primitif atau terisolasi, karena mereka masih berhubungan dengan masyarakat lain. Secara administratif, masyarakat suku Tengger ini mendiami beberapa desa yang merupakan bagian dari wilayah pemerintahan Kabupaten Probolinggo, Lumajang, Pasuruan dan Malang). ”Desa Tengger” tempat bermukimnya masyarakat suku Tengger tersebut adalah desa Jetak, Wonotoro, Ngadirejo, Ngadisari dan Cemara Lawang (Kecamatan Sukapura, Kabupaten Probolinggo); Ledokombo, Pandansari, dan Wonokerto (Kecamatan Sumber, Kabupaten Probolinggo); Tosari, Wonokitri, Sedaeng, Ngadiwono, Podokoyo (Kecamatan Tosari, Kabupaten Pasuruan); Keduwung (Kecamatan Puspo, Kabupaten Pasuruan); Ngadas (Kecamatan Poncokusumo, Kabupaten Malang); dan Argosari serta Ranupani (kecamatan Senduro, Kabupaten Lumajang). ”Desa Tengger” yang berada pada puncak tertinggi gunung Bromo adalah desa Ngadisari. Di desa-desa tersebut (tempat masyarakat Hindu Tengger bermukim), juga terdapat sistem pemerintahan desa, yang dipimpin oleh seorang kepala desa yang dipilih oleh masyarakat. Misalnya, desa Ngadisari, secara administratif dipimpin oleh kepala desa yang bernama Soepoyo, yang berasal dari desa Ngadisari (beragama Hindu), telah berpendidikan S2 .
Mulai memasuki desa-desa ini (terdapat tugu batas desa), terlihat kekhasan perkampungan masyarakat Hindu, yakni terdapatnya bangunan mirip candi atau pura berukuran kecil (tinggi sekitar 150 cm – 200 cm, lebar 50 cm) di depan rumah-rumah penduduk, mirip di Bali. Bentuk rumah-rumah pada umumnya disesuaikan dengan tekstur tanah yang berbukit, walaupun tidak tampak berbeda dengan rumah-rumah orang Jawa pada umumnya. Beberapa tampak seperti bangunan rumah seperti banyak terdapat di perkotaan (gaya modern), terutama di pinggir jalan umum. Biasanya rumah-rumah ini milik orang kaya di Tengger, yang jumlahnya tidak terlalu banyak. Kebanyakan rumah warga Tengger berbentuk ”rumah biasa”, berbahan semen (tembok), dan papan.
Strata ekonomi menengah ke bawah biasanya menempati rumah-rumah yang terletak agaki masuk ke dalam, yakni daerah perbukitan. Yang menarik, mulai batas desa Jetak ke atas hingga Ngadisari dan Cemara Lawang, yang notabene hanya dihuni oleh warga Hindu Tengger, pemilikan tanah dan bangunan (properti) adalah mutlak milik orang Hindu Tengger. Keputusan ini adalah ”keputusan adat” sejak dulu kala (turun temurun). Satu-satunya pihak luar yang diperkenankan untuk memiliki lahan di wilayah Hindu Tengger tersebut adalah perusahaan otobis AKAS, itupun dibatasi, dan sekarang properti AKAS tersebut (berupa tanah untuk perkebunan/ agrobis) tidak terurus dan ”kembali menjadi milik masyarakat adat Tengger”. Namun realitas ini tidak akan dapat diperoleh dari penuturan atau pengakuan orang Tengger, baik oleh dukun sekalipun. Jika ditanya hal seperti ini, biasanya tokoh masyarakat Tengger akan menjawab dengan sangat diplomatis. Membeli tanah di Tengger, boleh, tetapi ada syaratnya. Dan syaratnya sangat sulit dan berbelit-belit. Artinya, sama dengan ”tidak boleh”.
