Perempuan Arab nge-net? Apanya yang aneh? Ya nggak lah ya, kan sekarang jaman teknologi informasi. Tapi kalau jadinya mereka 'buka-bukaan' di dunia maya, gimana? Kan di dunia nyata jangankan 'buka-bukaan', berpandangan ama lain jenis, gak hanya haram, tapi bisa menimbulkan masalah sosial dan masalah hukum. Na... kali ini saya menurunkan artikel punya Yeslam Al-Saggaf, seorang peneliti muda Arab Saudi, berdasarkan penelitiannya tentang para perempuan bangsanya di dunia maya. Dia meneliti berbagai komunitas maya terkenal di Jazirah Arab.
Abstraks
Sebagian besar studi yang ada pada literatur sekarang ini, memfokuskan pada metode yang digunakan, bukannya pada filosofi yang melatarbelakanginya. Artikel ini memfokuskan pada penggunaan etnografi, dalam paradigma konstruktivis, untuk mengeksplorasi partisipasi individual dalam komunitas virtual di Saudi Arabia. Tujuan artikel ini adalah untuk menyoroti bagaimana teknik etnografi tertentu, viz observasi-terselubung dan partisipasi, yang digunakan dalam studi itu. Artikel ini menyatakan bahwa menggunakan etnografi dalam cara ini memungkinkan untuk menempatkan hasilnya dalam konteks sosial dan kultural pada masyarakat Saudi. Artikel, yang meliputi sebuah sampel penemuan dari dua teknik yang dilibatkan untuk ilustrasi, menyimpulkan bahwa observasi-terselubung dengan delapan bulan partisipasi dalam dua komunitas virtual yang berbeda-tetapi-serupa, selama periode 2001-2002, telah menghasilkan penemuan yang mendalam, bermakna dan kaya dalam deskripsi.
Kata kunci: etnografi, paradigma konstruktivis, etnografi konstruktivis, observasi-terselubung, NVIVO, komunitas virtual, Saudi Arabia, perempuan Saudi.
Pendahuluan
Pada tahun 2002, studi ekstensif mengenai penggunaan komunitas virtual untuk tujuan sosial di Saudi Arabia telah tuntas. Studi ini dilakukan oleh seorang pria Arab yang tinggal dan hidup di Saudi Arabia dalam jangka waktu lama; oleh karenanya ia memiliki pengetahuan yang cukup memadai mengenai kultur dan cara hidup masyarakat di mana dia tinggal. Ketertarikannya mengenai komunitas virtual muncul ketika dia mengunjungi Al-Saha Al-Siyasia (forum paling luas tersebar di Saudi Arabia pada waktu itu) di tahun 2000 dan berinteraksi dengan beberapa anggotanya. Pada waktu-waktu ini, orang yang menggunakan komunitas virtual di negara itu mencapai jumlah ratusan ribu. Meskipun internet di Saudi Arabia merupakan subyek yang dikontrol oleh pemerintah secara ketat, namun komunitas virtual tidak pernah menjadi subyek dari berbagai bentuk sensor. Komunitas ini memungkinkan pria dan wanita dalam masyarakat konservatif ini untuk berbicara satu sama lain. Hal yang sebelumnya sangat tidak mungkin terjadi. Dalam sebuah negara di mana agama dipegang secara serius, perubahan sosial ini harus dianggap fenomenal.
Terdapat sejumlah masalah menarik yang bisa muncul dalam situasi baru ini, khususnya dalam hubungannya dengan kehidupan off-line (diluar line internet) orang Saudi. Contohnya, akankah partisipasi dalam komunitas virtual oleh wanita Saudi yang merupakan 45% pengguna internet di negara ini (Al-Zaharni, 2002), menjadi sebuah cara di sekitar adat yang terbentuk lama yang mencegah mereka melakukan percakapan kasual dengan pria yang tidak ada hubungan (Wheeler, 2000; Al-Munajjed, 1997)? Karena pria dan wanita bisa diamati berbicara satu sama lain secara online, akankah mereka berbicara satu sama lain secara offline sebagai hasil komunikasi mereka secara online? Ketika fitnah dan kecabulan merupakan hal yang lazim dalam masyarakat virtual secara umum (Kollock dan Smith, 1999; Wellman dan Gulia, 1999), akahkah ini menjadi lazim dan umum pula dalam komunitas virtual Saudi? Ketika artikel ini memasukkan sebuah diskusi singkat beberapa pertanyaan ini, fokus utamanya adalah pada metode yang digunakan dan paradigma yang dipilih.
Kurangnya studi pada komunitas virtual di Saudi Arabia memberi inspirasi penelitian ini. Penelitian ini selanjutnya didorong oleh kurangnya studi komunitas virtual yang dilakukan di negara-negara Teluk Arab dan negara-negara Arab lainnya seperti yang dicatat peneliti-peneliti Barat (contohnya, Ess, 1998). Lebih lanjut, dengan perkecualian Al-Farim (2001) dan Wheeler (2003, 2001, 1998), terdapat sebuah kekurangan dari studi-studi yang telah mengagendakan internet di Saudi Arabia dan Dunia Arab secara umum. Dampak komunitas virtual pada kehidupan off-line orang adalah secara serius kurang diteliti bahkan di dunia Barat (Dodge dan Kitchin, 2001; Jones dan Kucker, 2001).
Terdapat banyak diskusi dalam literatur (Preece, 2005; Preece, 2000; Jones dan Kucker, 2001; Kollock dan Smith, 1999; Wellman dan Gulia, 1999) mengenai apa yang menyusun sebuah masyarakat virtual. Untuk tujuan artikel ini, komunitas virtual didefinisikan sebagai "agregasi sosial yang muncul dari net (jaringan) ketika sejumlah orang melakukan diskusi publik cukup panjang, dengan perasaan manusia yang memenuhi, untuk membentuk web hubungan pribadi di dunia maya" (Rheingold, 2000:xx). Ini seharusnya dicatat bahwa komunitas virtual yang diteliti dalam studi ini menggunakan sebuah mode komunikasi "asinkron" daripada "sinkron", di mana partisipan berinteraksi dalam waktu tertunda, yaitu, tanpa setiap orang berkumpul pada waktu tertentu.
