Greeting From Bromo Base

Peace. May God bestow the blessings of salvation to all of us

Welcome to my blog. It's my world... Selamat datang di blog saya...

This blog is containing my personal views, opinions and life experiences. It’s about some thoughts on social order, culture, politics, government, education and self development. All of which is related. Anyone can read this blog. I would like to share with you...

Saya Wawan, tinggal di Probolinggo, sebuah kota di Jawa Timur, Indonesia. Berdekatan dengan Gunung Bromo dengan panorama yang khas dan eksotik serta masyarakat Tengger yang unik, Probolinggo merupakan daerah menarik. Dari sudut kecil inilah saya ingin berbagi informasi dan pengalaman dengan saudara. Tentang pengembangan diri, pendidikan, budaya, politik, pemerintahan, pemilu dan ihwal terkait yang berhubungan dengan kehidupan kita. Saya sangat senang jika ada feedback dari Saudara.

Blakrakan saya di Dewan Pendidikan, Forum Tapal Kuda, KPU, Yayasan Wahana, juga di lembaga kajian sosial di Jawa Timur, Miracle Ways dan corat-coret saya di blog ini mungkin dapat mengajari saya tentang kehidupan. Hal mana yang saya perkenalkan kepada anak-anak saya, para Nikkolai dan anak-anak orang lain (yang mau).

Jika Saudara suka, silakan tour di blog saya. Dan jika Saudara mau, silakan gunakan artikel blog ini asalkan cantumkan sumber link-nya ya... Juga ebook yang ada di bagian akhir postingan, boleh kok diunduh.

Best regards,
Wawan E. Kuswandoro

Ingin berlangganan artikel blog ini? Masukkan alamat email Anda:

Delivered by FeedBurner

Sekolah-Menulis Online

Sunday, February 8, 2009

Oase Tak Pernah Menunggu Kafilah

Kesalahan besar para penyelenggara dan pengelola pendidikan persekolahan adalah, pertama, mereka terlalu terpaku pada konsep normatif yang kaku, dalam kungkungan terali besi birokrasi pemerintahan yang justru memberikan ruang bagi pembelengguan kreativitas kepala sekolah dan guru. Pengembangan inovasi sekolah seringkali terhambat oleh pola pengawasan dan pertanggungjawaban berbasis administratif yang sama sekali tidak progresif. Kepala Sekolah lebih bertanggungjawab kepada hirarkhi birokrasi di atasnya ketimbang kepada masyarakat sebagai konsumen/ user pendidikan yang telah membayar mahal. Guru pun tergoda untuk mengajar dengan pola menghabiskan target kurikulum, program sertifikasi guru akhirnya terjebak pada kubangan formalitas Jadilah sekolah bagaikan gudang tempat menghabiskan stok barang dengan para murid sebagai target, tanpa denyut tradisi kehidupan keilmuan yang dinamis yang inheren dengan kehidupan peserta didik serta berputar-putar pada persoalan input-output tiada akhir. Sementara, sekolah swasta yang sebenarnya lebih berpeluang menyelenggarakan pendidikan secara lebih otonom dan kreatif, hingga kini ternyata masih berkutat pada persoalan dana sehingga sulit berkembang pula. Kedua, pemikiran pendidikan terlalu terfokus pada persoalan mikro-paedagogik, belum banyak memperhitungkan lingkungan sosial-budaya sebagai habitat/ inkubator bahkan variabel pendidikan.

Buku ini mengupas habis persoalan pendidikan persekolahan dalam perspektif pendidikan merdeka-otonom dengan menembus batas mikro untuk mengarungi spektrum sosial yang kaya warna serta menempatkan pendidikan dalam konteks budaya. Berbagai pendekatan revolusioner yang dipakai antara lain:

• Pengembangan Institusi
• Mini-society, Kurikulum yang Hidup - Kontekstual
• School Branding, Komunikasi & Social Marketing
• Peranserta Masyarakat, Common Ownership
• Reformasi Birokrasi (Pendidikan)

Dengan penyajian yang praktis, buku ini merupakan panduan yang bersahabat bagi upaya pengembangan sekolah secara otonom menuju sekolah yang lebih progresif dan humanis sehingga paling dicari banyak orang layaknya oase yang senantiasa dicari oleh kafilah pencari ilmu. Namun oase tak pernah menunggu kafilah.***

No comments:

Sign up for PayPal and start accepting credit card payments instantly.

Twitter