Orang luar yang diperbolehkan memiliki properti di Tengger ini harus sudah diakui secara adat (”dibaptis”) menjadi wong Tengger. Atau dengan kata lain, orang yang bisa memiliki properti di Tengger adalah wong Tengger. Namun, jika ada yang demikian, orang tersebut tetap dibatasi hak-hak sipilnya di Tengger, misalnya ia tetap tidak diperkenankan menjadi dukun suku Tengger. Setelah batas desa Jetak ke bawah (karena lokasi yang bergunung-gunung) berturut-turut adalah desa Sukapura, Pakel, Ngepung, Kuripan, Muneng (berbatasan dengan wilayah Kota Probolinggo). Dari dataran rendah (Kota Probolinggo) hingga desa Muneng, terus ke atas hingga desa Kuripan, Ngepung, Pakel, dan Sukapura, masih dijumpai masyarakat campuran Jawa-Madura selayaknya di wilayah Probolinggo pada umumnya, yang rata-rata beragama Islam dan sebagian kecil Kristen. Dari desa Sukapura hingga menjelang batas desa Jetak, masih dijumpai warga Muslim dan Kristen. Di kawasan ini masih terlihat anak-anak perempuan berjilbab. Di kawasan ini juga masih terlihat bangunan masjid, namun tidak tampak bangunan gereja, hanya kelompok masyarakat penghayat ajaran Kristiani, yang bernama ”Lembah Kasih”, yang menempati rumah penduduk. Yang menarik di kawasan desa ini, adalah pekuburan, dengan pintu gerbang bertuliskan ”RUMAH MASA DEPAN” dengan huruf kapital berukuran menyolok disertai tulisan bahasa Arab berbunyi: ”Inna lillaahi wa inna ilaihi raji’uun” pada bagian atas dan tulisan ”Griya Kalanggengan” dengan menggunakan huruf Jawa (aksara Jawa) yang ditulis pada bagian bawah dari tulisan utama. Pada kawasan ini papan nama identitas kantor, warung, dan tempat-tempat layanan umum, semua ditulis dengan bahasa Indonesia (kecuali pekuburan tadi, yang menggunakan 3 bahasa). Setelah batas desa Jetak, pemandangan menjadi lain sama sekali yakni rumah-rumah yang pada halamannya dilengkapi dengan bangunan mirip candi atau pura, sebagaimana telah disinggung di bagian depan. Di kawasan puncak Bromo, terdapat banyak tempat layanan umum seperti hotel, rumah penginapan, rumah makan, wartel, dsb. Umumnya menggunakan bahasa Indonesia, bahasa Inggris dan bahasa Perancis untuk menandai jenis layanan mereka.
Mayoritas (95%) warga masyarakat suku Tengger hidup dari bercocok tanam di kebun, ladang dan lahan pertanian yang terdapat di lereng pegunungan Bromo-Semeru. Mereka dikenal sebagai petani yang sangat tangguh, yang mampu bekerja di ladang (tegil) sejak pagi hingga sore hari. Umumnya mereka bertanam tanaman yang lazim tumbuh pada daerah berhawa dingin, yaitu kentang, kol (kubis), dan bawang prei atau bawang daun. Kawasan Tengger di lereng gunung Bromo - Semeru ini berhawa dingin (sekitar 4º C pada malam hari dan sekitar 18º C pada siang hari). Pada masa panen, banyak pedagang dari luar Tengger yang berdatangan ke daerah Tengger untuk mengambil barang-barang komoditi pertanian tersebut untuk dijual di pasar Kota dan Kabupaten Probolinggo, Lumajang, dan Pasuruan. Sebagian kecil dari mereka (5%) berprofesi sebagai pegawai negeri, buruh, dan pengusaha jasa. Para pemuda, sebagian berprofesi sebagai sopir angkutan pedesaan yang menghubungkan desa-desa suku Tengger dengan desa lain di Kabupaten dan Kota Probolinggo dan Pasuruan. Biasanya mereka menggunakan kendaraan jenis pick up dan L300 atau Bison (lihat Gambar 7). Sebagian menyediakan jasa transportasi dan penyewaan kendaraan bagi para wisatawan yang datang ke Gunung Bromo, yaitu kendaraan jenis jeep, hard-top dan kuda tunggang. Kendaraan-kendaraan ini untuk mengarungi lautan pasir hingga mendekati kawasan Pura Luhur Poten dan kaldera Gunung Bromo. Para wisatawan biasanya setelah mengarungi lautan pasir dengan berkuda atau jeep ini melanjutkan perjalanan ke kaldera Gunung Bromo dengan berjalan kaki, naik tangga buatan. Para perempuan suku Tengger biasanya mencari kayu di hutan lereng pegunungan Bromo dan Pananjakan, disamping bekerja di lahan pertanian lereng gunung.