Sebagian besar studi dalam literatur sekarang ini memfokuskan pada metode yang digunakan, bukannya filosofi yang mengikutinya. Penekanan artikel ini adalah pada penggunaan keduanya, viz metode, etnografi, dan fondasi filosofisnya, yakni paradigma konstruktivis. Fokus juga mengarah pada dua kunci teknik etnografi, yaitu observasi tersembunyi dan partisipasi, yang digunakan untuk mengumpulkan data, termasuk seleksi dan deskripsi setting dan mendapatkan masukan pada mereka.
Setelah gambaran analisa data, artikel menampilkan sampel dari penemuan untuk tujuan ilustrasi. Penemuan dalam artikel ini berkaitan dengan karakteristik utama dari partisipasi dalam komunitas virtual di Saudi Arabia dan telah diperoleh menggunakan teknik observasi tersembunyi dan partisipasi. Penemuan dari teknik lain, wawancara, dimasukkan dalam artikel yang diterbitkan sebelumnya (contohnya, Al-Saggaf, 2004). Akhirnya, artikel ini menawarkan beberapa kesimpulan mengenai nilai metode untuk penelitian yang memfokuskan pada komunitas virtual.
Pilihan Paradigma Konstruktivis
Tujuan utama dari studi ini adalah untuk mengeksplorasi partisipasi individual dalam komunitas virtual di Saudi Arabia. Karena ini merupakan hal yang penting untuk menempatkan hasil studi dalam konteks sosial dan kultural dari masyarakat Saudi, pendekatan interpretivist (yang dikaitkan dengan metode penelitian kualitatif) tampak paling cocok. Interpretivist mempercayai bahwa realitas, secara sosial terbentuk dan ditempatkan dan oleh karena itu relatif pada konteks spesifik. Mereka juga mempertimbangkan pemahaman perspektif dan makna yang dibentuk orang secara individual mengenai esensial situasi mereka (Williamson, 2002). Alasan lain untuk pemilihan kerangka kerja interpretivist adalah karena sebuah tujuan sekunder dari studi ini adalah untuk mempelajari mengenai pengalaman individual dan persepsi mereka mengenai efek partisipasi mereka pada kehidupan off-line mereka. Tujuan sekunder ini adalah dicapai melalui penggunaan wawancara semi-terstruktur, diskusi yang, seperti disebutkan diatas, tidak akan dilaporkan disini.
Salah satu paradigma populer yang muncul di bawah pendekatan interpretivist adalah disebut paradigma konstruktivis. Dalam hal asumsi-asumsi ontologis, paradigma ini menyatakan bahwa realitas mengenai fenomena sosial khusus adalah ganda dan terkonstruksi. Konstruktifis mempercayai bahwa tidak ada realitas obyektif tunggal "diluar sana" mengenai sebuah fenomena khusus; selain itu, terdapat realitas ganda yang terbentuk dalam pikiran orang di bawah studi. Dalam hal asumsi-asumsi epistemologisnya, paradigma ini menyatakan bahwa investigator dan responden menciptakan bersama pemahaman dan kemudian, ketika melaporkan penemuan mereka, peneliti cenderung untuk mengakui subyektiftas mereka. Peneliti juga cenderung untuk menerima bahwa mereka sendiri mempengaruhi proses penelitian dan, untuk alasan ini dalam laporan mereka, mereka juga merefleksikan pada peran mereka sendiri (Marshall dan Rossman, 1999). Dalam hal asumsi-asumsi metodologisnya, konstruktivis mempercayai bahwa mereka harus mempelajari fenomena dalam bidang di mana hal ini terjadi, karena mereka menyadari pentingnya pemahaman praktek-praktek kultural orang dan makna yang mereka bawa pada kultur (Denzin dan Lincoln, 2000; 21). Schwandt (1994:128) mempercayai bahwa penelitian yang dilakukan dalam sebuah paradigma konstruktivis adalah sangat serupa dengan penyelidikan naturalistik seperti yang ditunjukkan dalam Lincoln dan Guba (1985). Penyelidikan naturalistik, contohnya, menyukai metode kualitatif (interpretivist) karena mereka lebih cocok dalam menangani realitas ganda (Lincoln dan Guba, 1985:40). Dalam penyelidikan naturalistik, proses penelitian adalah interaktif dan orang yang tahu (penyelidik) dan yang diketahui adalah tidak bisa dipisahkan satu sama lain. Penyelidik memilih untuk menegosiasikan makna dan penafsiran dengan sumber daya manusia darimana data diperoleh karena ini adalah realitas mereka di mana penyelidik berusaha untuk merekonstruksinya (Lincoln dan Guba, 1985:41).
Paradigma konstruktivis mencakup dua teori konstruktivis kunci. Pertama, teori konsep personal, pertama kali digambarkan oleh Kelly (1963) dan menekankan realitas individual atau penafsiran dunia. Kedua, teori konsep sosial, pendukung utamanya di mana Berger dan Luckmann (1967) menekankan pengaruh masyarakat, kultur, dan lingkungan sosial pada realitas. Teori konsep personal menyatakan bahwa orang membentuk realitas mengenai dunia mereka secara individual dan itulah mengapa realitas mengenai sebuah fenomena adalah tidak tunggal tetapi majemuk, yang ada dalam pikiran individual (Charmaz, 2000; Denzin dan Lincoln, 2000; Schwandt, 2000). Setiap orang membentuk realitasnya mengenai dunia berdasarkan pada persepsi individual dan setiap orang merasakan/ menerima dunia dalam sebuah cara yang bisa jadi berbeda dari persepsi orang lain terhadapnya (Saule, 2002; Hammersley, 1995; Kelly, 1991; Lincoln dan Guba, 1985). Bagaimanapun, ketika makna diperoleh dari kejadian-kejadian, orang-orang, obyek-obyek (dengan tujuan untuk membuat kesan, atau mengorganisir mereka) adalah realitas yang terbentuk, orang dan obyek dalam pandangan terbentuk adalah dianggap kesatuan nyata (Lincoln dan Guba; 1985; 84).
