Bagaimana dengan sekolah-sekolah kita? Ketika sekolah-sekolah masih terlalu mengutamakan aspek pembelajaran formal dengan mengedepankan capaian kognitif anak, itu masih wajar pula karena ketakberdayaan sekolah menghadapi rezim pendidikan dengan tagihan kurikulum pada capaian hasil-hasil formal, hasil-hasil kognitif. Misalnya pengukuran / penilaian “kompetensi” (?) murid model Ujian Nasional (UN). Sekolah mana sih, dan orangtua mana sih yang ingin murid/ anaknya mendapat nilai UN rendah hanya gara-gara mengedepankan aspek soft skill? Inilah pilihan sulit.
Struktur kurikulum sekolah masih belum memungkinkan untuk mendorong pembelajaran yang mengacu pada pencapaian SOFT SKILL secara optimal karena TIDAK ADA RUANG WAKTU. Kurikulum kita terlalu banyak acara (mungkin terinspirasi “padat karya” ya..), akhirnya menguras waktu anak. Persepsi terhadap KTSP (Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan) juga masih beragam. Jika menambah jam, malah menjadi masalah, karena waktu anak untuk kegiatan lain menjadi semakin berkurang. Kalau pemerintah sudah mengetahui bahwa soft skill ternyata menempati porsi 85% (penelitian lain: 90%) dalam penentuan sukses anak, ya harus diimbangi dengan penerapan penilaian dan pengukuran hasil belajar yang sesuai, supaya sekolah/ guru/ murid/ ortu tidak terjebak dalam konsep pembelajaran yang kurang memberdayakan anak dari sudut pandang soft skill. Tetapi, inilah faktanya. Dan sekolah-sekolah masih belum siap sepenuhnya menerapkan pengembangan soft skill.***
http://www.facebook.com/pages/Surabaya-Probolinggo/Soft-Skill-Quantum-Training/142760432422932
















1 comment:
thanks for your share
succes for you..
you can visit me in.
click this
Post a Comment