Hawa dingin rupanya membawa pengaruh pada ”mode” pakaian sehari-hari warga masyarakat suku Tengger. Orang-orang laki-laki pada umumnya selalu mengenakan kain sarung yang dibelitkan dan disarungkan menutupi badan hingga ke kepala (kemulan sarung), menutupi pakaian luar seperti orang kebanyakan (kemeja dan celana panjang). Sehingga muncul guyonan pada masyarakat perkotaan di Probolinggo, jika menemukan orang ber-kemulan sarung, dianggap seperti orang Tengger (kaya wong Tengger). Para pemuda lebih menyukai mengenakan jaket tebal. Para perempuan, biasa mengenakan selembar kain untuk menutupi bagian depan dari pakaian luarnya (dipakai mirip mengenakan celemek namun berukuran lebih lebar). Umumnya ”celemek” ini bermotif kembang dan diapaki para perempuan jika mereka keluar rumah. ”Celemek” ini tidak lazim dikenakan oleh laki-laki, dan perempuan ketika di dalam rumah. Para perempuan juga mengenakan topi jenis ”topi gunung” yang biasa dikenakan anggota pecinta alam. Sebagian juga suka mengenakan jaket tebal dengan penutup kepala, terutama perempuan muda, baik yang belum menikah maupun yang telah menikah. Para perempuan paruh baya hingga tua, biasanya mengenakan pakaian khas mereka, tetap ”pakaian standard Tengger”, namun lebih sederhana, yaitu cukup berupa pakaian biasa dan dilengkapi dengan kain selendang mirip gendongan bayi, yang berfungsi untuk mengendong sesuatu (biasanya barang-barang bawaan, kayu, dsb). Sebagian perempuan Tengger suka merokok, mungkin karena hawa dingin pegunungan. Singkatnya, penutup kepala dan telinga menjadi ”mode” pakaian harian khas Tengger. Hanya saja bentuknya berlainan. Berbeda dengan pakaian adat, yang biasanya dikenakan para dukun ketika melangsungkan upacara adat. Pakaian adat Tengger ini sepintas mirip pakaian adat Bali, yakni pakaian mirip pakaian khas Jawa Timur (PKJ) berwarna putih, kerah model kerah Cina, berlilit sarung di atas celana dan bertutup kepala (udheng). Ditambah selendang berwarna kuning bersilang di depan dada.
Masyarakat Tengger memang memiliki kekhasan tersendiri. Salah satu ciri khas masyarakat Tengger, selain beragama Hindu , adalah keberadaan dukun yang berperanan pada fungsi spiritual dan sosial. Dan upacara Yadnya Kasada, yang menggambarkan ekspresi terimakasih masyarakat suku Tengger kepada kekuatan supranatural (Tuhan), yang dalam ajaran Hindu yang dianut masyarakat suku Tengger direpresentasikan pada sebutan “Sang Hyang Widdhi Wasa”. Ungkapan rasa terimakasih ini diwujudkan dalam bentuk pengorbanan berupa hasil bumi kepada dewa, yang dilabuhkan ke dalam kawah Gunung Bromo (inilah asal mula Yadnya Kasada) .
Bersambung...
Bromo Tengger Semeru - 3 : Asal Usul, Sistem Nilai, Dukun, Tradisi dan Bahasa
Greeting From Bromo Base
Peace. May God bestow the blessings of salvation to all of us
Welcome to my blog. It's my world... Selamat datang di blog saya...
This blog is containing my personal views, opinions and life experiences. It’s about some thoughts on social order, culture, politics, government, education and self development. All of which is related. Anyone can read this blog. I would like to share with you...
Saya Wawan, tinggal di Probolinggo, sebuah kota di Jawa Timur, Indonesia. Berdekatan dengan Gunung Bromo dengan panorama yang khas dan eksotik serta masyarakat Tengger yang unik, Probolinggo merupakan daerah menarik. Dari sudut kecil inilah saya ingin berbagi informasi dan pengalaman dengan saudara. Tentang pengembangan diri, pendidikan, budaya, politik, pemerintahan, pemilu dan ihwal terkait yang berhubungan dengan kehidupan kita. Saya sangat senang jika ada feedback dari Saudara.
Blakrakan saya di Dewan Pendidikan, Forum Tapal Kuda, KPU, Yayasan Wahana, juga di lembaga kajian sosial di Jawa Timur, Miracle Ways dan corat-coret saya di blog ini mungkin dapat mengajari saya tentang kehidupan. Hal mana yang saya perkenalkan kepada anak-anak saya, para Nikkolai dan anak-anak orang lain (yang mau).
Jika Saudara suka, silakan tour di blog saya. Dan jika Saudara mau, silakan gunakan artikel blog ini asalkan cantumkan sumber link-nya ya... Juga ebook yang ada di bagian akhir postingan, boleh kok diunduh.
Best regards,
Wawan E. Kuswandoro















No comments:
Post a Comment