Konstruksi sosial dari teori realitas menyatakan bahwa makna dikembangkan melalui interaksi orang dan hal-hal seperti: bahasa, kultur, lingkungan dan agama (Berger dan Luckmann, 1967). Konstruksionis sosial menyadari kepentingan bahasa, kultur, dan lingkungan dalam cara orang membuat kesan mengenai dunia mereka (Berger dan Luckmann, 1967). Williamson (2002:30) menyatakan "Konstruksionis sosial memandang orang sebagai alat perkembangan untuk aktifitas mereka bersama, yaitu, mereka secara sosial membentuk realitas". Ini berarti bahwa, dalam konstruksi sosial realitas, orang membentuk realitas mereka bersama. Menurut Schwandt (1994:127) konstruksi sosial realitas tidak fokus pada "aktivitas membuat-makna dari pikiran individual, tetapi pada penghasilan kolektif makna seperti yang dibentuk oleh konvensi bahasa dan proses sosial lainnya".
Literatur menunjukkan bahwa penelitian pada komunitas virtual telah mendapatkan manfaat dari kedua teori konstruktivis itu (contohnya, Markham, 2005; Manaszewicz, Williamson dan Mckemmish, 2002; Dodge dan Kitchin, 2001; Costigan, 1999; Fernback, 1999). Dalam buku yang sering dikutip, CyberSociety 2.0:Revisiting Computer-Mediated Communication and Community, Jones (1998:5) menyatakan bahwa media komunikasi yang dimediai oleh komputer tidak menciptakan realitas sosial mengenai komunitas virtual, ini adalah percakapan dan interaksi yang terjadi antara orang yang membentuk realitas. Ini menyokong poin yang dibuat Berger dan Luckmann (1967) mengenai realitas yang ada, seperti yang disebutkan diatas, melalui interaksi antara proses sosial. Dengan memperhatikan konstruksi realitas personal, Fernback (1999) dan Markham (1998), keduanya setuju bahwa partisipan membentuk realitas mereka mengenai komunitas virtual yang mereka miliki secara pribadi dan bahwa realitas ini ada dalam pikiran partisipan ini, yang berarti realitas mengenai komunitas virtual juga majemuk dan terbentuk.
Studi ini menggunakan kedua teori sebagai lensa di mana komunitas virtual di Saudi Arabia diinterpretasikan. Konstruksionisme sosial digunakan untuk menafsirkan cara partisipan menjalankan dirinya sendiri dalam hubungan dengan orang lain dan cara komunitas virtual mempengaruhi perilaku mereka. Konstruktivisme personal digunakan untuk memahami bagaimana partisipan secara individual mengembangkan kesan komunitas mereka dan kepemilikan pada komunitas itu. Masyarakat Saudi adalah masyarakat kolektivis; agama dan kultur secara kuat mempengaruhi bagaimana orang berperilaku, secara umum, pada orang lain, dan juga bagaimana mereka berlaku dalam cara yang serupa dari satu orang dengan orang lain. Adanya konstruktivisme sosial adalah mengenai bagaimana orang mengembangkan makna mereka bersama, kerangka kerja ini adalah lebih cocok bagi konteks Saudi dibandingkan lainnya.
Etnografi Konstruktivis
Etnografi bisa dilakukan dalam beberapa kerangka kerja seperti pasca-modern dan kritis (Saule, 2002). Etnografi yang dilakukan pada studi ini adalah dalam paradigma konstruktivis. Konstruktivis memilih menggunakan etnografi karena ini memungkinkan mereka untuk menampilkan realitas majemuk yang dimiliki bersama oleh partisipan dan juga penafsiran alternatif ketika mereka muncul dari data (Fetterman, 1989k). Etnografer meneliti orang dalam konteks sehari-hari mereka (Saule, 2002:180) dengan berpartisipasi dalam aktifitas sosial sehari-hari mereka dengan tujuan untuk mengamati dan memahami mereka (Minichiello et al, 1990:18). Etnografer menggunakan beberapa teknik dalam pengumpulan data seperti wawancara, observasi dan analisa dokumen. Ini seharusnya dicatat bahwa, ketika beberapa peneliti memperlakukan observasi partisipan sebagai sinonim untuk etnografi (Bow, 2002), dalam partisipasi studi sekarang ini adalah diperlakukan sebagai teknik yang bisa digunakan untuk mengumpulkan data. Metode ini dinyatakan dalam cara ini dengan tujuan untuk membedakannya dari metode "observasi partisipan". Penulis mengambil posisi dari pembedaan antara istilah "teknik" dan "metode". Yang pertama harus berarti prosedur spesifik yang digunakan untuk mengumpulkan atau menganalisa data. Yang terakhir seharusnya berarti aturan-aturan umum yang mengatur pelaksanaan prosedur ini.
Menurut Saule (2002:180-181), terdapat tiga implikasi untuk melaksanakan etnografi dalam paradigma konstruktivis, yang kesemuanya telah dinyatakan dalam bagian sebelumnya. Konstruktivis, pertama, menerima bahwa sebuah teori tidak bisa memenuhi dan secara kategori menjelaskan sifat fenomena yang ada. Yaitu, karena realitas yang ada hanya dalam pikiran dari masing-masing individual, dan masing-masing persepsi individual dari realitas akan jadi majemuk. Kedua, konstruktivis menyadari bahwa peneliti tidak bisa jadi obyektif dan untuk alasan ini mereka membuat pengaruh potensial mereka pada penafsiran fenomena eksplisit dalam teks etnografi, ini memungkinkan pembaca teks untuk memiliki sebuah pemahaman latar belakang dan posisi peneliti. Ketiga, konstruktivis mempercayai bahwa hanya melalui interaksi peneliti dengan yang diteliti dimana sifat konsep sosial bisa diuraikan. Ini sejalan dengan penelitian etnografi karena etnografer diketahui berpartisipasi secara langsung dalam setting dimana orang dan aktifitas di bawah studi berdampingan.
Pengumpulan Data
Pengumpulan data dalam studi ini menggunakan empat teknik etnografi. Ini adalah observasi tersembunyi mengenai sebuah komunitas virtual; sebuah peran partisipan dengan penelitian dalam komunitas virtual serupa lainnya; wawancara semi-terstruktur secara online dengan partisipan reguler; dan wawancara semi-terstruktur face-to-face dengan informan kunci. Temuan yang diperoleh melalui metode ini ditriangulasi untuk membantu dalam membentuk kepercayaan dari hasil penelitian (Bow, 2002; Maxwell, 1996; Lincoln dan Guba, 1987). Artikel ini memfokuskan hanya pada partisipasi dan teknik observasi tersembunyi. Masalah etika yang berkaitan dengan teknik adalah dibahas dibawah ini.
Sebagai seorang pengamat tersembunyi dalam komunitas pertama, peneliti memastikan bahwa aktifitas biasa komunitas dan perilaku alami mereka tidaklah dipengaruhi (Angrosino dan Mays de Perez, 2000; Locke, Spirsudo, dan Silverman, 2000). Peneliti sebagai pengamat-tersembunyi juga menjamin bahwa tidak ada distorsi pada penemuan penelitian karena kebingungan dari perannya (yaitu, anggota atau peneliti) (Glesne, 1999; Paccagnella, 1997). Selain itu, tidak-berpartisipasi menghindarkan peneliti dari kedekatan secara emosional dengan partisipan; sehingga memungkinkan dia untuk berkonsentrasi pada observasinya. Menurut literatur, menjadi pengamat dan seorang partisipan dalam waktu yang sama melibatkan dua peran tersendiri, dimana peneliti bisa jadi tidak bisa mencapainya secara berhasil (Tedlock, 2000; North, 1994; Lincoln dan Guba, 1987).
Terdapat keuntungan yang menonjol dari peneliti ketika menjadi seorang partisipan dalam sebuah komunitas virtual yang serupa tetapi berbeda. Menjadi seorang partisipan adalah cara terbaik untuk memahami orang-orang (Suler, 1999). Dalam komunitas dimana dia adalah partisipan, peneliti bisa untuk berhubungan dengan anggota komunitas, memikat dirinya sendiri dalam beragam situasi dan ambil bagian dalam aktifitas komunitas beragam. Ini memungkinkan dia untuk memahami, secara mendalam, kultur komunitas dan mendapatkan wawasan ke dalam persepsi anggota komunitas. Partisipasinya juga memungkinkan dia untuk melaporkan persepsinya mengenai pengalaman virtualnya, yang dianggap sangat penting bagi penemuan penelitian menurut Lincoln dan Guba (1985), Markham (1998), Marshall dan Rossman (1999) dan Locke et al (2000).
Menggunakan teknik ini dalam cara ini membawa keuntungan masing-masing bagi studi. Observasi-terselubung dimulai pertama dan dijalankan lebih dari periode dua belas bulan, dari Maret 2001 sampai Maret 2002. Partisipasi dalam komunitas lainnya, dengan usaha-usaha besar dibuat untuk memastikan ini adalah serupa dengan komunitas pertama, dimulai sekitar enam bulan kemudian, dan berlangsung selama delapan bulan, dari Oktober 2001 sampai Mei 2002.
Observasi Terselubung: Setting dan Proses
Komunitas virtual yang dipilih sebagai tempat penelitian untuk melakukan observasi tersembunyi adalah sebuah forum berbasis-web diskusi publik asinkron yang bertempat di salah satu website penyedia jasa internet di Saudi Arabia. Website mulai beroperasi pada Maret 1997, yaitu sekitar dua tahun sebelum internet secara resmi diperkenalkan di negara ini. Forum itu sendiri, bagaimanapun, mulai menerima orang dari Saudi Arabia di tahun 1999. Dari observasi pada beberapa forum pada awal studi, forum ini nampak mengandung konsentrasi anggota yang paling besar, yang menunjukkan, pada tingkat tertentu, bahwa range karakteristik partisipan adalah beragam.
Pada waktu observasi, halaman utama dari forum berisi link-link untuk topik yang baru dipasang. Entry (pemasukan) diatur menurut tanggal di bawah satu sama lain dari yang paling baru hingga paling lama. Link-link kecil pada halaman utama bisa membawa pengguna pada topik yang paling lama yang ada di halaman lainnya. Selanjutnya pada judul topik adalah nama panggilan penulis topik dan sebuah gambar yang menunjukkan berapa kali topik itu dibaca. Ketika angka ini besar, ini diobservasi bahwa lebih banyak pembaca tertarik pada topik, kemungkinan karena mereka menganggap hal itu menarik atau penting.
Seperti dengan salah satu yang dipilih untuk komponen partisipan, forum adalah sebuah tempat publik dimana setiap orang bisa bergabung. Tidak ada biaya langganan dan hanya nama pengguna dan password yang dibutuhkan. Pemeriksaan kuat masalah etika dikaitkan dengan penelitian lingkungan virtual menunjukkan bahwa percakapan dalam forum diskusi yang bisa diakses secara publik adalah tindakan publik yang secara sengaja dimaksudkan untuk konsumsi publik. Perekaman, analisa dan pelaporan isinya, dimana identitas individual adalah dilindungi, namun bukanlah merupakan pelanggaran etika jika melaksanakan penelitian dalam lingkungan virtual (Ess, C. AoiR Ethics Working Committee 2002; Eysenbach dan Till,2001; Glesne, 1999; Paccagnella, 1997; Frankel, 1999:King, 1996). Eysenbach dan Till (ibidem) menyatakan bahwa untuk menentukan apakah pemerintah terinformasi dibutuhkan, sebuah keputusan pada apakah penempatan pada komunitas internet adalah komunikasi "pribadi" atau "publik" harus dibuat. Mereka menambahkan:
Pembedaan ini adalah penting karena persetujuan terinformasi adalah dibutuhkan ketika "perilaku partisipan penelitian terjadi dalam sebuah konteks pribadi dimana individual bisa secara layak mengharapkan tidak adanya observasi atau pelaporan yang dilakukan."
Di sisi lain, peneliti bisa melakukan penelitian pada tempat-tempat publik atau menggunakan informasi yang tersedia bagi publik mengenai individual (seperti observasi naturalistik di tempat-tempat publik dan menganalisa catatan publik atau penelitian arsip) tanpa mendapatkan persetujuan. Ini seharusnya dicatat bahwa sebuah persetujuan etika untuk studi ini diberikan dari Etika dalam Human Research Committee di Charles Sturt University sebelum studi dimulai. Aplikasi untuk persetujuan etika adalah konsisten dengan standard untuk rangkaian penelitian etika yang ditetapkan oleh Charles Sturt University. Pada awal penelitian, antara pertengahan-Maret 2001 dan pertengahan-Juli 2001, proses observasi adalah sedikit tidak terstruktur. Peneliti selama tahap ini memasuki forum secara reguler tetapi dengan sebuah pandangan luas. Dia melihat pada acara-acara, aktifitas-aktifitas, dan perilaku-perilaku yang menonjol dalam forum dan merekam catatan lapangannya dalam sebuah jurnal. Observasinya dipengaruhi oleh apa yang dilaporkan dalam literatur sekarang pada komunitas virtual (lihat Jones dan Kucker, 2001; Preece, 2000; Rheingold, 2000; Kollock dan Smith, 1999; Wellman dan Gulia, 1999; Holmes, 1997; Jones, 1997; Turkle, 1995). Tahap yang tidak terstruktur memungkinkan peneliti untuk menjadi lazim dengan kultur komunitas virtual, sejarahnya, orang-orangnya, dan sifat aktifitas mereka. Selama tahap ini juga peneliti mencatat sifat-sifat menonjol dalam komunitas, dan membuat sebuah daftar pemeriksaan dari kategori observasi untuk penggunaan dalam tahap selanjutnya.
Dalam tahap terstruktur, observasi terkonsentrasi utamanya pada kategori-kategori, beberapa darinya, yang didaftar diatas. Selain itu untuk mencatat observasi mengenai topik-topik yang sehari-hari ditempelkan pada forum, peneliti juga menulis reaksinya sendiri, refleksi dan penafsirannya mengenai observasinya. Melakukan ini membantunya mengatasi masalah subyektifitas (dari seorang pengamat tunggal) dimana dia, pada tahap akhir penelitian, melakukan kompensasi dengan menggunakan triangulasi dengan data dari teknik lain seperti wawancara. Komentar-komentar yang mengandung wawasan pada perilaku partisipan atau yang hanya secara sederhana menarik disalin dan diterjemahkan secara instan dalam dokumen yang sama.
Menjadi Seorang Partisipan: Setting dan Proses
Untuk mempermudah perbandingan data, situs di mana peneliti harus bertindak sebagai partisipan diperlukan seserupa mungkin dengan situs yang diobservasi. Untuk mencapai hal ini, peneliti menggunakan mesin pencari khusus yang mendaftar sebagian besar forum di negara itu (ditemukan sebanyak 176 forum), dan selanjutnya menyeleksi beberapa untuk observasi sejenak, membandingkan mereka dengan situs dimana dia telah melakukan observasi tersembunyi. Dia selanjutnya bergabung dengan dua situs dan berpartisipasi selama beberapa hari sebelum memutuskan yang mana yang akan dipilih. Selanjutnya dia menghentikan partisipasi dalam satu situs dan melanjutkan dengan situs lain untuk sisa periode delapan bulan partisipasi.
Sekali lagi situs yang terpilih adalah sebuah forum web diskusi publik asinkron, bebas bagi setiap orang untuk bergabung tetapi membutuhkan ketentuan sebuah password dan nama panggilan untuk partisipasi. Peneliti mengikuti sebuah pendekatan sistematis di mana dia pertama kali mengamati komunitas selama beberapa hari untuk melazimkan dirinya sendiri dengan anggota, kultur mereka, kosakata yang digunakan dan sifat topik yang umum dalam forum. Setelah beberapa hari, dia mulai menjawab topik partisipan-partisipan lain sehingga dia bisa membuat kesan orang-orang disekitarnya, mendapatkan dirinya dikenal oleh mereka, dan juga membentuk hubungan timbal balik dengan anggota yang membuat mereka menjawab topik-topiknya di masa depan. Setelah beberapa hari melakukan hal ini, dia mulai mengirimkan topik-topiknya sendiri pada forum.
Dalam setting ini, peneliti juga mencatat catatan lapangan harian dalam sebuah jurnal serupa untuk yang digunakan dalam forum yang diamati secara diam-diam tetapi dalam kasus ini mereka adalah mengenai pengalaman virtualnya sendiri (menjadi seorang anggota) yang termasuk reaksi-reaksinya, refleksi-refleksi dan penafsiran-penafsiran. Meskipun ini tidak bisa dihindari untuk mengobservasi sambil berpartisipasi, dia tidak mengambil catatan lapangan observasional mengenai partisipan lainnya. Bagaimanapun, sebagai salah satu taktik untuk memvalidasi data yang dikumpulkan dari komunitas yang diamati, dia membuat perbandingan antara dua forum. Proses partisipasi dan pencatatan catatan lapangan mengambil dua hingga tiga jam setiap hari tetapi kadangkala ini membutuhkan lima jam, bergantung pada jumlah topik baru dan volume jawaban bagi topik-topik peneliti atau topik-topik baru yang dilontarkan oleh partisipan lainnya.
Seperti dengan forum yang diobservasi, komentar yang mengandung bahasa biasa, pernyataan mengejutkan, atau komentar, di-copy, diterjemahkan secara instan, dan ditempatkan di bawah teks asli. Semua komentar di-copy dari topik-topik yang ditentukan oleh peneliti.
Analisa Data
Data dari empat teknik berbeda, termasuk dua yang dibahas disini, adalah dianalisa ketika mereka dikumpulkan. Catatan lapangan observasional dan partisipasi harian dicatat dalam MS Word dan disimpan sebagai dokumen RTF, dengan sebuah dokumen tunggal yang mencakup satu minggu catatan lapangan. Contohnya, Obsv_W2_03_05_05.doc mewakili catatan lapangan observasional yang dikumpulkan dalam minggu kedua yang dimulai pada 3 Mei 2005. Pada akhir masing-masing minggu, dokumen RTF ini diimpor ke NVIVO (sebuah paket software untuk mengelola data kualitatif) untuk analisa. Ini berarti bahwa analisa catatan lapangan adalah dilakukan pada basis mingguan. Ini seharusnya dicatat, bahwa analisa adalah iteratif ketika dokumen observasional dan partisipasi dianalisa ulang ketika lebih banyak data dikumpulkan.
Catatan lapangan observasional dan partisipasi dibaca pertama dan kata kunci (dalam masing-masing dan setiap line) yang mencakup ide-ide tertentu adalah ditandai. Tema berikutnya berdasarkan pada kata kuncinya dibuat dan diubah ke dalam mode-mode dalam NVIVO. Selain fakta bahwa mode-mode ini mewakili tema-tema yang berkembang, mereka juga menyimpan semua data yang berkaitan dengan tema khusus untuk semua dokumen mingguan. Dengan kata lain, mode-mode ini menjadi keranjang di dalam yang mengandung tema spesifik dari semua dokumen-dokumen mingguan yang dimasukkan. Akhirnya muncul strukturisasi lebih lanjut atau pengaturan mode-mode kedalam kelompok-kelompok dan kategori-kategori berdasarkan pada konsep umum penelitian yang mereka agendakan. Tahap terakhir ini (proses kategorisasi) adalah iteratif, emergent dan iteratif.
Sampel dan Penemuan
Realitas Mengenai Komunitas Virtual dan Hubungan Di Dalamnya
Sebagian besar anggota aktif dalam komunitas menganggap forum sebagai komunitas "riil". Al-Anood, seorang partisipan wanita, yang menyatakan perasaannya pada komunitas dan anggotanya, membuat poin ini:
”Pada forum bahwa saya merasa bahwa ini adalah bagian dari eksistensi saya dan perasaan saya pada anggotanya keramahan dan cinta, hal-hal yang tidak mengijinkan saya untuk menulisnya di forum lain, saya mendekati anda dengan semua rasa terimakasih dan cinta. Forum ini adalah seperti rumah yang berisi antara dinding-dindingnya seseorang yang hatinya setia dan yang jiwanya bersahabat” (jurnal Observasi, Minggu 15, 24 Oktober, 2001).
Contoh lainnya yang mendukung kesimpulan diatas adalah ketika anggota secara eksplisit menggunakan kata "komunitas" untuk menyebut forum mereka. Thamer, seorang partisipan pria, yang menjelaskan bagi partisipan pria lainnya seberapa sulit untuk meninggalkan komunitas ini, menggambarkan hal ini:
”Masalahnya adalah bahwa saya jatuh cinta dengan komunitas ini. Saya merasa bahwa saya adalah salah satu anggotanya. Saya menghargainya. Dan setiap waktu saya memperketat tas pinggang saya (berarti mencoba pergi), saya menemukan diri saya tertahan, jadi saya membawa kembali tas pinggang saya. Saya tidak bisa. Dan saya menemukan banyak orang menghentikan saya (untuk pergi)”. (Jurnal observasi, Minggu 7, 18 Mei 2001).
Selain itu, pengalaman peneliti sendiri menegaskan penemuan ini:
Bagi sebuah forum untuk dianggap sebagai sebuah komunitas anggotanya harus merasakannya, atau membentuk sebuah realitas mengenai dia sebagai sebuah komunitas. Terdapat ratusan anggota dalam forum di mana saya berpartisipasi, tetapi saya hanya memberikan perhatian pada 30 hingga 40 anggotanya. Dan diantara 30 hingga 40 anggota ini terdapat sekitar 10 anggota yang benar-benar saya perhatikan. Bagi saya komunitas eksis hanya dalam pikiran saya dan ini terdiri dari 30 hingga 40 teman dan 10 yang paling dekat. Ini adalah komunitas saya; ini adalah bagaimana saya membentuk realitasnya. Hampir sama, anggota forum mungkin merasa komunitas saya adalah komunitas mereka atau bisa membentuk realitas berbeda mengenai sebuah komunitas yang berbeda dari komunitas saya. Ini berarti bahwa anggota forum mungkin memiliki komunitas yang berbeda dalam forum yang sama (jurnal partisipasi, Minggu 23, 13 April 2002).
Sebagian besar anggota aktif juga menganggap hubungan mereka, termasuk antara pria dan wanita, sebagai "benar" dan ”sejati". Kutipan berikut ini, diambil dari sebuah tempelan oleh seorang partisipan pria yang menyatakan kata perpisahan pada partisipan wanita, menggambarkan ini:
”Saya tidak pernah yakin mengenai keberadaan persaudaraan antara pria dan wanita khususnya melalui internet dan saya tidak pernah menulisnya (dia menunjuk kata "sister") ketika saya berbicara pada seorang teman wanita tetapi Allah memberikan kesaksian bahwa saya sekarang yakin akan hal itu melalui kamu. Saya tidak percaya bahwa saya telah mengekang lumpuh tidak bisa menulis, yang merupakan satu-satunya hobi saya, kecuali setelah saya membaca kata-katamu sebelumnya dan jika ini tidak menjadi sebuah kebanggaan palsu dari pria timur, air mata yang terkumpul di mata saya akan jatuh”. (Jurnal Observasi, Minggu 24, 3 Januari 2002).
Persamaan di atas menyatakan bahwa hubungan yang tetap hanya online, adalah antara mereka yang berkomunikasi hanya dalam forum, adalah tidak hanya memungkinkan, tetapi bisa jadi benar dan tulus. Mereka juga bisa menjadi intim seperti kutipan berikut ini yang diambil dari sebuah pesan Hamid, seorang partisipan pria, yang menanyakan ketidak hadiran teman wanitanya:
(nama dihilangkan) ”… ketiadaanmu semakin lama. Dan kerinduanku padamu sangat besar… Kami rindu untuk hari ketika mata kami mendapati tanganmu menulis. Apakah hari itu akan datang segera?” (Jurnal Observasi, Minggu 34, 28 Maret, 2002).
Perluasan Hubungan Dari Online ke Setting Lain
Partisipan dalam komunitas virtual Saudi Arabia, selain interaksi online mereka dalam forum, seringkali menggunakan email, chat, dan MSN Messenger untuk secara pribadi berkomunikasi satu sama lain. Soha, partisipan wanita, ketika berbagi pemikirannya mengenai partisipan pria yang pergi, menyebutkan bahwa dia berbicara dengannya pada MSN Messenger:
”…. Ini adalah benar bahwa saya hanya tahu kamu melalui forum dan sedikit percakapan MSN, tetapi Allah adalah saksiku bahwa kamu adalah seorang kakak yang tulus” (Observasi, Minggu 7, 15 Mei 2001).
Individual nampak telah menggunakan saluran komunikasi lainnya ini untuk melengkapi forum. Penggunaan bentuk komunikasi lainnya seperti pesan pribadi atau MSN Messenger oleh anggota komunitas virtual adalah serupa dengan penggunaan telepon dan email oleh orang-orang di dunia offline (nyata). Selain perluasan hubungan pada saluran komunikasi lainnya, sebagian besar partisipan dari jenis kelamin yang sama memperluas hubungan mereka pada media telepon atau tatap muka. Wafa, partisipan wanita, ketika membicarakan partisipan wanita lainnya, berkata:
"Hei, lihat seperti saya memenangkan kamu atas hahahaha (tertawa). Saya akan memberitahumu mengapa ketika kita bertemu malam ini, Ok!" (Jurnal observasi, Minggu 5, 29 April 2001).
Perluasan hubungan pada media telepon atau tatap muka menyatakan bahwa komunitas virtual tidak selalu tetap hanya online, tetapi bisa jadi menjadi setting offline. Ini adalah penting untuk dicatat bahwa, ketika partisipan pria dan wanita mengakui melakukan komunikasi lintas jender melalui email, chat dan MSN Messenger, tidak ada bukti yang cukup yang menyatakan bahwa partisipan pria telah bertemu tatap muka dengan wanita dari forum. Pembauran orang dewasa yang tidak berhubungan ini dari jenis kelamin yang berlawanan adalah dianggap salah dalam Islam, dan masyarakat Saudi khususnya, tidak menyetujui dan mentoleransi aktifitas ini. Untuk alasan ini, mungkin, partisipan tidak mengakui/ menerima untuk bertemu tatap muka dengan jenis kelamin yang berbeda.
Di mana, data menunjukkan bahwa perluasan hubungan pada setting offline (diantara para anggota dengan jenis kelamin sama) membuat hubungan antar partisipan tumbuh lebih dalam dan kuat. Al-Wafi, seorang partisipan wanita, berbagi perasaannya setelah rapat offline-nya dengan beberapa peserta dari Jeddah:
”Perasaan sensasional yang saya dapatkan setelah bertemu denganmu adalah sulit bagi manusia untuk menggambarkannya atau menyatakannya, tetapi saya selalu mengulangi bahwa ini adalah kesan kepemilikan, ya, kesan kepemilikan pada sesuatu adalah perasaan menakjubkan yang bisa memberikan pembenaran” (Jurnal observasi, Minggu 25, 12 Januari 2002).
Pengelompokan
Ketika perluasan hubungan offline membuat partisipan teman dekat, ini juga menyebabkan partisipan untuk membentuk kelompok (anggota menyebutnya "pengelompokan/ grouping"), yang terjadi ketika satu kelompok partisipan membentuk sebuah lingkaran, mendukung hanya diri mereka sendiri dan menghilangkan sisanya. Banyak partisipan yang memiliki korban pengelompokan, seperti Omar, seorang partisipan pria, menyatakan ketidakpuasannya dengan grouping dan secara berulang mengeluh mengenai hal ini pada anggota forum:
”Untuk tetap fit dan membuktikan dirimu sendiri kamu perlu untuk bergabung dengan grup seperti (nama diabaikan).. tetapi masalahnya adalah… ini tidak adil… Saya maksud bahwa apakah kesalahan pendatang baru yang berusaha untuk bergabung forum tetapi tidak bisa menemukan tempat bagi dirinya sendiri?” (Jurnal Observasi, Minggu 4, 21 April 2001).
Ini terlihat bahwa grouping tidak hanya secara sederhana didasarkan pada minat atau pengetahuan umum, tetapi lebih pada hubungan offline yang telah dibuat anggota setelah mereka bertemu dan mengenal satu sama lain online. Contohnya, anggota kelompok X, yang secara reguler bertemu di Riyadh, berbeda dalam hal kapasitas intelektual, gaya menulis dan minat, sekarang mereka mewakili sebuah kelompok kuat.
Di mana, efek grouping ini pada komunitas adalah besar. Ini nampak bahwa ini telah menjadi masalah besar bagi partisipan karena ini menyangkal perhatian yang sama pada orang yang berada di luar kelompok mereka. Ketika anggota satu grup menikmati banyak keuntungan, seperti kesan kekuatan dan pelekatan, dukungan kontinyu dari anggota grup lainnya dan, yang lebih penting, lebih banyak jawaban pada topik mereka, mereka yang tidak memiliki grup akan dirugikan. Contohnya, ketika seorang anggota pria terlibat dalam "perang berapi" dengan anggota lain yang bukan bagian dari grupnya, anggota grup menghina atau menyerang anggota eksternal dan bergantung pada anggota grup nya untuk membelanya dan "menyokongnya". Kutipan berikut ini, yang Baha (seorang partisipan pria) menulis dalam membela Samy (teman prianya dalam forum), menggambarkan hal ini:
“Pastikan saudaraku bahwa ini adalah antara kita melebihi sebuah persahabatan yang ada pada forum, tetapi ini menjadi… persahabatan yang sejati dan nyata, penuh cinta dan perhatian. Pastikan bahwa kita tidak akan mengijinkan orang lain untuk merusak gambar kita baik di depan kita atau di depan mahluk lainnya” (Jurnal Observasi, Minggu 33, 24 Maret 2002).
Referensi Cabul
Aspek negatif lainnya dari partisipasi dalam komunitas di Saudi Arabia adalah ekspresi tulisan yang akan dianggap memalukan untuk dinyatakan pada orang lain. Di sini kami membicarakan mengenai ekspresi yang memalukan untuk disebutkan dari sudut pandang kultur Saudi dan bisa jadi tidak dianggap memalukan bagi sudut pandang masyarakat Barat. Pertimbangan kutipan berikut ini, yang diambil dari sebuah tempelan oleh Ahlaam, wanita berusia tiga puluh empat tahun yang menggunakan "pria" sebagai metafora untuk ketidak-bisa-tiduran:
“Dan ketidak-bisa-tiduranmu masih menciumku. Saya telah terbiasa dengan ciuman panjang dan bodohnya. Dan saya terbiasa ketika dia membawa saya dengannya. Ketika dia datang dia membuka lengan kukuhnya padaku. Dia memelukku dan melingkarkan lengannya di tubuhku. Dia menciumku dan memperlama ciumannya. Saya berusaha untuk keluar dari pelukannya tetapi saya tidak pernah berhasil. Selalu dia lebih kuat dan memiliki tangan yang lebih panjang yang menarik saya padanya sebelum saya pergi”. (Jurnal Observasi, Minggu 24, 3 Januari 2002).
Meskipun operator ketat mengenai referensi yang cabul dan seringkali menghapus bagiannya, terdapat banyak kejadian di mana hal ini masih terjadi. Kejadian seperti diatas, khususnya ketika wanita terlibat, membuat partisipan malu. Ini harus dikatakan, bagaimanapun, bahwa referensi cabul tidak sering datang dari anggota yang terkenal dan berkomitmen karena mereka cemas akan reputasinya, dan image mereka dihadapkan teman-teman mereka. Praktek cabul dan praktek yang tidak diinginkan muncul utamanya dari anggota baru, anggota yang tidak dikenal atau anggota tidak reguler. Lebih lanjut, anggota umumnya merasa tertekan oleh keberadaan anggota yang lebih lama, yang menikmati respek mayoritas, untuk berlaku sendiri dan mengamati apa yang mereka katakan.
Kesimpulan
Observasi terselubung dan partisipasi telah terbukti efektif dalam penelitian komunitas virtual di Saudi Arabia. Selain biaya rendah mereka, kecepatan hasil, dan kemudahan akses pada sebuah area geografi yang lebih luas dan dari kenyamanan kursi peneliti, ini adalah jelas bahwa mereka memungkinkan peneliti untuk memberikan penemuan yang dalam dan kaya dalam gambaran. Melakukan observasi tersembunyi dan partisipasi pada dua komunitas virtual yang berbeda, tetapi serupa menghindari peneliti mengganggu aktifitas biasa komunitas dan perilaku alami dan memperkenalkan distorsi pada penemuan penelitian karena kebingungan perannya.
Melakukan studi pada komunitas virtual dalam paradigma konstruktivis memungkinkan peneliti untuk menggali komunitas ini dalam konteks kultural mereka sendiri. Lensa teori konsep pribadi dan sosial telah terbukti berguna untuk pemahaman komunitas virtual dibawah studi. Teori konsep sosial adalah berguna untuk memahami bagaimana anggota secara kolektif berlaku online. Contohnya, teori ini berguna untuk pemahaman mengapa partisipan secara umum tidak melawan nilai-nilai kultural dan bertemu dengan jenis kelamin berbeda offline sebagai hasil komunikasi mereka dalam komunitas virtual. Di sisi lain, teori konsep personal adalah berguna untuk memahami cara anggota secara pribadi membentuk kesan komunitas mereka dan persepsi mereka mengenai keberadaan orang lain. Contohnya, teori ini memungkinkan peneliti (penulis pertama) untuk memahami realitas yang dia bentuk sendiri mengenai pengalaman virtualnya dan melaporkan persepsinya mengenai hal itu dalam teks.
Penggunaan sebuah metode penelitian kualitatif untuk studi ini yang diberi pedoman oleh sebuah kerangka kerja interpretive juga terbukti tepat. Melakukan etnografi dari dalam paradigma konstruktivis memungkinkan pelaksanaan observasi tersembunyi dan partisipasi dalam cara yang menghasilkan hasil yang dalam, bermakna dan kaya sifatnya. Ketika sebuah metode penelitian kuantitatif digunakan, penemuan akan jadi faktual dan superficial. Penggunaan sebuah survei oleh kuisioner yang diisi-sendiri, contohnya, untuk penelitian tidak bisa memberikan gambaran kaya seperti yang ditunjukkan oleh observasi dan partisipasi.
Download full text version (pdf):
Explore Virtual Community in Saudi Arabia (English) [download]
Mengeksplorasi Komunitas Maya di Saudi Arabia (Indonesia) [download]
Greeting From Bromo Base
Peace. May God bestow the blessings of salvation to all of us
Welcome to my blog. It's my world... Selamat datang di blog saya...
This blog is containing my personal views, opinions and life experiences. It’s about some thoughts on social order, culture, politics, government, education and self development. All of which is related. Anyone can read this blog. I would like to share with you...
Saya Wawan, tinggal di Probolinggo, sebuah kota di Jawa Timur, Indonesia. Berdekatan dengan Gunung Bromo dengan panorama yang khas dan eksotik serta masyarakat Tengger yang unik, Probolinggo merupakan daerah menarik. Dari sudut kecil inilah saya ingin berbagi informasi dan pengalaman dengan saudara. Tentang pengembangan diri, pendidikan, budaya, politik, pemerintahan, pemilu dan ihwal terkait yang berhubungan dengan kehidupan kita. Saya sangat senang jika ada feedback dari Saudara.
Blakrakan saya di Dewan Pendidikan, Forum Tapal Kuda, KPU, Yayasan Wahana, juga di lembaga kajian sosial di Jawa Timur, Miracle Ways dan corat-coret saya di blog ini mungkin dapat mengajari saya tentang kehidupan. Hal mana yang saya perkenalkan kepada anak-anak saya, para Nikkolai dan anak-anak orang lain (yang mau).
Jika Saudara suka, silakan tour di blog saya. Dan jika Saudara mau, silakan gunakan artikel blog ini asalkan cantumkan sumber link-nya ya... Juga ebook yang ada di bagian akhir postingan, boleh kok diunduh.
Best regards,
Wawan E. Kuswandoro















No comments:
Post a Comment